
___________________________________
Rapat antar pemegang saham berjalan.
"Ini tidak bisa di biarkan begini Ibu Yuna, kita akan mengalami ke rugian besar. Walaupun saham saya tidak terlalu besar." Pemegang saham 1
"Iya ibu Yuna, kita coba menjalain kerja sama kr perusahan besar lain seperti perusahan pak Sean seperti waktu itu untuk perlindungan" Pemegang saham 2.
" Bukan saya tidak mau tapi perusahan pak Sean belum tentu mau dengan keadaan yang sudah di ujung tanduk ini" seru Yuna yang ver-ver an.
"Yang bisa menyelamatkan perusahan ini adalah kerjasama ke perusahan yang besar seperti perusahaan pak Sean, tidak ada pilihan lagi bu Yuna " tambah pemegang saham 3.
"Kami akan menunggu keputusan dan jalan keluar dari bu Yuna selaku direktur di sini " talak dari pemegang saham 4.
Pertemuan saat itu berakhir tanpa membawah hasil yang jelas dan itu membuat Yuna semakin bingung.
Di kantor Yuna terlihat sangat kacau dengan rambut terlihat berantakan.
"Apa yang harus ku lakukan, aku gak mau perusahan peninggalan dan hasil jerapayah papa jatuh gulung tikar di tanganku" Membatin sambil mengusap muka capek.
"Tok... tok.. "
"Masuk"
" Permisi, bu! Apakah saya pesankan makanan untuk ibu, dari tadi ibu belum makan " Sekertarisnya datang menawarkan jasanya sebagai tugasnya yang mengetahui bosnya belum makan.
"Saya gak lapar, kamu bisa kembali bekerja" Yuna kembali menatap leptopnya dengar bingung yang masih memikirkan masalah perusahaa.
Sang sekertaris kembali ke tempat untuk kerja.
" Aku gak akan biarkan perusahan ini roboh, apapun akan aku lakukan demi peninggalan papa"
Yuna menekan beberapan no fi telpon kantor depannya.
" Buat janji dengan perusahan - - -"Itu adalah perusahaan Alvaro.
"Baik bu " jawab sekertaris.
.
Perjanjian dengan Alvaro di salah satu cafe terkenal untuk membahas masalah bisnis.
"Ibu Yuna, selamat siang" formalitas yang di perlihatkan sebagai seorang pemimpin.
__ADS_1
"Selamat siang juga pak Alvaro, silakan duduk" jawab Yuna sopan.
"Ada gerangan apa nona Yuna menghubungi perusahan kami" seru Alvaro terang-terangan.
"Saya mau minta tolong padamu Alvaro, perusahaanku mengalami difisit diserang perusahaan lain" menatap Alvaro penuh harapan.
"Yuna... Saya ingin sekali membantumu apa lagi saya punya hutang budi karena telah menolong Sasra dan anakku tapi ini berhubungan dengan para karyawanku mereka juga punya keluarga dan perusahanku sebagai sumber uang untuk kebutuhan mereka. Saya tau kabar tentang Ghost yang menyerang perusahan-perusahan besar di Indonesia dan itu memang sangat berbahaya" Alvaro menatap Yuna dengan serius.
"Jadi kau tidak bisa membantuku" Yuna semakin ketakutan.
"Saya bisa membantumu asalkan ada perusahan lain kalau cuma perusahanku tidak bisa menyokong perusahanmu" Jawab Alvaro jujur karena dia tidak bisa mengambil resiko terlalu besar.
"Baiklah, saya akan cari" Yuna menggenggam ponselnya khawatir.
"Kenpa kau tak minta bantuan pada Sean, pikirkan perusahanmu buang ke egoisanmu, saya yakin perusahan Sean bisa membantu dan saya akan ikut ambil, coba pikirkan" Alvaro memberi solusi dari hasil pemikiran sebagai seorang pemimpin perusahan yang tau kekuatan perusahan lain selain perusahannya sendiri.
"Saya akan coba pikirkan lebih lanjut, terimakasih atas sarannya" Pertemuan mereka berakhir.
Di perjalanan Yuna terus memikirkan saran dari Alvaro untuk meminta kerjasama dengan perusahan Sean.
" Oh Tuhan, kenapa harus seperti ini. Tidak ada kah jalan lain selain minta tolong pada Sean" Yuna sejenak memejamkan mata tapi belum 5 menit langsung terbangun.
