
Alvaro
Aku tidak mau membuang berlian untuk sesuatu yang bisa pergi seperti dirimu. Aku mengampiri Sasra dan Pangeran di taman.
“Sasra.... “ Semakin mendekat
“Sudah selesai, Bagaimana kita mengatakan pada paman dan bibik “ Serunya yang seakan tidak terjadi apa-apa.
“Kau tidak mau bertanya tentang yang tadi “ Seruku yang merasa bersalah
“Tentang wanita itu, Aku tidak bisa perotes dengan hal yang sudah terjadi, Aku hanya bisa berjuang dengan sesuatu yang akan
terjadi “ Mencoba menenangkan aku
“Kau memang Sasra yang aku kenal selalu pengertian “ Mengelus rambutnya pelan
“Sejak kapan aku jadi orang lain, beginilah aku “ Serunya
.
Sementara di ruang tamu Vanes menangis dengan derasnya hingga didengar Anggrek sepupu Alvaro anak bibik dan pamannya.
“Kak Vanesa, Kok nangis gitu “ Menghampiri Vanesa dan coba menenanginya
“Siapa... siapa yang melakukan ini kak? “ Memeluk Vanesa
“Aku yang salah Grek, Alvaro sangat membenciku. Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa memaafkanku “
“Dimana kak Alvaro aku akan mengatakannya “
Tepat pada waktu itu Alvaro, Sasra dan Pengeran berniat masuk ke dalam bertemu paman dan bibik kembali untuk mengatakan tujuan awalnya kesana.
“Kak Alvaro.... “ Suara Anggrek menghentikan langkah mereka
“Ada apalagi Anggrek ? “ Seru Alvaro malas
“Kenapa kakak tidak memaafkan kak Vanesa “ Anggrek merasa tidak senang terlihat dari tatapan Anggrek
“Anggrek kamu gak tau urusan orang besar jadi jangan ikut campur, oke “ Seru Alvaro menatap Vanesa tidak suka lalu pergi mengabaikan mereka berdua.
“Bibik, Paman... “ Sudah ada di hadapan mereka
“Kenapa? Bukannya kau tadi bersama Vanesa “ Seru bibik dengan malas melihat Sasra dan Pangeran.
“Aku kesini mengundang paman dan bibik untuk datang ke pernikahan kami 3 hari lagi untuk menjadi waliku “ Seru Alvaro yang tidak
mau bertele-tele
“Kau menganggapku walimu tapi kau tak mau
mendengarkan aku, Kau kan tak butuh aku menikahlah “
“ Aku akan menuruti keinginanmu bibik kecuali
keinginan harus meninggalkan Sasra “
disaat panasnya perdebatan Alvaro dan bibiknya
“ Mama... kakak Alvaro ... papa... kak Vanesa
pingsan “ suara Anggrek teriak terdengar hingga kami semua langsung kesana
__ADS_1
melihat dan benar saja Vanesa sudah terkapar di lantai dengan berpangkuan pada
Anggrek
“ Kenapa dia Anggrek ?” seru Alvaro
“ Alvaro bawah dia ke rumah sakit “ seru bibik yang khawatir
Alvaro langsung membawah Vanesa pergi dengan mobilnya ke rumah sakit, terlihat sekali raut mimik wajah Alvaro yang sangat
khawatir sampai dia tidak memikirkan hal
yang lain.
Sedangkan Sasra ditinggal di rumah bibiknya
“ Kau ini perempuan tidak tau diri, Alvaro itu
sangat mencintai Vanesa lihatlah dia sangat khawatir aku berharap kau tau diri wanita murahan “ Sasra hanya bisa menahan perasaan sakitnya
“ Biarkan Alvaro yang memutuskan, aku tidak akan pergi lagi ini bukan demi diriku tapi demi anakku yang juga keluargamu. Aku permisi
bik “
Sasra langsung meninggalkan rumah kediaman bibik Alvaro
“ Allah sabarkan hamba mungkin ini adalah cobaan karena hamba pernah berbuat dosa besar itu “ membatin
Kaki ini masih melangkah dengan tertatih , pikiran masih penuh memikirkan apa yang dikatakan bibik Alvaro semua itu bukan tidak
mungkin untuk terjadi apalagi Vanesa itu adala cinta pertama Alvaro.
.
“ Apa yang terjadi dok ? “ dokter baru keluar dari memeriksa keadaan Vanesa
“ Ini biasa terjadi pada orang yang baru sembuh kemoterapi pak, kondisi badannya sedikit melemah “
“Kemoterapi ? Apa itu dokter ? “
“ Pasien baru sembuh dari penyakit yang berbahaya yang membutuhkan penaganan khusus seperti kemoterapi “ Alvao sangat terkejut dengan peryataan dokter
“Penyakit berbahaya dok, seperti apa itu “
“ Biasanya kanker yang ganas tidak bisa diatasi hanya dengan operasi “
“ Terimakasih dok “
“ Baiklah saya permisi dulu pak “ dokter
meninggalkanku yang terduduk di ruang tunggu.
