
Kebahagiaan tidak luput dengan cobaan itulah yang terus kita rasakan.
Laki-laki berbaju navi itu bangkit dan menghampiriku
"Apakah kau menghindariku Andini." Menatap Andini pekat.
"Bro... bukan seperti itu, Andini memang sedang tidak bekerja hari ini." Tutur Alex yang langsung menuntun Andini untuk keluar.
Saat berjalan beriringan untuk mencari tempat yang lebih sepi.
"Dia sangat terobsesi padamu, apakah dia pelanggan pertamamu" Alex
"Kau berkata lagi aku pasti kan masa depamu tidak akan bisa di gunakan" Andinu menatap celana di bawah pinggang.
"Sabar, sabar, aku selama ini sangat padamu" Alex
"Ke intinya saja, aku mau minta no Sean" Alex langsung terbelalak lalu senyum kecil.
Dia mengambil rokok di kantongnya lalu menghidupkannya tak lupa menawarkan pada Andini tapi kini Andini sedang tak bernafsu untuk merokok.
"Lo tau statusku tidak lain seperti dirimu rendah gue gak punya hak walaupun lo maksa. Dia bos besar, jadi nihil lo berharap mendapatkan nomornya dari gue" Alex belum menatap Andini.
Andini yang semakin emosi menarik kerah baju Alex dan memukukinya namun karena pukulannya tidak seberapa Alex bisa menangkap pukulan itu.
"Dini lo gak usah berharap terlalu tinggi, selera dia itu bukan lo walaupun ....." Alex membelain wajah Andini pelan dengan sorot mata menjijikan.
"Aku memang kotor tapi aku tidak lebih bangsat darimu, yang menjebak orang lugu datang untuk masuk ke dunia gelap ini." Andini menepis tangan Alex dengan tersenyum kecut.
Andini melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Alex.
"Gue akan kasih, kamar 009" Seru Alex yang bisa di dengar oleh Andini.
Andini tetap berjalan meninggalkan tidak lama dia mendapat chat dari Alex.
" jam 23.00, kamar 009. Selesai dari itu gue akan segera kirim cantik."
Andini geram menggenggam ponselnya erat, dia sangat benci dengan situasi ini tapi dia tidak berdaya.
"Ada apa dengan gue kenapa harus gue dapat nomornya kalau ke gini cara dapatinya. Stop Andini terserahlah dia mau biayai rumah sakit ibu lo jangan hubungi dia lagi, plissss...." Andini mengomel pad dirinya tak karuan.
.
"Sial, kau memang paling berani dan tidak sopan Dini, kalau kau tidak menghasilkan uang aku sudah pastikan besok kau tidak bisa berjalan dia bawah kekuasaan gue. Sayangnya lo termaksud primadona dikalangan bos-bos besar gue." Alex merasa kesal karena dia baru mendapat chat perintah dari pengusaha besar jika dia menganggap remeh dengan perintah itu clubnya akan bangkrut seketika.
Dia menjilat ludahnya dan menawarkan nomor itu agar Andini mau, karena Alex tau Andini sudah mau berhenti tapi karena kondisi ibunya semakin buruk dia bekerja dan rencananya pelanggan terakhirnya adalah Sean.
__ADS_1
.
Lain dengan kondisi Sean dan Yuna merasakan ke bahagiaan.
"Habis liburan ini kamu mau kan ketemu papa." Mereka sedang di hotel duduk di sopa berduaan dengan Sean ada di pangkuan Yuna menonton drama korea kesukaan Yuna.
"Papa... kamu ?" Yuna sangat terkejut, dia membulatkan mata seakan yang dia dengar itu tidaklah benar.
"Sebentar lagi itu bukan hanya jadi papaku tapi papa kita." Sean tersenyum sangat manis.
"Tapi aku takut Sean, paman tidak menerimaku seorang yang yatim piatu ini." Sesaat raut muka Yuna langsung memucat.
"Hei... kenapa jadi sedih begini sih, yang akan menikahkan aku dan kamu bukan papa. Jadi jangan berpikir kegitu mau gimanapun aku akan menikah denganmu." Sean mengelus salah satu pipi Yuna dengan sayang.
"Emmmmmhhhh....." Dia tersenyum.
