
___________________________________
Pesta Sasra dan Alvaro telah berlalu kehidupan kembali berjalan semestinya kecuali Yuna.
Dia seakan mendapat teror dari Sean dengan caranya yang unik itu.
Pagi itu Sean sudah ada di depan rumahnya, saat Yuna keluar hendak pergi kerja dia terkejut melihat Sean berdiri menyender dengan mobilnya tersenyum ceria.
" Hai sayang.... Ayo aku antar ke kantor " Yuna sangat heran dengab kelakuan Sean.
" Apa kepalanya terbentur dengan sesuatu iya pagi ini, dia sangat aneh" Batin Yuna.
" Minggir, aku mau ke kantor sendiri " Mendorong Sean menjauhi mobilnya lalu pergi tanpa mempedulikan Sean.
"Sayang... sayang... " Sean berteriak seperti orang gila.
" Maaf tuan, sepertinya nona Yuna tidak suka dengan anda." Sahut Satpam yang akan menutup gerbang.
" Ini juga lagi usaha untuk dapati hatinya pak" Sean mengatakan dengan lemas dan keluar dari halaman rumah Yuna.
Saat di kantor.
" Pak, saya mendapat isu kalau ada pesaing bisnis dari luar negeri masuk ke indonesia untuk memonopoli perusahaan-perusahaan di indonesia untuk menguasai perusahan di asia ini." Sahut sekertarisnya.
Sejenak Sean berpikir lalu dia mengambil keputusan.
"Baik itu isu atau tidak perketat keamanan server, cek semua peluang keuntungan serta suruh yang lain membuat terobosan sistem terbaru. Besok pagi-pagi saya ingin meraka mempersentasikan padaku. Bila tidak ada perkembangan pecat orangnya saya tidak mau ada para pecundang yang akan merobohkan perusahanku" Nada suara Sean tegas seperti pemimpin yang semestinya.
"Baik pak, saya undur diri " Sekertarisnya pergi keluar untuk melaksanakan perintah bosnya.
Sudah mendekati jam makan siang Sean pergi tapi saat menujuh ke arah luar dia di cegat oleh sekertarisnya.
"Maaf Pak, anda mau ke mana ? Nanti jam 2 ada pertemuan dengan rekan bisnis yang penting taun." Sekertaris itu tanpa rasa takut mengingatkan bosnya karena itu memang tugasnya.
"Saya tau, ini urusan pribadi nanti hubungi saya saja kalau saya belum ada di kantor " Melangkah maju.
"Baik pak " Sekertarisnya tidak bisa menghentikan Sean.
Siang itu dia ke kantor Yuna berdiri dekat dengan repsesonis untuk menunggu Yuna, terniat benarkan.
__ADS_1
Yuna yang baru keluar melihat muka Sean merasa sangat jengah.
" Kenapa kau ada di sini ? " Tanya Yuna ketus.
"Mengajakmu makan bersama" Dengan wajah yang ceria.
Yuna yang mendapat perlakuan seperti itu melewatinya tidak menggubris kata-katanya.
Sean yang dilewati Yuna begitu saja berjalan mengikuti Yuna.
Yuna tau Sean mengikuti langkahnya dari belakang merasa risih hingga dia tidak fokus berjalan.
"Kau tidak usah mengikutiku, saya sudah berkata saya tidak mau apakah anda tidak tau bahasa manusia. " Berjalan sambil mengatakan bahasa formal.
Karena sibuk mempermasalahkan Sean dia menabrak pegawai laki-laki di kantornya.
Hingga Yuna dan karyawan cowok itu terjatuh.
Sean langsung menghampiri laki-laki itu lalu mencacimakinya tiada ampun.
"Kau ini tidak punya mata, kerja kok gak becus, kamu pantasnya di pecat" Sean mengatakan dengan penuh amarah.
"Sean.... " Berteriak hingga semua pegawai yang lewat melihat kami.
"Ini kantorku, urusan pegawai di sini sepenuhnya adalah wewenangku, kamu sebagai orang asing di sini tidak berhak menentukan apapun untuk karyawanku" Mendapat perlakuan memalukan Sean hanya dia menatap sendu Yuna yang pergi meninggalkan Sean dan menyuruh karyawannya bekerja lagi.
