Kamu Jahat

Kamu Jahat
Kisah Romansa


__ADS_3

(Sasra)


Acara baru di mulai namun perasaanku rasanya tidak enak saat Alvaro mengambil inisiatif tentang ide ini


"Ayo ikut aku " menarik tanganku lembut.


" Tapi ini mau kemana " terpaksa mengikuti rencananya


" Ada deh " terlihat dia sangat bersemangat dan tepatlah kami di wahana rumah hantu.


" Aku gak mau masuk " aku sangat terkejut dan aku mulai berontak dengan mencoba melepas genggamannya.


" Ayo dong, ini seru " menarik tanganku lagi kali ini lebih erat.


" Varo aku takut, ingat gak kamu terkhir mengajak aku kekuburan kakak dan Ibumu jam 11 malam itu belum puas " aku mulai dengan tatapan memohon.


Flasback on


" Sa temeni aku iya nanti ? " berkata secara langsung


" Kemana tumben kamu minta di temeni "


" Iya soalnya aku juga mau ngenali kamu ke kakak dan ibuku"


" Oke " tersenyum bahagia karena merasa kalau Varo serius sampai-sampai mau mengenalkan aku pada kakak sekaligus ibunya.


" Ingat jangan kau tarik lagi kata - katamu " senyum picik tapi aku tetap berpikir positif


" Iya "


.


Malam yang sunyi dan jam sudah menunjukan pukul 11 malam aku melangkah perlahan dan melihat sekeliling termaksud Varo yang ada di depanku.


Aku di bawah ke tempat yang mengerikan ini, memang Alvaro ini tak punya otak.


" Ini bukannya kuburan, kok kita disini " memeganga baju Alvaro yang ada di depanku melihat gelapnya tempat ini uhhhh... sangat mengerikan.


" Iya ini kuburan, kita mau berkunjung ke tempat kakak dan ibuku" aku tak tau kakak dan ibunya sudah meninggal pasalnya kami pacaran belum lama ini.


" Varo kenapa gak tadi siang mala malam begini " gerututku menarik - narik jaketnya


" Kalau siang aku gak bisa bebas lihat kakak dan ibuku udahlah jangan ngeromet terus ikuti aku ajah, kita hampir sampai " kamipun sampai di sebuah kuburan iya itu sepertinya kuburan kakak dan ibunya di menatap batu nisan mereka.


" Kak...... ibu..... aku datang, kalian pasti merindukanku karena aku jarang berkunjung maaf akhir - akhir ini aku sibuk tapi kali ini aku ke sini bawah kabar baik aku membawah pacar sekaligus calon istriku untuk menyapa kalian, lihatlah kak.. Ibu.. dia cantik, baik, dewasa aku yakin dia bisa mengurusku jadi tenanglah kalian disana " dia mengelus batu nisa keduanya terlihat ketulusan hati seorang pembawah onar.

__ADS_1


Aku menatapnya yang hanya terlihat cahaya remang - remang di wajahnya dan aku menepuk pundaknya untuk menyemangatinya tapi tiba- tiba ada yang melompat ke kakiku tersontak aku kaget dan memegang tangan Varo lalu aku pingsan. Beruntungnya aku hanya pingsan dan jantungku kuat .


Fashback off


" Kau ingat itu, aku tidak berani " menatapnya kesal


" Ada aku kok" menunjuk diri sendiri, matanya berkedip menggodaku.


" Kau mala senang, aku ketakutan "memalingkan pandanganku yang tadi menatapnya


" Iya sih aku senang soalnya kau imut banget kalau lagi takut ke gini, tapi aku gak akan biarkan kamu kesakitan " mencuil hidungku lalu tertawa


" Ayo dong" meyakinkanku


" Aku gak mau "


" Ayo dong..... ayo ...... ayo dong ....." dia


merengek-rengek bagai anak kecil


" Baiklah, tapi kalau aku pingsan ketakutan atau serangan jantung kau tanggung jawab "


" Oke gak masalah, tanggung jawab akan segalanya juga gak masalah " dia senyum genit.


Aku hanya membalas gombalannya dengan memiringkan bibir tanda aku sedang kesal.


"Ahhhh. ....pergi... pergi.... " aku memeluknya dengan erat


"Jangan takut dia sudah pergi " mengelus kepalaku dengan lembut


" Aku sangat takut "


" Baiklah ayo kita pergi dari sini"


Aku melalui lorong gelap dengan masih mengandeng tangan Varo serta menarik jaketnya


" Kenapa lorong - lorong ini gelap sekali dan hantu yang terlihat semakin banyak "


" Kau sangat penakut "


" Iya aku penakut, kau tau aku sangat penakut kenapa kau ajak aku kesini "


" Karena aku ingin sekali ini saja kau mengandalkanku " dia menatapku dalam-dalam


" Aku selalu mengandalkanmu secara tidak langsung " aku juga menatapnya dalam-dalam

__ADS_1


" Oke.... oke .... gue kalah ayo kita keluar sebelum loe pingsan karena loe berat "


" Varo,,,, urusan kita setelah selesai "



(Vira)


Aku bingung mau kemana tapi Deo melangkah cepat di depanku kurasa dia sudah menentukan wahananya dan aku lihat benda yang seperti kapan dan melayang kekanan - kekiri dia menatapku terlihat satu alisnya terangkat lalu dia memandang benda itu aku tau isyarat ini.


" Ayo dong ..... " dia menggodaku dan sesekali menyenggol lenganku


" Kau yakin, kau kan takut ketinggian lebih baik yang lain" menarik tangannya


" Aku yakin, aku tidak takut ketinggian atau jangan-jangan kamu yang takut " di menarikku aku tersentak karena tenaga Deo lebih besar dari pada tenagaku


" Gak ada iya, ayo kalau gitu jangan teriak mau turun sebelum selesai "


" Beres "


Sejujurnya aku tak perna naik ini jadi aku agak ragu pada diriku sendiri, wahhhh... wah.... batinku tapi aku gengsi mengakuinya pada Deo .


Kamu mulai menaiki wahana itu jantungku berdebar kencang dan saat benda itu bergerak aku merasa takut


" Ahhhh......haaaa...D......e.o si.....al " celotehku tak jekas sedangkan Deo hanya tertawa


" Vi...ra ..... ta.... kut..... ke..tinggi...an..."


setelah selesai aku bergegas sedikit menjauh dari keramaian


" Huekk..... huek... " rasanya lambungku akan keluar juga, saat itu juga Deo memberi air dan membantu mengelap mulutku


" Masih sakit ? " katanya lembut ternyata selama ini Deo selalu perhatian padaku tapi anggap sepele karena dia sering melakukannya dan bertindak seperti anak kecil aku tanpa sadar memeluknya


" Maaf Deo aku pacar yang seperti anak kecil kita selama ini berantem terus dan selalu kamu yang mengalah, maafi aku " dia menelus kepalaku dan membalas pelukkanku


" Itu lah seharusnya aku tinggalkan kamu dari dulu iya " dia tertawa aku mencubit perutnya


" Awwww... sakit oke...oke "


Aku berbisik tepat di daun telinganya


" Awas ajah kalau berani, ku bunuh kau "


Dia melepas pelukanku lalu menatapku aku hanya tersenyum manis.

__ADS_1




__ADS_2