Kamu Jahat

Kamu Jahat
Masalah Baru


__ADS_3

Sudah berlalu lima hari,  keadaan Pangeran sudah membaik dan di perbolehkan pulang.


Alvaro


Di villa Yuna


" Kenapa kau sekarang pulang kerja langsung kesini bukannya kau punya rumah sendiri.  Ini bukan rumahmu " sungut Sasra ngomel pada Alvaro yang datang langsung yelonong duduk di sofa


" Aku kesini mau melihat anakku " seru mukaku memelas.


Aku tidak peduli dikatakan dengan orang lain sebagai cowok bucin asalkan bisa bersama mereka aku rela.


" Baiklah aku akan bawah Pangeran ke sini " Sasra melangkah ke kamar membawah Pangeran keluar.


" Jagoan papa " mengambil dari gendongan Sasra.


Sasra lalu pergi ke arah  dapur tak lama dia membawah secangkir kopi dan meletakkannya di meja tepat dihadapanku.


" Pangeran sudah mulai bisa berjalan, lihatlah dia mulai mengantuk pasti dia capek tadi siang dia sangat berusaha" mengelus rambut Pangeran yang lebat dan hitam.


" Coba papa gak kerja pasti bisa ngeliat kamu belajar jalan iya sayang,  tapi papa sudah lama berlibur waktu mencarimu itu makanya papa gak bisa bolos kerja lagi " aku memeluk Pangeran sangat kuat hingga dia merengek  menangis.


" Alvaro....  Kau menyakiti anakku " dengan cepat Sasra langsung mengambil dia dari dekapanku.


" Kenapa langsung mengambilnya dariku " berdiri menghampiri Sasra.


" Sudahlah,  dia capek.  Papa..  Pangeran capek mau tidur kan sayang " sambil sedikit menimang lalu berlalu ke kamarnya.


Aku hanya duduk minum kopi sambil membuka beberapa dokumen. Pekerjaanku sangatlah menumpuk seharusnya aku belum pulang jam 7 malam tapi karena mau bertemu Pangeran walaupun hanya sebenatar sebelum tidurnya.


Beberapa saat Sasra datang mendekat duduk tak jauh dariku.


" Kalau banyak pekerjaan seharusnya tidak usah datang " mengatakan dengan pelan.


" Aku bisa mengatur waktuku, ini " aku memberi kotak kecil untuknya ku taruh di meja dekat dengannya.


" Apa ini " mengambil  kotak itu dan membukannya


Sasra terdiam memandang kotak itu lalu meneteskan air mata tanpa suara


" Kau masih menyimpannya " Sasra menatapku dengan pekat.


" Dari setelah cincin itu ku berikan padamu iya itu milikmu sampai kapanpun. Tapi untuk yang ini aku harus mengulangnya " aku menggengam tangan Sasra kuat tapi lembut penuh dengan emosi.

__ADS_1


" Vegata Sasra, kau harus mau jadi istri dari Alvaro Mahesta  selama - lamanya. Kau harus jawab iya tidak ada jawab pilihan lain " menatap dengan serius.


Sasra menangis lalu dia mengangguk ada senyum bahagia walaupun mukanya sudah penuh dengan pelu air mata yang tak bisa berhenti.


Aku memakaikan cincin yang memang dari awal ku berikan.


Cicin itu khusus ada namaku dan nama Sasra bagian dalamnya yang  ku selibkan beberapa berlian kecil. Walaupun tidak terlihat, itu ku umpamakan seperti hati  yang hanya kami berdua yang tau betapa berkilau biarlah orang lain tidak tau.


" Besok sore aku akan jemput kau dan Pangeran kita ke rumah bibik "  menghusap air matanya


" Tapi...  " aku taruh jari telunjukku ke tepat bibir bagian tengahnya agar dia berhenti bicara


" Kita kesana hanya akan memberitahu kita akan menikah bukan untuk meminta restunya " aku tau kketakutan yang terpancarkan dari matanya sebisa mungkin aku meyakinkannya bahwa semua akan baik - baik saja.


Dia tidak berkomentar lalu kudekapkan dia ke pelukanku.


Tidak terasa waktu sudah sangat malam jam sudah menunjukkan 12:45  malam.


