
" Duduk kamu " suara tegas bapaknya Sasra membuat merinding itulah yang dirasakan Alvaro.
Alvaro segera duduk di ruang tamu di ikuti Sasra.
" Sana ke dalam tiduri Pangeran " bapaknya melototi Sasra.
" Tapi pak... " melihat Alvaro merasa tidak rela pergi dari dekat Alvaro.
" Habis nanti Alvaro kalau aku gak temeni, bapakkan kalau marah gak ada ampun apa lagi Alvaro bukan anaknya " membatin yang masih memandang Alvaro takut.
" Sasra... "suara bapaknya meninggi membuat Sasra semakin menciut dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
Sebelum benar-benar masuk dia melirik Alvaro tapi di balas Alvaro dengan senyuman yang seakan mengatakan.
" Aku akan baik-baik saja ".
Percakapan mereka berdua sesama laki-laki yang menyayangi Sasra.
" Bagaimana ini bisa terjadi "
" Maaf saya pak ini kesalahan saya " Alvaro menjelaskan panjang lebar, teh sudah tersedia dibawahkan oleh Dinda adik kedua Sasra.
Teh itu pertanda bapaknya sudah siap meluangkan waktu sebanyak mungkin mendengar penjelasan anak mudah yang mengatakan calon suami akan anaknya.
" Kalau seperti itu bukan cuma kau yang salah tapi juga anakku ambil ahli, jadi bagaimana kelanjutan kalian " bapaknya terlihat tegas dan bijaksana.
" Saya ingin menikahi Sasra pak " dengan mantap tanpa keraguan sama sekali.
" Bagaimana dengan keluargamu yang kau katakan tidak merestui itu "
" Nanti teman saya yang akan mendampingi saya pak kalau paman dan bibik saya tidak datang " pandangan tidak berdaya terlihat jelas dari Alvaro.
" Kemana orang tuamu? "
" Sudah meninggal pak, hanya ada bibik dan pamanku sebegai keluargaku " muka Alvaro sangatlah sedih.
" Baiklah kalau itu keputusanmu, kau menikah secara agama disini saja lakukan dengan sangat sederhana agar tidak menyita perhatian orang "
" Baik pak "
" Kapan kalian akan menikah "
" Besok pak " Bapak Sasra sangatlah terkejut.
" Apa tidak terlalu cepat, bagaimana menyiapkannya "
" Semuanya sudah disiapkan teman saya pak. Besok malam kami akan menikah secara Agama nanti saat kami sampai di Jakarta kami akan mengurus secara sipil dan mengadakan pesta " dengan sangat semangat.
__ADS_1
" Apa pekerjaanmu nak " kini bapaknya Sasra sedikit melunak melihat keseriusan Alvaro.
" Kerja kantoran biasa pak, saya akan berusaha menafkai Sasra dan anak saya pak "
" Harta bisa dicari tapi kebahagiaan harus kalian pertahankan "
" Iya pak " senyum mereka di dua pria ini.
" Dinda bawah bantal sama selimut untuk nak Alvaro " meninggikan suara seakan memanggil.
Disisi Sasra sangat takut kalau bapaknya akan mencincang Alvaro.
" Tidurlah, kamu pasti capek dari perjalanan jauh. Sini ibu lihat punggungmu yang disabet bapak tadi " berada dibelakang Sasra.
" Gak usah bu... Sasra cuma sekali kena sabet bapak yang banyak Alvaro bu " mukanya gelisah.
" Tenang saja, bapakmu gak akan mukuli dia " ibu masih membuka bajuku lalu mengoles krim ke bekas sabetan yang terlihat memerah.
" Bagaimana aku bisa tenang, aku takut banget bu. Nanti kalau bapak bunuh Alvaro gimana " menggigit bibir bawahnya.
" Hussttt.... Ngacok kamu, bapak mau kenal lebih banyak sama dia bukan mau bunuh dia " ibunya memukul lengan Sasra.
" Udah tidur sana " sesaat setelah ibu berkata itu teriakan pabaknya terdengar yang mengatakan meminta selimut dan bantal membuat kegelisahan Sarsa sirna menjadi senyum bahagia.
" Nah senyum itu, tadi ngeyel kalau di omongi orang tuanya " ibunya pergi meninggalkan Sasra yang masih bahagia itu.
Malam jam 2 malam Sasra mengendap-ngendap menghampiri Alvaro.
