Kamu Jahat

Kamu Jahat
Story Vira dan Deo


__ADS_3

___________________________________


Deo pulang ke Jakarta langsung ke hotel menghampiri Vira sang istri.


" Ting...  tong... " Vira mendengar bel pintu kamarnya berbunyi dia melihat di CCTV bel pintu dan tidak melihat seorangpun.


" Siapa sih....  Usil banget,  nanti aku lapor pengurus hotel ajah " Vira kembali ke dalam lagi.


" Ting...  tong...  "  Suara bel pintu berbunyi lagi karena geram Vira langsung keluar tanpa melihat CCTV bel pintu.


" Siapa sih... " dengan cepat Deo masuk ke dalam.


" Deo....  " dengan muka kesal.


" Kenapa...  Aku kan suamimu bolehlah masuk " langsung rebahan di kasur.


"Katanya ke Bandung kok tiba-tiba langsung disini ajah "  muka sebalnya terlihat jelas.


" Syukurlah emosinya sudah reda tidak lagi raut muka marah dan sedih yang dia perlihatkan" Deo membatin memandang sang istri pekat.


" Apaan sih lihat aku ke gitu banget " Vira melihat pakaian seakan mengoreksi cara berpakaiannya.


" Aku kangen " masih menatap Vira pekat.


" Inget aku masih marah, jadi gak usah mesum " mencaci maki.


Deo bangkit dan semakin mendekat lalu memeluk Vira dari depan.


" Sebetar ajah,  aku kangen banget. Untung kamu baik-baik ajah sekarang " tadinya Vira tak membalas pelukan Deo tapi perlahan setelah kalimat itu terucap Vira mengelus punggung Deo dengan pelan.


" Jangan pernah ke gitu lagi,  kalau ada apa-apa tanya jangan langsung menghakimi.  Kita ini suami istri kak sebelum berumah tangga seharusnya kita memperdalam rasa percaya satu sama lain " Deo merasa pundaknya sedikit basah karena Vira menangis.


" Maafi aku... Sejujurnya aku takut... Sangat takut...  Kamu ninggali aku "  mengelus rambut Vira dan semakin mempererata pelukkannya.


" Kenapa kau takut aku meningalkanmu,  itu gak mungkin kak. Waktu aku ngomong mau cerai itu ajah karena emosi tapi masih itu membuat aku gak tenang "


" Aku minder dengan orang-orang,  aku bukan dari kalangan keluarga kaya, rumah seadanya,  aku tidak bisa memanjakanmu dengan uang bulannan yang tinggi.. " berhenti sejenak


" Dan saat aku lihat Bayu menggandeng tanganmu mengiringmu masuk ke mobil bagusnya itu membuat aku seakan tidak berguna " suaraku mulai serah hampir saja tak terdengar.


" Sudah cukup,  aku Vira kak uang bukanlah masalah untukku. Kau belikan aku es krim saja aku sudah bisa tertawa bahagia bersamamu "


Deo melepas pelukannya lalu memandang wajah Vira dari dekat.


" Besok ayo kita pulang "


" Aku belum bisa kak,  aku masih trauma beri aku waktu kak " menunduk dan menjatuhkan pandangannya ke lantai.


" Baiklah,  kalau itu mau mu,  tapi jangan lama-lama. Uangku bisa habis kalau kau lama-lama disini " berbisik di telinga Vira.

__ADS_1


Vira mundur satu langkah dan memandang Deo jengah lalu memonyongkan bibirnya.


" Dasar pelit " meninggalkan Deo masuk ke kamar mandi.


Vira keluar kamar mandi.


" Mandi gih...  Aku udah siapi air hangat,  kamu pasti capek malam gini langsung ke Jakarta "


Deo akhirnya mandi sedangkan Vira tidur mrmiringkan diri ke arah pintu kamar mandi seakan menunggu sang suami.


Keluarlah Deo dengan rambut basah dan muka segarnya.


Dengan tinggi badan terbilang cukup, tubuh sedikit kerempeng sih tapi rambut hitam lebam dan warna kulit putih krim perpaduan yang bagus.


Vira menatap Deo seakan matanya tak berkedip padahal Deo sudah memakai kaos singletnya dan celana pendeknya.


" Kenapa kau menatapku begitu,  kau mau bermain....  Sayangnya aku sedang sangat capek.  Besok saja iya " melangkah mendekat.


Muka Vira memerah lalu membuang muka.


" Pikiranmu itu yang mesum, aku juga mau tidur kok " Deo sudah ada di belakang Vira lalu memeluknya dari belakang.


" Udah tidur jangan marah-marah terus. Emmmhhh...  Akhirnya tidur gak sendiri lagi " dibenamkannya kepala Deo kerah leher Vira, tangannya masih setia melingkar di pinggang Vira begitu juga kakinya menindih kaki Vira seakan Vira adalah bantalnya kesayangannya.


