
Ini semuanya menjadi Mengerikan bagai mimpi buruk sayang bukan mimpi ini nyata setelah aku melihat hasil dua garis biru yang terterah.
Aku bingung, kecewa pada diriku sendiri benar kata orang apa yang kau tabur itu lah yang kau tuai aku gak mungkin ngomong ke orang tuaku mereka pasti sangat kecewa padaku, kuliahku padahal tinggal satu langkah lagi aku memdapatkan gelar dan memakai toga itu semuanya kacau dan berantakan dan yang membuat aku bingung apa aku ngomong ke Alvaro kalau aku hamil anaknya yang ku takut bukan dia tidak mengakuinya namun sekarang dia sedang memiliki masalahnya sendiri atau aku guguri saja.
Hari berikutnya aku mencari informasi bagaimana cara menggugurkan kandungan, resiko, tempat dan biaya.
Hatiku bergetar ngeri saat aku lihat gambar-gambar aborsi yang sangat mengerikan aku seakan jadi pembunuh bila aku membunuhnya.
Karena hal itu dua hari ini aku terus memikirkan jalan terbaiknya yang akan aku ambil.
" Sayang aku baru pulang, aku lagi di bandara ayo ketemu aku akan kirim alamatnya " chat dari Alvaro
" Iya udah istirahat ajah kamu kan baru sampai "
"Gak usah, ada yang mau aku omongi "
"Baiklah aku otw "
" Apakah ini kesempatan untuk ngomong ke dia kalau aku hamil,,,, gak gak dia masih belum stabil aku tau banget dia itu sangat sensitif sebenarnya" dilema terus menghantuiku.
Sesampai di tempat yang di janjikan itu ternyata restoran kecil namun tempatnya nyaman namun anehnya sepi hanya diriku " silakan mbg masuk di meja itu " pelayan menuntunku ke meja yang seakan nemang sudah di pesan khusus untuk ku duduki
__ADS_1
" Makasih " beberapa saat aku menunggu lampu mati dan digantikan lampu-lampu kecil warna warni dan satu lampu yang terang yang mengarah arah luar dan terlihat seorang cowok datang.
Semakin dekat ternyata Alvaro kok aneh iya biasa ajah kalau dia datang apa semua yang ada disini fansnya pikiranku mencoba memikirkan apa yang terjadi disini saat sampai tepat di hadapanku di berlutut dan memberikan bunga mawar ditangan kirinya juga cicin di tangan kanannya yang berada di kota kecil.
Aku benar-benar syok dia melakukan ini " Will you marry me ? " kata-kata itu membuatku syok dan aku tanpa sadar menangis mungkin ini jawaban akan ke gundaan yang aku alami beberapa hari ini
" Kenapa kamu menangis" dia meletakan cincin dan bunga di meja dan memegang pipiku dan bertanya
" Aku bahagia Varo memiliki kamu " aku memeluk Varo dia membalas pelukkanku dan membelai rambutku dibelakang
" Gimana nih jawabannya ? " seru Varo saat kami masih pelukan
" Iya aku mau " dia memasangakan cicin di jari manisku kamipun makan bersama
" Seminggu lagi aku akan suruh bibik aku ke rumah untuk melamar kamu secara resmi jadi tunggu sebentar lagi soalnya aku masih ngurus berkas-berkas karena aku berhenti mendadak dari klub itu " kami mulai duduk berhadapan yang dibatasi oleh meja.
"Karena itu pekerjaan yang memakan waktuku, apalagi nanti saat aku menjadi suamimu dan menjadi ayah aku gak mau menyesal "
"Aku bahagia dia berkata itu aku yakin juga anakku yang ada dikandungan merasakan hal yang sama " membatin aku mengelus perutku, senyumku tak bisa disembunyikan lagi karena merasa senang
" Sayang kamu dengar papamu ngomng itukan " batinku
" Iya udah kalau itu keputusanmu, aku akan mendukungmu "
__ADS_1
"Iyalah itu kewajibanmu " senyum Alvaro terukir jelas
"Besar kepala" aku memonyongkan bibir lalu tersenyum bahagia.
Esokan harinya Pernikahan Vira
Yuna
Aku pergi ke pernikahan Vira sendiri karena aku gak berhak ngajak Sean karena iya kami gak ada hubungan apa-apa sedangkan Sasra
pergi bersama Alvaro
"Lama banget kamu baru datang " sahut Sasra yang disamping Alvaro
"Loe mah ada yang jemput, kalau aku gak ada "
"Sean mana ? " tanya Alvaro
"Jangan seola-ola lah "
"Hahhaaa... ayo kita berfoto selagi dia lagi cantik gitu " acara pernikahan Vira berjalan lancar aku seneng banget temanku sudah bahagia pada orang yang tepat iya Kak Deo adalah orang yang tepat karena dia selalu melindung Vira hingga saat ini.
__ADS_1