Tak lama dia mengejar Yuna hingga ada di parkiran yang sepi.
" Apakah kau tidak bisa membuka hatimu kembali untukku? Hingga kau tega memperlakukan ku seperti ini, puas kau mempermalukanku" Sean terlihat marah tapi dia sekuat tenagah mengontrolnya.
"Saya kan sudah berkata kalau saya belum bisa menerima anda tapi anda mala memaksa saya. Sekarang siapa yang salah? Saya tidak pernah menyuruh anda mengejar saya? " Dengan egois Yuna masih menolak perasaannya.
"Baiklah, tapi aku gak akan ngelepasi kamu. Saya harus dapati kamu walaupun dengan cara yang kotor dan walaupun bukan dengan hatimu dulu melainkan ragamu, aku pastikan itu" Dengan nada mengancam dan penuh dengan penekanan.
Sean pergi dari hadapan Yuna dengan muka emosi sedangkan Yuna masih menatap punggung Sean yang semakin jauh.
"Apakah dia benar-benar akan melakukan hal yang buruk, Harus bagaimana aku? " Yuna merasa ketakutan.
"Aku yakin kau akan datang sendiri ke hadapanku Yuna dan bila itu datang aku tidak akan melepaskanmu walaupun dengan cara yang licik aku yakini itu" Sean membatin meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sean melakukan pertemuan bisnis kerjasama hingga kerjasama itu sangat menguntungkan untuk Sean.
Untung saja Sean termaksud orang yang profesional jadi dia tidak akan mencampuri urusan pribadi dengan bisnisnya.
" Pak saya mendapat kabar beberapa perusahan di indonesia sudah pada gulung tikar karena dapat serangan dari perusahan baru yang datang dari luar negeri." Memberi laporan dengan nada yang tegas dan penjelasan dengan rinci.
"Cari tau lebih luas siapa mereka? Dan apa motif mereka melakukan itu pada perusahan-perusahan di indonesia." Menatap sekertarisnya.
"Baik pak, saya akan selidiki lebih lanjut"
"Baiklah, kau bisa keluar"
"Banyak banget masalah ini, urusan Yuna saja seperti jalan di tempat tapi aku gak bolrh menyerah, aku harus bisa mendapatkan hatinya aku juga ingin hidup bahagia membangun keluarga dengannya" Memicit keningnya yang terasa berat akibat masalah yang terus datang.
Masalah perusahan luar itu ternyata sudah masuk dalam Jakarta dan Yuna tidak menyadari tentang isu itu.
Hingga satu minggu berlalu datanglah masalah pada perusahaan Yuna.
"Maaf Bu serpertinya data baes kita tersebar, dan itu membuat saham kita anjlok" Yuna sangat kaget hingga dia menggebrak meja lalu berdiri.
"Apa.... Kenapa bisa begitu? Kenapa kita sampai bisa kecolongan ?" Wajah Yuna langsung pucat lalu beranjak pergi ke ruang kontrol di ikuti sekertaris dari belakang.
Dia melihat sendiri data beasnya sudah di monopoli dan membuat kerugian yang besar, itu sangat membuat dia marah besar teriak-teriak.
" Maaf bu, kami lengah" jawab orang-orang yang berjaga di sana.
"Maafmu tidak berguna, lebih baik kalian cari solusi, kalau tidak kalian juga akan jadi pengangguran" Bentak Yuna yang tidak bisa menahan emosi karena kecerobohan karyawannya.
"Bu, ada telepon dari para pemegang saham. Mereka sudah mengetahui kabar anjloknya saham perusahan bu"
Itu bukanlah kabar baik itu malah membuat Yuna semakin stress.
" Buat janji besok pagi buat pertemuan khusus untuk membahas ini, dan untuk kalian cari solusi, perbaiki server " menatap para karyawan dengan sinis dan emosi.
" Baik bu " Jawab Sekertaris dan para pegawai serentak.
Yuna mencoba mencoba cara sebisanya tapi tidak bisa mengubah anjloknya harga sahamnya.
Walaupun dia adalah pemegang saham terbesar tapi kalau ini terjadi kerugian akan semakin besar dan dia tidak bisa membayar gaji para karyawannya.
__ADS_1
-Happy Reading-