Kamu Jahat

Kamu Jahat
Perang Dingin


__ADS_3

Sore ini aku ada di depan gerbang rumah Sean rasa gugup dan takut untuk menekan bel namun jika di ingat - ingat untuk mendapatkan alamat ini sangat sulit, aku bertanya pada teman - temannya dan yang memberikan alamatnya adalah Andi padahal aku tau Andi tidak menyukaiku.


" Ting...... ting..... "akhirnya aku menekan bel tak lama ada wanita paruh baya membukakan gerbangnya.


Aku melihat rumah dengan halaman luas dan rumah bagus sekaligus besar "iya dek , cari siapa ?" suara lembut


"Saya teman kampus Sean, mau cari Sean "


" Oh cari den Sean, silakan masuk "


"Iya bu " kamipun masuk.


 


"Dari tadi den Sean cuma dikamar, saya panggilkan dulu"


" Baik buk" aku menunggu di ruang tamu dengan sedari tadi memegang bingkisan buah


" Dek kata den Sean silakan masuk ke kamar ajah " atas panduan ibu tadi dan mengikutinya di belakang.


" Kamu kok ada disini ? " dia duduk bersandar dengan bantal


" Tadi aku ke kelasmu, kamu gak masuk dan kata temanmu kamu absen sakit jadi iya aku jenguk".


"Duduk jangan berdiri ajah emang kamu lagi nagih utang, aku cuma kurang enak badan, maaf aku gak chat kamu "


" Gak papa, apa kamu demam ! udah minum obat ? " dia menggeleng


" Aku belikan obat " dia menarik tanganku


" Gak usah, aku gak suka obat, istirahat ajah ini pasti akan baikkan "


"Iya udah istirahat" dia berbaring aku mengambil plaster peredah demam milik Vira yang sering dia titipkan padaku dan aku memasangnya


" Apaan ini, dingin "


" Ini bisa meredakan demammu, aku kesana dulu "


" Iya " dia melanjutkan istirahatnya


" Bu bisa saya buat bubur disini ? " " bisa dek biar bibik saja yang buatkan , yang jadi masalahnya dek den Sean gak mau minum obat "


"Nanti saya yang bujuk bu "


 


Selagi menunggu ibu itu membuat bubur aku memikirkan caranya dan terlintas cara yang cersik.


Selesai itu aku ke kamar Sean dengan membawa obat dan makanan " Sean makan dulu biar baikkan "


"Aku gak selera makan"


"Tapi kamu harus makan, ayo duduk dan makan " menyodorkan sendok ke tangan nya


" Aku gak selerah " aku gak mau berdebat dengan dia apalagi dia sedang sakit aku menyuapi satu sendok bubur kearah mulutnya


" Akkkkkk.... hanya sedikit " aku mengangguk dan tersenyum


Beberapa saat berlalu telah lalui drama panjang cuma untuk menyuapainya sesendok makanan.


" Sudah...sudah aku gak sanggup lagi " baru 5 sendok dia sudah mengatakan sudah lebih sulit dari anak kecil membuat aku frustasi

__ADS_1


" Baiklah, sekarang kita makan obat"


"Aku ngomng aku gak suka obat " nada suara yang lebih tinggi dari biasa


Karena jengkel aku pergi dari kamar membawah sisa bubur dan meletakan ke dapur dan kembali tapi sebelum itu aku membuat obat itu ada di mulutku dan masuk ke kamarnya dan duduk didekatnya.


.


Sean


 


"Maafkan aku tadi kasar padamu " tapi saat aku minta maaf tiba-tiba dia...dia menciumku dia membuka mulutku dan memasukkan sesuatu yang begitu pahit ingin ku muntahkan tapi dia masih mencium dan terpaksa aku menelanya.


 


"Sangat pahit" rengekku saat ciuman kami berakhir, obat adalah sesuatu yang benar-benar tak ku suka emmmhhh dia memang keras kepala.