" Aku pulang dulu " beranjak dari kursi


" Kau pulang semalam ini " mengantarku ke arah pintu


" Besok aku masih kerja,  berkas ada di apartemen. Dan kau juga belum resmi menjadi istriku jadi aku harus menahannya " dia hanya tersenyum malu mendengar kalimat itu.


.


.


Beberapa hari ini aku sangat sibut sampai aku terkadang menginap karena itu aku sering menyuruh Vira mengantar baju dan keperluanku ke kantor.


Tapi pada suatu hari Vira mengantarku pakaian dan memang aku sudah lama tak pulang, setelah itu dia pergi tapi aku ada kelupaan menanyakan sesuatu hingga aku mengejarnya sampai depan kantor siapa tau dia belum pergi.


Tepat di jalan dekat kantor aku melihat dia berbincang - bincang bahagia dengan seorang laki - laki.


Aku kenal laki - laki itu.Dia Bayu yang dulu mengejar - ngejar Vira dan yang membuatku marah dia masuk ke mobil Bayu lalu pergi.


Malam ini aku sengja pulang dengan cepat padahal bajuku sudah di bawah Vira tapi rasa curiga dan cemburuku sudah sampai ubun - ubun.


Aku harap dugaanku salah tapi sayangnya saat aku pulang ke rumah jam 7 malam dia tidak ada.


Aku tunggu beberapa saat hingga ada suara mobil terdengar aku intip dari jendela kaca langsung tertujuh teras depan rumahku.


Dari dalam aku tidak bisa mendengar percakapaan mereka tapi aku lihat senyum terukir di bibir Vira tanpa paksaan sedikitpun.

__ADS_1


Karena terlalu emosi aku coba mengontrolnya dengan duduk ke sofa ruang tamuku.


Dia membukakan pintu dan langsung masuk.


Tatapan kami bertemu.


" Mas udah pulang katanya nginap " sebelum dia melangkah mendekat aku langsung mendekat ke arahnya lalu menyeret tangannya dengan kuat menaiki tangga.


" Mas... mas kenapa ? Sakit mas? "


Aku hempas dia ke kasur kami dengan kasar.


Kakiku satu kusinggahkan ke kasur dengan berlutut disamping badan Vira dan yang satu masih tegak bebas


Ku cengkram kedua pupuknya kuhapit dengan satu tepak tanganku.


" Kau sudah puas bercumbuh dengannya, kau kesepian karena terus ku tinggal "


Tangannya setia ada di pergelangan tanganku menahan cekraman pada pipinya.


Air matanya mengalir dan raut muka terkejut serta takut. Jujur aku tidak pernah bertindak kasar padanya tapi rasa marahku sudah di ubun - ubun.


Aku juga punya batas kesabaran walaupun sekalinya dia seorang yang sangat aku cintai.


" Apa sih maksud.... Mma..ss " suara semakin tidak jelas saat ku cengkram lebih kuat.


" Sa... Kit... Ma.. ss " kakinya merontah menendang asal untuk memcoba melepaskan diri.


Aku bangkit dari posisi itu untuk berdiri aku langsung membuka semua pakaian ku hingga tinggal bokser.


" Mas... Lebih baik kita omongi dengan baik - baik " aku langsung menindinya lalu ******* bibir itu dengan buas.


Aku ingin menyalurkan amarahku dalam ******* itu, ku pandang mata Vira dengan pandangan sedih, marah tidak percaya.


Kulepaskan semua pakainya, dia memberontak dengan sangat keras.


" Kenapa kau tak mau melayani suamimu sedangkan dengan laki - laki lain kau merasa terpuasi " melanjutkan membuka roknya.


" Mas... Berhenti.. "


" Hahaha... Kenapa kau suruh aku berhenti atau kau tak mau kalau kedok perselingkuanmu terlihat di sekujur tubuhmu " tertawa geli dan menatap tajam ke arah Vira.


" Aku tidak pernah selingku mas. Kita tidak bisa melakukan hal itu dengan keadaan kau penuh dengan amarah "

__ADS_1


Aku tidak mempedulihkannya hingga terjadilah malam yang panas penuh dengan gairah, amarah, tangisan serta pilu di hati masing - masing manusia ini.


# Kata salah paham lebih berbahaya dari sebila pisau. Salah paham bisa membunuhmu secara perlahan dan menyiksa sedangkan sebila pisau bisa membunuhmu lebih cepat.


__ADS_2