"Ini gak bisa terjadi mau gimana aku harus minta tolong pada Sean walau harus berlutut padanya" Yuna memegang ponselnya lalu menyuruh sekertarisnya untuk membuat janji sore ini Yuna akan ke kantor Sean.
Merasa dapat lampu hijau Yuna langsung ke kantor Sean tanpa pikir panjang ataupun gengsi.
"Ini semua aku lakukan untuk mempertahani warisa papaku" batin mendalamnya Yuna.
Saat sampai di kantor Sean.
"Permisi, saya mau bertemu dengan pak Sean, saya sudah membuat janji"
Bertanya dengan repsesonis.
"Dengan bu Yuna ?" dengan ramah.
" Iya saya sendiri" seru Yuna.
"Silakan masuk ibu, pak Sean sudah menunggu di ruangannya".
Yuna langsung ke arah ruangan yang tertulis Direktur Sean.
"Tok... tok.. " Ketokan dari Yuna sebagai formalitas.
__ADS_1
"Masuk"
Yuna masuk dan melihat Sean masih sibuk dengan berkasnya lalu melihat Yuna masuk dia bangkit dan mempersilahkan Yuna duduk di sofa khusus untuk tamu yang satu ruangan dengan tempatnya kerja.
Sean menekan beberapa angka pada telpon kantornya.
"Bawahkan 2 cangkir kopi susu, cepat saya tunggu" setelah mengatakan dia langsung menutup dan duduk di hadapan Yuna.
"Ada apa ibu Yuna datang ke kantor saya" Tersenyum ramah seakan mereka memang teman baik pada hal mereka belum lama saling bersitegang.
"Saya ingin menawarkan pak Alvaro untuk bekerjasama dengan perusahan saya " jawab Yuna dengan sangat hati-hati.
Namun reaksi Sean sangat di luar dugaan.
Dia tersenyum namun saat kita melihat senyum itu malah merasa merinding.
"Tawaran atau ibu Yuna mau minta tolong pada saya" Ejek Sean memandang Yuna dengan tatapan tidak bisa terdeteksi sama sekali.
"Sean.. Sebenarnya kau sudah tau, untuk apa kau bertanya tadi ? " Yuna seperti sangat di hina.
"Saya tidak tau tapi saya hanya menebak saja, apakah perkataan saya ada yang salah ibu Yuna? " Sean masih tak mau kalah ini bagaikan ajang balas dendam.
"Sean sengaja membuatku marah, aku harus bersabar dan tenang ingat Yuna perusahan papa gak boleh bangkrut " Membatin Yuna menghembus nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan untuk menenangkan hati.
"Baiklah saya akan terus terang saja, saya ke sini memang untuk meminta tolong agar pak Sean mau membantuk perusahan kami yang sedang defisit mengalami pemonofolian saham hingga saham perusahan kami anjlok, minta bantuan perusahaan bapak untuk bekerjasama dengan perusahan kami. Bukan cuma perusahan bapak Sean tapi ada perusahaan --- yang siap ikut" Dia mengatakan hal itu dengan penuh pengharapan agar Sean mau membantu.
Tapi dia malah tertawa dengan keras.
"Hahaha..... Hahahaaa.. "
Yuna yang melihat reaksi Sean sangat bingung dia yang menjelaskan panjang lebar itu bukan melucu tapi kenapa Sean sampai tertawa seperti itu.
Setelah Sean selesai tertawa.
" Kenapa bu Yuna sangat pede menawarkan kerjasama pada perusahanku yang sudah di amabang ke bangkrutan seperti itu, itu sama saja saya menarik pelatuk pistol ke arah kepalaku sendiri" tersenyum sekilas lalu mengucapkan lagi.
"Bunuh diri itu" Yuna terdiam mendengar perkataan Sean karena dia sadar apa yang di katakan Sean semuanya benar.
"Baiklah kalau pak Sean tidak menerima tawaranku, saya akan cari tawaran ke perusahan lain" Jawab Yuna dengan sangat lesu dan pucat.
" Hahhaa... Perusahaan lain juga akan langsung menolakmu, aku bisa membantu tapi ada beberapa syarat" tambah Sean.
"Apa itu? " Yuna seakan mendapat harapan baru.
__ADS_1
-Happy Reading -