
aku langsung memeriksa keadaannya dengan menyentuh dahinya dan membandingkan suhu tubuhku dengan suhu tubuhnya, suhu tubuhnya sangat dingin aku langsung memeriksa apakah dia masih ada denyut nadi dan masih bernafas untungnya masih " Alvaro..... Alvaro... " dia belum sadarkan aku langsung menghubungi bu sekertaris " hallo bu.... pak Direktur sakit, lalu bagaimana ini " " baiklah bu, aku akan bawah pak direktur ke rumah sakit " aku disuruh bu sekertaris membawah ke Rumah Sakit sedangkan di perusahaan Ibu Sekertaris memcoba mengendalikannya tapi seketelah percakapan selesai ada yang memegang tanganku " gak.... usah " suaranya sangat lemah " tapi pak direktur keadaan bapak ini harus di bawahkan kerumah sakit " "gak usah, ini maagku saja kambuh... ambil obat di lemari itu " dia menunjuk lemari aku pergi kelemari yang di tunjukan dan kebetulan cukup jauh dari ruang kamarnya " kenapa kau jadi seperti ini Alvaro... apakah kau hidup sesepi ini " air mataku menetes dengan cepat aku menyekanya dan pergi kekamar dengan membawah obat dan minum " ayo diminum " "iya " dia meminum obatnya dan langsung tidur selagi dia tidur aku memasak makanan bubur setelah itu aku merapikan semua tempat jujur tempat ini belum berubah posisi apapun terkadang aku terkenang masa-masa saat aku sering ke apartemen ini
__ADS_1
__ADS_1
menandakan iya
__ADS_1
ternyata hari-hari yang kau lewati setelah aku tinggalkan lebih sulit, sebenarnya ini bukan salahmu jadi jangan kau menyalahkan dirimu aku mohon diriku membatin dan terus melihat dia di tengah perjalanan " ada apa kenapa kau melihatku begitu, ada yang ingin kau sampaikan " "tidak pak " perjalanan kami kembali sunyi hanya ada suara lagi yang berputar namun suasana masih cangggung.