Kamu Jahat

Kamu Jahat
Putus asa


__ADS_3

___________________________________


Sean


Seakan jadi orang yang bahagia di balik penderitaan orang yang tersayang.


Dia menatap dalam dan bersorak dalam hati padanya.


"Kau memang akan kembali padaku Yuna" membatin dalam hati.


"Saya punya 5 persyaratan kalau ibu Yuna setuju saya akan jamin perusahan ibu tidak akan bangkrut " Memberi penawaran dengan tersernyum ramah.


"Baiklah,  apa itu? " wajahnya bukannya tenang tapi mala terlihat sangat gelisa.


"Minum dulu ibu Yuna selagi saya menjelaskannya " basa-basi dari Sean.


" 1. Perusahaanmu akan saya upayakan tidak bangkrut dengan seluru saham yang ibu Yuna punya jual denganku dengan gratis" Yuna yang tadinya duduk manis berwibawah kini langsung tersentak berdiri mendengar syarat dari Sean.


"Kau gila,  pak Sean ini sama saja pemerasaan."  Melihat Sean dengan rasa benci yang amat sangat.


"Ibu Yuna itu saja sudah saya bantu,  coba pikir tidak akan ada yang mau bekerja sama dengan perusahan yang sudah ada di ujung tanduk ke bangkrutan cuma saya kalau pun ada yang mau dengan perusahan ibu bukan untuk kerjasama tapi untuk menjual perusahan ibu dengan harga murah." Sean menanggapai Yuna yang emosi dengan duduk santai tidak bergerak dari tempat nyaman itu.


Yuna duduk kembali lalu memejamkan mata mencoba sesabar mungkin.


"Lalu apa lagi syaratmu? " mendengar itu bagai angin segar yang menerpa Sean sangat nyaman.


" 2. Menikah denganku " Kali ini persyaratannya semakin tidak masuk akal.


"Apa-apaan ini pak Sean,  ini di luar urusan perusahan" Marah Yuna.


"Oh...  Itu sih hak saya mau mengajukan persyaratan apa jika ibu Yuna tidak suka iya batalkan saja terserah ibu Yuna " tersenyum mengejek karena Sean tau saat ini Yuna tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauannya.


Yuna berdiri dan keluar dari ruangan itu,  tapi saat sampai di depan pintu tepat di depan meja sekertarisnya dia merasa semboyongan dan sangat pusing hingga Yuna jatuh pingsan di lantai sang sekertaris yang melihat itu terkejut lalu berteriak sampai Sean dengar.


"Ibu Yuna" teriak sekertaris Sean menghampiri yuna yang sudah tak sadarkan diri.


Sean yang mendengar suara risuh langsung keluar dari ruangan.


Melihat Yuna yang Terkapar Sean langsung menghampirinya lalu membawahnya kembali masuk ke ruangannya.


"Hubungi dokter pribadi, cepat dia suruh ke sini? " Bentak Sean pada sekertarisnya sebagai pelampiasan rasa kesalnya.


"Baik pak" sekertarisnya keluar meninggalkan Sean dan Yuna.

__ADS_1


Sean memandang dan membelai Rambut Yuna dengan lembut penuh dengan kasih sayang.


"Apa terlalu berat untukmu Yuna,  aku mau kau menjadikan aku sebagai sandaran, maafkan aku terlalu kejam tapi ini caraku walaupun ini terlihat kejam." Sean mencium kening Yuna tanda rasa sayangnya.


Beberapa saat setelah itu dokter datang lalu memeriksa Yuna.


"Bagaimana ke adaannya dok? " Tanya Sean sangat khawatir dengan keadaan Yuna.


"Terjadi mal nutrisi atau kebutuhannya dalam tubuh sangat kurang. "


"Ini yang cukup membahayakan."


"Maksudnya dok?  Kenpa dia bisa jadi mal nuterisi begitu." Sean seakan marah mengetahui keadaan Yuna.


"Pak Sean ini bisa terjadi karena gaya hidup ibu Yuna yang tidak makan atau diet terlalu ketat bisa juga terlalu sibuk bekerja sampai dia tidak mengurus diri sendiri." Mencoba menenangkan Sean yang sudah mulai tersulut emosi.