Tapi Vira menikmati tanpa protes toh dia memang rindu bersama laki-laki ini.


Baru beberapa jam meraka berlalu tidur, dinginnya malam saja masih terasa tapi Vira sudah bangun dan mencoba membangunkan Deo dengan menggoyakan lengannya pelan.


Sejenak Deo menggeliak dan sedikit membukakan mata tapi kemudian memejamkan mata lagi.


Segera Vira goyangkan lagi sebelum Deo kembali terpulas tidur.


" Ayo dong kak bangun... " Suara Vira lebih keras.


Akhirnya Deo bangun dengan mengucek matanya lalu memandang kearah fentilasih jendela lalu mengambil ponsel di nakas.


Deo melihat ponselnya lalu menunjukan ke Vira.


" Vir... Ini masih jam 2 malam, kenapa kamu banguni aku " duduk di penyanggah kasur.


" Aku laper pengen sate " Deo menghela nafas frustasi.


" Yang benarlah dek... Mana ada sate jam 2 malam. Tidur ajah lagi yuk, besok kita beli " memandang Vira memohon.


" Aku gak mau, aku mau sekarang kalau kamu gak mau gak nemui aku lagi " Deo terkejut dengan omongan Vira.


" Yaelah... Baru ajah baikkan masa mau berantem lagi. Apa Vira ngerjai aku iya, astaga niat banget nyampek jam 2 pagi gini. Oke aku akan bukti ini mah gak seberapa gampang.... " membatin Deo.


Deo mulai beranjak lalu memakai jaketnya dan menggenggam kunci mobil.

__ADS_1


" Mau jadi nih " serunya yang terlihat sangat girang.


" Iya nih aku berangkat, tunggu iya aku cari. Sate apa? "


" Sate apa ajah tapi pedes iya " Deo mengangguk lalu pergi.


" Sabar.. Sabar Deo, dia hanya menyuruhmu mencari sate bukan loncat dari menara efel, ini demi rumah tanggamu " mengomel pada diri sendiri.


Selang 1 jam kurang 10 menit Deo kembali ke kamar hotel dengan membawah sate ayam satu bungkus sate kambing satu bungkus.


Deo takut kalau dia tidak suka sate ayam maka Deo nanti akan disuruh membeli sate kambing.


Vira duduk di sofa menanti Deo.


" Sepertinya Vira benar-benar lapar dan pengen sate " membatin Deo.


" Lama banget, udah laper " rengek Vira.


" Nih " aku menyodorkan bungkus yang berisi sate.


Dia memakan sate ayam dengan lahap, disela-sela memakan sate itu dia bertanya pada Deo.


" Kok beli dua bungkus...? Ini bagian kamu? "


" Gak... Aku udah kenyang, iya siapa tau kurang, habisi ajah. Pelan-pelan makannya dan juga ini pedas " memberikan satu botol air meneral dihadapan Vira.


" Gak ada pedas, ini enak kalau kamu gak mau aku habisi ah " kembali memakannya dengan lahap.


" Sejak kapan Vira tahan makan pedes gitu, perasaan dia lebih suka makanan manis. Udahlah itukan maunya " membatin Deo.


Deo merasa aneh dengan istrinya tapi deo memaklumi mungkin saat mau menenangkan diri Vira mencoba hal-hal baru seperti makan-makanan pedas, makan tengah malam itulah yang ada dipikiran Deo.


Selesai makan mereka kembali terlelap hingga matahari menghampiri mereka. Kali ini Deo lebih dahulu bangun dan langsung mandi, berpakaian santai karena hari ini dia libur.


Di sofa Deo memainkan ponselnya berniat memesan sarapan ke hotel ini. Tapi sebelum itu Deo kaget dengan kelakuan istrinya itu yang tiba-tiba berlari ke kamar mandi padahal baru bangun.


" Hoeekkkk... Hoeeekkk... " suara nyaring itu membuat Deo segera ke kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi pada Vira.


" Kamu kenapa sayang " menepuk-nepuk pelan punggung Vira agar sedikit mengurangi rasa sakit pada saat muntah.


" Gak tau " menggeleng-geleng tidak bisa meneruskan kata-katanya karena dia langsung terduduk disebelah wastefel.


Deo merasa sangat kasihan pada istrinya dia pun menggendong istrinya ke kasus kembali.


" Ayo kita ke rumah sakit" Deo terlihat cemas.


" Mungkin cuma maag dan stres beberapa minggu ini " Jawabnya lirih dan lemas. Vira


" Maafi aku, ini semua karena aku. Udah beberapa hari ke gini " Deo

__ADS_1


" Baru kemaren, udahlah jangan di bahas biarlah berlalu sekarang kita fokus memperbaiki agar hal seperti itu gak terjadi lagi " membelai wajah Deo agar menjadi lebih rileks.


-Happy Reading -


__ADS_2