" Varo... Varo... Pasti sakit punggungnya apa lagi dia kan gak pernah di sabet "
Sasra perlahan nurini selimut sampai kearah paha lalu menaikan baju dengan sulit soalnya keadaan menyamping.
Terlihatlah luka yang merah dan ada yang sampai berdarah sedikit membuat Sasra merasa ngeri sendiri.
" Isss... Kalau gak ada kamu aku pasti udah mati disabet bapak "
Mata Alvaro masih tertutup rapat dan damai sepertinya Alvaro sangat lelah dari awal berangkat sampai pas debat sama bapak pasti menguras tenagah.
Sasra mengoles pelan dengan krim luka ini, saat Sasra mengoles terdengarlah ringisan kesakitan dari mulut Alvaro tapi matanya masih setia menutup.
" Emmmhhhtt.... Sssiiiitttt... " beberapa kali terlihat dia benar-benar kesakitan.
Setelah selesai Sasra membenarkan baju dan juga selimut seperti semula.
" Kasihan.... Pasti capek banget iya hari ini. Maafi bapak iya Varo tapi kamu ayah dan calon suami terbaik untukku " Sasra mencium kening Alvaro sedangkan Alvaro hanya bergelinjak sebentar lalu terpulas kembali.
.
__ADS_1
Deo masih terus berusaha meminta maaf dan berbaikkan dengan istri tersayang.
Deo juga sadar harus perlahan tidak bisa terburu-buru kini dia berusaha dengan terus memberi kabar dan menanyakan kabar Vira dari chat walaupun rasanya seakan tak ada kemajuan karena chat dari Deo tak ada satupun yang di balas oleh Vira.
Dia menceritakan semua nasalah kantor termaksud masalah dia akan ke Bandung membantu Alvaro menyiapkan pernikahannya.
Tanggapan Vira masih sama hanya di baca.
.
Pagi itu di sudah melajukan mobilnya ke Bandung, tapi sebelum itu dia sudah memberi kabar pada Vira.
Saat sampai di kediaman Vira.
" Masuk... Saya panggilkan ibu.. bapak.. mbg Vira sama mas Alvaro " Deo sudah duduk di kursi kayu di ruang tamu.
" Deo... Lo udah datang " yang pertama menyambut Deo adalah sang direktur.
"Iya.. Gue udah siapai semua, kebaya, jas, penata riasan, penghulu sama beberapa makanan yang akan datang masih di perjalanan "
" Ehhh... Ada tamu toh, minum nak " Deo tersenyum manis untuk menunjukkan ke sopanan.
" Astaga ke Deo ibunya Sasra menyambunnya ramah banget ke Deo ajah menantunya sedangkan ke aku di sambut dengan sabetan tali pinggang, sial... gue irih banget " Alvaro membatin.
" Kak Deo kok kesini " Sasra juga menyusul kedepan mungkin penasaran.
" Membantu kalian menyiapkan pernikahan "Deo
" Gak usah repot-repot kak, cuma sederhana " Sasra
" Sudah saya siapakan semua, sudah terlanjur Sa " Deo.
" Tin.... tin.... " Benar saja mobil yang membawah semua persiapan sudah datang termaksud ngetringan.
"Itu pasti mobilnya, udah sampai. Keluarga tenang ajah semua sudah urus mempelai laki-laki " Deo.
Saat semua sudah beres malam ini jam 7 malam mereka akan melakukan pernikahan disalah satu mesjit disana.
" Siapa yang akan menjadi wali dari mempelai laki-laki " seru salah satu keluarga Sasra.
Deo mendekat untuk menujuk diri sendiri yang akan menjadi wali Alvaro tapi tiba-tiba suara yang dikenal Alvaro bernada biasa tapi bisa didengar oleh seluruh orang diruangan ini.
"Saya adalah walinya " Dia adalah paman Alvaro hanya sendiri tak ada yang mendampinginya.
" Paman.... paman datang " Alvaro menghampiri Pamannya dengan wajah bahagia.
" Iya paman datang, walau bagaimana paman adalah keluarga satu-satunya dan juga Pangeran sudah termaksud keponakanku, tapi bibikmu masih tidak mau datang ataupun merestuimu "
__ADS_1
" Gak papa paman, asalkan paman datang saja aku bahagia " Sasra datang dan menyalami dengan meletakan punggung tangan paman ke kening.
-Happy Reading -