Flashback On
Masa kecil Alvaro dan Vanesa sangatlah indah, hingga rasa timbul dalam hati kedua ingsang ini.
“ Cie,,, Alvaro deket banget sama Vanesa “ seru kak Popy kakak kandungnya Alvaro
“ Emmhhh... gak papa kan aku deket sama Vanesa “ bertanya pada Vanesa, anak kecil masihlah polos
“ Iya gak papa, Vanesa seneng kok Alvaro dekat sama Vanesa “ seru Vanesa tersenyum malu-malu
__ADS_1
Vanesa sangat dekat dengan Alvaro tidak ada yang tidak tau dengan kedekatan mereka kak Popy, Anggrek yang masih umur 6 tahun
sampai terkadang irih dengan perhatian Alvaro yang terbagi tidak lagi fokus
pada Anggrek, paman dan bibik.
Sampai suatu hari Vanesa menghilang tidak tau kemana ? Tidak ada kabarnya, orang-orang tau kalau Vanesa pindah keluar kota tanpa kata selamat tinggal dia meninggalkan Alvaro.
Tidak selang beberapa bulan Vanensa meninggalkan Alvaro terjadilah kecelakaan mobil yang merenggut kakak kadungnya Alvaro kak Popy.
Di masa-masa sulit itu tidaklah muncul Vanesa yang setidaknya menghibur saat itulah Alvaro membenci Vanesa yag pergi
meninggalkannya.
Tapi Alvaro saja bingung perasaan benci dan cinta itu sangatlah tipis terkadang kita
terkecoh dengan perasaan itu.
.
Disisi Vanesa
Awal mulanya Vanesa hanya merasakan sakit teramat sangat pada kepalanya hingga dia pingsan, papa dan mamanya yang sadar ada yang tidak beres pada puterinya segera di larikan di rumah sakit.
Disitulah di ketahui ada benjolan pada kepalanya Vanesa dan ini sangat berbahaya karena dekat dengan otak.
Rumah sakit itu tidak bisa mengambil resiko apalagi peralatan medis masih minimum jadi disarankan untuk membawah Vanesa ke luar negeri agar mendapat penanganan yang terbaik.
Sebagai orang tua akan melakukan apapun untuk anaknya hingga berselang dua hari mereka sudah bersiap akan pindah demi kesehatan Vanesa.
“ Vanesa ... tidak mau berpamitan dengan Alvaro, Popy “ seru mama Vanesa yang melihat puterinya sekarang nampak lesu, murung dan tidak sesemagat dulu.
“ Tidak ma... aku belum siap melihat pandangan Alvaro yang jijik denganku yang berpenyakit begini “
“ Huuuussss... jangan ngomong begitu sayang, Vanesa kan mau berobat “ mama Vanesa mencoba menguatkan anaknya ini
“ Vanesa bisa sembuhkan ma “
“ Bisa sayang, pasti bisa “ mama memeluk Vanesa terdengar suara paruh serak berat
“ Mama akan lakukan apa saja, jangan khawatir iya sayang “
“ Berarti nanti saja aku ketemu Alvaro saat Vanesa sudah sembuh “ dalam dekapan hangatnya pelukkan mama.
“Baiklah kalau itu maumu, siap-siaplah nanti malam kita akan berangkat “
“ Iya ma “
Cerita Vanesa bukan sampai situ saja, keluarga mengambil jalan kemoterapi dari pada operasi yang sangat berbahaya.
Tapi keadaan mengatakan hal lain dari sekian lama kemoterapi tidak mengalami perkembagan sampai keadaan Vanesa ngedrop total jalan yang harus di lakukannya hanya operasi yang kemungkinan gagal lebih besar dari keberhasilan.
Tepat hari dimana Vanesa akan menjalankan operasi adalah hari pemakaman kak Popy, keluarga Vanesa tau dan sesalu memberi tau kabar Alvaro ke Vanesa.
“ Bagaimana sayang apakah mama memberitahu Alvaro tentang keadaanmu “ seru mama yang kali ini menangis dia tidak bisa berpura-pura tegar lagi karena dia sadar mungkin sebentar lagi yag terjadi pada Alvao akan mereka rasaka juga.
“ Tidak ma,, luka itu sudah terlalu besar sekarang aku akan menambah luka itu, aku lebih baik mengilang tanpa meninggalkan jejak “ Vanesa berkata dengan mantap, senyumnya terukir indah tapi menyisipkan kesedihan yang amat sangat.
-Bersambung -
-Happy Reading-
__ADS_1