"Baik saya mengerti." Dokter pergi meninggalkan mereka berdua.


Sean merasa bersalah mengambil keuntungan dari kesusahan Yuna.


"Maafi aku Yuna,  tapi aku janji gak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun." Sean menyelimuti Yuna.


Sean keluar dari kantornya.


"Baik pak."


Beberapa saat makanan sudah siap di meja samping Yuna tidur.


Yuna mulai terbangun, mengetahui itu Sean menghampiri Yuna duduk di sampingnya.


"Kau,  kenapa kau ada di sini?" Yuna masih terlihat emosi dan sangat jengkel pada Sean.


"Seharus aku yang bertanya kenapa kau ada di kantorku?" Yuna dengan jengah langsung memandang sekitar ruangan  itu dan dia sadar kalau ini bukan kantornya tapi kantor Sean.


Yuna spontan langsung beranjak berdiri dan melangkah pergi tapi sebelum satu langkah Sean langsung menarik tangan Yuna karena Yuna masih lemas dia kekurangan ke seimbangan hingga jatuh di pangkuan  Sean.


"Siapa juga yang memperbolehkan kamu pergi dari kantorku ahhh...," Menatap wajah Yuna dengan dalam dan lembut tidak ada kesombongan sama sekali.


"Tadi kau tidak suka aku ada di sana." Dengan raut wajah sedih.


"Jika gak bisa membaca maksudku lebih baik bertanya dari pada sok tau sepertimu." Yuna tambah tak mengerti.


"Maksudnya...." Tanya Yuna.

__ADS_1


"Kapan sih kau mengerti apa yang ku maksud, lebih baik kamu istrihat di sini dulu lihat keadaanmu sangat tidak terurus." Tutur Sean yang perhatian pada Yuna.


"Ada yang harus aku urus, aku gak boleh di sini tanpa melakukan apa-apa" tatap Yuna berkaca-kaca.


"Terima tawaranku, aku pastikan perusahanmu aman tanpa di ambil alih ataupun hancur gulung tikar. Pikirkan baik-baik." Mengatakan dengan penuh keyakinan.


"Kau bisa menjaminnya Sean." Yuna mulai menangis seakan benar-benar putus asa.


"Iya aku akan jamin gak akan aku biarkan perusahanmu ini hancur. "


"Baiklah aku terima."


Yuna berkata terima tapi tangisannya semakin kencang tidak tau itu tangisan keterpaksaan atau kebahagiaan karena perusahannya bisa selamat dari ke bangkrutan hanya Yuna sendiri yang tau.


" Udah dong jangan nangis kebih baik makan." Sean bersikap lembut menyuapi Yuna makan.


Perlahan Yuna memakan makanannya.


"Kalau ke gini kan bagus." Sean tersenyum sikapnya seakan menghadapi anak kecil saja.


"Gak usah perlakukan aku gitu, aku bukan anak kecil tauk." Yuna membuang muka.


"Iya badannya yang udah gede tapi sikapnya masih ke anak kecil, makan ajah sampai lupa gini." Jawab Sean menyindir Yuna.


"Apaan sih."


Selesai makan Yuna berniat akan pulang dia merasa sudah cukup kuat untuk pulang.


"Sini aku antar kamu pulang, takutnya nanti kalau keadaanmu seperti ini lalu kamu memaksakan untuk menyetir mobilnya bukan selamat tapi malah jadi kecelakaan" ceramah Sean.


"Tapi.... "


"Gak ada tapi-tapian, ayo" Menggengam tangan Yuna di sepanjang koridor dan lif kantornya Sean hingga mengundang banyak mata dan omongan dari para karyawan di sana.


Yuna tak sanggup melihat orang-orang dia hanya bisa menunduk untuk sedikit menutupi mukanya.


"Apa kau terlalu takut atau malah malu? " Tanya Sean yang sadar akan tingkahku.


"Sean, kau ke terlaluan banyak sekali orang yang melihatku." kata Yuna.


"Iya biarkanlah."


-Happy Reading -

__ADS_1


__ADS_2