
Tangis bisa mencairkan hati yang membatu bukan, berdamailah dengan keadaan bukan putus asa melainkan menerimanya.
Bersyukur karena kau tau banyak cinta yang coba memasuki hidupmu namun dengan muda kau membuang cinta itu dan mengklaim kau paling menderita.
Aku ingin membuat kau bahagia Yuna, hatiku masihlah milikmu.
"Maaf pak, saya langsung masuk. Saya takut terjadi sesuatu" Sang sekertaris membuang ke takutannya dan langsung masuk tanpa ijin dari bosnya.
Sekertaris takut pak direkturnya akan berbuat sesuatu di luar kontrol karena dia tau ibu Yuna adalah seorang yang mampu membuat bosnya itu gila dan tentunya fakta kalau ibu Yuna adalah mantan Sean.
Sean hanya mengibaskan jarinya ke arah belakang menisyaratkan keluar tanpa memalingkan tatapannya dengan sosok cantik di depannya.
Sekertaris cerdas itu mengerti dan langsung keluar dengan menutup pintunya perlahan.
.
"Emmhhhh.. ghhhhh... maaf kan aku Sean" Yuna mulai tenang dan hal itu yang baru dia katakan dengan senggugukan efek dia menangis belum menghilang.
Sean tersenyum tulus lalu mendekatkan posisi duduknya ke Yuna, dia mengambil tisu yang ad di meja itu.
"Lap ingusmu itu" Dengan nada mengejek sontak langsung membuat Yuna memalingkan wajah ke beda arah.
Justru itu terlihat sangat lucu dan Sean sangat suka dengan Yuna yang seperti ini.
"Jangan lihat, aku mohon jangan lihat" Yuna masih dengan memalingkan wajahnya sedangkan Sean tertawa puas.
Sean bisa tertawa begini hanya saat dia bersama Yuna, hanya Yuna yang bisa membuat sisi berbeda dari Sean yang biasanya.
"Baik... baiklah. Perbaiki riasanmu aku akan menunggu di luar. Sudah jangan bersedih lagi"
Sean mengelus puncak rambut Yuna dengan sayang.
Yuna merasa lebih nyaman Sean yang seperti ini dari pada Sean yang cuek dan arogan.
Yuna merias wajahnya agar terlihat lebih fres lalu dia keluar berniat menemui Sean.
Saat keluar sekertaris Sean menyambutnya dengan ramah.
"Pak Sean sudah ada di lobi menunggu bu Yuna, mari saya antar bu."
"Tidak usah, saya akan kesana sendiri, terimakasih." Yuna berjalan menujuh lobi.
Sean tersenyum saat melihat Yuna semakin mendekat, semua melihat sosok mereka berdua membuat para wanita irih dan ingin ada di posisi Yuna yang mampu membuat Sean tersenyum ramah dan tulus.
__ADS_1
Kali ini Yuna tidak malu dan risih tapi dia justru sangat senang.
Mereka beriringan berjalan menujuh parkir mobil.
"Kita mau ke mana ?"
"Emmmhhhh.... berlibur, aku sangat penat dan ingin menghabiskan waktu yang rileks bersamamu" Sean mulai menggombal ini tidak tau mereka dalam status apa tapi yang pasti meraka saling menyayangi.
.
Di tempat Andini ruangan rawat ibunya terbuka dan muncullah dua orang dengan pakaian khasnya putih panjang.
Mereka adalah dokter ahli bedah dan Organ dalam.
Melihat kedatangan mereka Andini langsung berdiri menyambut mereka.
"Nona Andini, kami akan merundingkan proses operasi penyangkokan ginjal, Ibu Firda." Jawab salah satu dokter itu.
"Bukannya operasi tidak bisa dilakukan kalau saya belum melunasi biaya renca penyangkonan itu" Andini merasa resah karena uang yang dia bayar cuma untuk pengobatan rutin ternyata ibunya mengalami koplikasi dan harus di operasi tapi dia tidak memiliki uang untuk operasi.
Tapi anehnya dalam waktu beberapa jam pihak rumah sakit mengkonfirmasi seperti ini membuatnya semakin bingung.