"Minum ini" memberikan segelas air aku mengambil dan meminum air yang tadi di berikan ke aku


" Kau juga kepahitan hahahha......." terlihat jelas saat dia mengambil airku dengan paksa


"Tertawa kau sekarang, ini semua karenamu "


"Tapi ini tidak adil kenapa ciuman pertama kita setelah berpacaran terasa pahit begini, aku mau lain kali lebih manis " gaya manja


"Tapi aku sangat mengantuk sekarang Yuna " tambahku lagi dengan raut muka tak sesemangat tadi


"Iyalah itu efek dari obatnya, tidurlah "


"Uhhhmmmm " dia menguap dan beberapa saat dia sudah tertidur lelap.


Aku mendengar dia mengigauk nama mantanya terasa sesak didadaku raut muka begitu cepat berubah ada rasa aneh yang aku rasakan amarah memuncak tapi ku tahan


" Dek gimana keadaan den Sean " wanita paruh baya yang datang


" Dia sudah tidur, saya permisi mau pulang bu"


"Tidak tunggu den Sean bangun "


"Gak bu, biarkan dia istirahat saya pulang dulu "


"Hati - hati di jalan dek" aku pergi tanpa ragu, sempat aku lihat ada perempuan masih remaja masuk rumah itu tapi aku tak peduli karena rasa kesal telah menguasaiku


 


Di perjalanan aku naik taksi tapi aku gak tau mau ke mana soalnya moodku sangat jelek nanti kalau aku pulang bibik akan khawatir dan mengatakkan ke ayahku.


Pilihanku adalah kedai kopi aku memesan kopi espreso kopi pahit sesuai hatiku


" Yuna !!! " Suara yang familiar dan benar saja saat kuliat siapa sosoknya.


" kak Deo"


"Kak minum kopi disini juga "


" Iya , niatnya mau beli untuk bawah ke kost tapi ada kamu aku minum disini deh"


"Kakak gak bersama teman"


"Gak, aku lagi malas"

__ADS_1


" Kalau Vira"


" Kami sedang cekcok, berantem"


" Kenapa, kok bisa kak"


" Ini mah biasa, mungkin karena hubungan kami sudah lama jadi berentem2 gitulah"


" Memangnya hubungan kakak sudah berapa lama ?"


"Sudah empat tahun setengah tahun "


"Ahhhh... serius kak, udah kayak berumah tangga ajah kak"


"Begitulah, udah lah gak usah dibahas, sekarang bahas kamu kenapa mukamu terlihat tidak semangat, mana cowok yang waktu itu"


" Dia sibuk"


"Oh... karena ini kau terlihat muram "


"Bukan begitu kak, lain lagi masalahnya"


"Apa masalahnya?"


"Kan aku punya teman, dia bertanya padaku tentang masalahnya tapi aku juga gak tau solusinya jadi aku ikut sedih"


"Coba ceritakan padaku "


"Temanku ini baru jadian baru sehari, saat itu dia tak bisa dihubungi ternyata dia sakit dan temanku menjenguknya saat menjenguknya tibalah dia akan istirahat saat cowok temanku tidur dia mengigauk nama mantanya jadi dia bertanya apakah cowoknya masih mencintai mantannya?"


"Bisa jadi sih, karena alam bawah sadarnya itu biasanya jujur, tapi itu hanya pendapatku"


"Oh ..oke nanti aku sampaikan pendapat kakak".


 


Karena masalah itu chat dari dia tidak ada satupun aku balas.


Ke esokkan harinya aku berangkat kampus seperti biasannya sepulang kampus aku melihat dia sudah ada di depan kelasku.


Aku bingung bagaimana menghindarinya aku benar - benar tak ingin terlihat konyol didepannya apa lagi moodku tidak juga membaik "Yuna ayo pulang bareng" dia mencoba mengajakku


"Aku ada kerja kelompok, jadi bhe....." pergi berlawanan arah pulang.


Besoknya dia ada didepan kelasku apa lagi alasanku "Yuna"


"Aku dipanggil dosen" terus saja alasan ku mengalir itu terjadi sampai hampir 1 minggu.


Untuk saat ini biarkan aku menenangkan diri apa lagi aku sudah lama tidak merasakan perasaan seperti pacaran.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2