"Aku gak akan melepasnya tuhan, aku akan membahagiakan dia. Wanita terindah." Sean membatin menggenggam tangan Yuna.
.
.
Ini adalah kegilaan yang pernah dilakukan Andini dia akhirnya datang ke tempat yang di berikan Alex.
Di kamar hotel sudah ada tuan yang tampan dan gagah yang tak lain pria yang menahanya tadi.
Benar kata orang semua muda asalkan ada uang, dia dengan mudah mewujudkan kata-katanya sedangkan aku harus merendahkan diri untuk mendapatkan keinginanku.
"Iya sayang, ini aku."
Dia adalah pengusaha ternama dan salah satu pemegang saham tertinggi dari jejaring mafia, tapi tidak banyak yang tau tentunya di tempat ini itu sudah tersebar, makanya Alex tidak bisa berkutik kalau tidak habislah dia.
Andini perlahan melangkah mendekat lalu duduk di pangkuan sang tuan.
Sang tuan hanya mengisap benda nikotil itu.
sang tuan menghirup aroma tubuh Andini pada cekukan lehernya.
"Menikahlah denganku." Bisiknya membuat Langsung memgarahkan wajahku sempurnah ke arahnya.
"Iya aku serius." katanya dengan tatapan dingin.
" Tuan.... ada memesan untuk menikmati bukan memiliki." Andini membelai wajah sang tuan.
"Aku benci, kau di sentuh orang lain..." Tatapan sang tuan seakan menusuk hati terdalam Andini bukan karena rasa cinta tapi dia mengingatkanku kalau aku ini seorang pelac*r.
__ADS_1
"Tuan......" Andini beranjak dari pangkuannya menghadap dia lalu berteriak.
"Anda jangan lupa ini wajar, itu... pekerjaanku."
Andini sangat benci untuk mengakuinya tapi memang inilah kenyataannya.
"Tapi aku yang pertamanya bagimu dan aku selalu membuatmu ada dalam genggamanku." Dia berdiri lalu mendekatkan diri pada sang tuan.
"Tapi nyatanya bukan kamu satu-satunya, sudahlah tuan aku akan bekerja." Andini langsung menyambar bibir tipis itu sedangkan sang tuan memalingkan pandangan matanya ke arah samping.
Perlahan sang tuan melepas ciuman yang tidak berbalas itu.
"Aku sudah tidak berminat." Jawabnya singkat dan sangat dingin.
Andini terduduk lemas.
"Hahaha...." Tertawa keras.
"Gampang iya, setelah tidak ingin kau akan membuangku padahal baru beberapa menit kau melamarku tuan." Sang tuan menatap tajam pada Andini.
"Aku tidak mengatakan membuangmu, sesuatu yang aku anggap menjadi milikku akan jadi milikku mau ataupun tidak mau dirimu."
Sang tuan hanya berjalan ke ambang pintu lalu mengunci pintu ngambil kuncinya.
Dia melepas jas lalu menggulung kemeja putihnya lalu merebahan tubuhnya di kamar empuk itu.
Sang tuan menepuk-nepuk sisi sebelahnya.
"Ayo... aku sudah lelah" Jawabnya lembut.
Laki-laki di hadapannya bisa sangat cepat berubah-rubah Andini tidak pernah benar menebakknya.
Perlakuannya yang seperti ini justru membuatnya was-was.
Andini perlahan mendekat lalu berbaring disebelahnya, laki-laki itu hanya memeluknya tanpa berniat menghabiskan malam yang panas.
Hanya ada kesunyian dan gelapnya malam, suara nafasnya semakin teratur menandakan dia sudah tertidur.
Sedangkan Andini di penuhi dengan pertanyaan.
"Apa dia gila, dia mengeluarkan uang hanya untuk ini." Hingga perlahan rada lelah dan rasa nyaman tersendiri membuat mata sang empunya terasa berat Andinipun terlelap di dekapan sang tuan.
"Emmmhhhh...." Andini bergerak gelisah di kasur yang empuk itu untuk mengembalikan nyawanya yang masih dia ambang dunia mimpi.
"Astaga...." Saat sepenuhnya kesadarannya terkumpul.
__ADS_1
Sang tuan sudah bangun dan sedang memakai dasi.
"Kenapa ?" Tanyanya santai.