"Tadi pihak keluarga melunasi semua biaya rumah sakit, operasi sampai biaya inap untuk pemulihan 1 minggu kedepan nona" Tutur dokter-dokter itu dan Andini ternganga mendapat kabar itu.
"Tidak mungkin dok, coba periksa lagi, keluarga saya tidak ada yang mengurus masalah administrasi" Andini bukan tidak senang tapi dia takut kalau hal ini akan membuat masalah baru untuknya.
Tidak lama salah satu dokter itu membawah beberapa berkas bukti pembayaran administrasi.
"Ini nona beberapa dokumen yang membuktikan kalau biayanya semua sudah dilunaskan" Andini yang melihat beberapa lembar kertas itu ternganga, Andini sangat tidak percaya.
"Oh tuhan, apakah benar ini ? siapa orang baik itu yang membiayai rumah sakit ibunya dengan cuma-cuma" pikiran Andini.
Tapi matanya langsung terbelalak melihat nama siapa yang tercantum nama seseorang yang baru kemaren malam aku kenal, iya dia adalah Sean.
"Nona, nona .... "dokter coba berkomunikasi padaku tapi aku malah sibuk dengan pikiranku sendiri.
"Ahhh... iya dok ?" tanyaku yang mulai fokus dengan sosok berjas putih ini.
"Nanti anda keruangan saya kita akan mendiskusikan hal apa saja yang harus dilakukan saat masa operasi dan anda mendatangani persetujuan operasi" tutur sang dokter.
"Baik dok"
"Saya permisi" Dokter tersenyum sangat ramah.
__ADS_1
"Terima kasih dok." Membalas senyumnya.
"Gue harus ketemu dengan Sean, apa alasannya, ahhhh gue benci hutang budi" Andini menghembuskan nafas kasar.
Andini mengambil ponselnya.
"Oh iya, aku tidak ada no nya Sean, Alex tau" Andini menghubungi Alex tapi panggilannya di alihkan, pesannya di abaikan.
"Dasar lelaki berengsek kalau lagi butuh saja mulutnya manis giliran kita yang butuh sedikitpun tak ada celah untuk di hubungi" mematikan ponselnya.
Andini melihat jam tangan menunjukkan pukul 20:36, ini memang sudah malam Andini yakin Alex ada di club.
Sebelum dia pergi Andini pergi ke ruangan dokter untuk membahas masalah operasi.
Dan final besok jam 7 pagi jadwal operasi mamaku.
Malam itu aku melaju menuju club untuk bertemu Alex.
Sampainya disana aku langsung melerah penglihatanku ke segala arah untuk mencari manusia itu.
"Hai say, ada job kah ?" Tanya seorang wanita cantik yang sama sepertiku.
"Mana Alex, gua butuh penting sama dia" Menatap tajam iya memang menandakan gue sangat serius dengan ucapanku.
"Ruang VIP no 5"
"Thanks" Aku langsung pergi ke tempat tujuan.
"Tok.... tok...." Aku tidak mau membuang waktu walaupun aku tau si Alex di ruangan VIP ini tidak mungkin sendiri pasti banyak pelanggan konglomerat berkumpul di sini.
Ada yang membukakan, wanita yang sangat cantik.
Aku langsung masuk dan melihat 4 laki-laki berjas serta Alex dan beberapa wanita yang sedang menuangkan minum.
Melihatku Alex langsung berdiri dan menghampiriku.
Aku melihat mereka menatapku, tapi aku mengenal salah satunya.
dia dengan kemeja navi, rambut rapi tertata.
"Maaf kakak-kakak saya harus keluar" Jelas Alex yang mendapat bantahan dari laki-laki baju navi.
"Kenapa kau tidak bicara di sini saja, bukannya tadi katamu Andini libur" Aku sudah tebak tidak akan mudah menghadapi dia kalau aku sudah bertemunya.
__ADS_1
"Maaf tuan, ada masalah penting. Hari ini bukan jam saya bekerja, tolong saya pinjam dulu Alex" Aku hanya orang miskin tidak akan bisa bersifat sombong atau menolak.
"Kalau aku tidak mengijinkan" Otakku sesaat ngeblang aku gak tau apa yang harus aku perbuat.