
Dua teman baikku ini begitu dekat dan mereka lucu punya karakternya masing-masing si Vira yang punya nama lengkap Vira Akseri Tianti memang orangnya celetusan, baik dan aktif sedangkan Vegata Sasra yang biasa di panggil Sasra otangnya baik, bijak dan adil gak perna bela yang salah walapun kami temennya.
"Jadi loe harus cerita, loe kemana? loe sama siapa? " seru Vira yang udah kayak wartawan yecar gue dengan banyak pertanyaan.
" Iya jangan di sembunyikan kabar bagus harus diberitahu" tambah Sasra emmhhh dia pasti belai Vira.
"Oke aku akan jelaskan, aku sama cowok itu baru kenal belum lama ini dan hubungan kami belum berkembang jauh dari yang kalian bayangkan"
Mereka menatapku lalu saling tatapan mereka bedua diikuti senyum semeringa "siapa namanya" seru Sasra singkat padat.
"Namanya Sean, anak Bisnis dan dia senior kita" mau bagaimana lagi semua sudah telanjur lebih baik aku beritahu pada mereka.
"Sean" seru mereka kompak
" Serius Sean anak Bisnis" aku mengangguk kok kelihatan sedikit dramatis sih kenapa memangnya dengan Sean.
" Kenapa emangnya kok kamu histeris gitu Vira" iya tanpa ragu aku langsung bertanya saja.
"Sean anak bisnis itu termaksud cowok yang populer, ganteng dan kaya banyak cewek-cewek elit deketi dia tapi kabarnya dia ada pacar yang benar-benar sempurna" jawab Vira sangat lengkap penuturannya
__ADS_1
"Mereka juga terkenal dengan pasangan yang sangat romantis" tambah Sasra yang juga tak ketinggalan berita- berita hot hanya aku yang tidak memperhatikan sekitarku.
"Sempurna ?" seakan kata itu berlebihan
" pacarnya itu cantik, modis, terkenal, pintar dan kaya gila mantap banget hidupnya apa lagi kabar-kabar Sean itu sayang banget sama pacarnya itu" aku benar-benar dilema sekarang tambah bingung dan curiga dengan Sean kalau memang benar kata-kata mereka apa maksud dia dekati gue.
"Tapi sejujurnya kami cuma tau kabar-kabar dari isu-isu yang menyebar dan kami gak tau muka dan yang mana Sean itu Yuna" mereka sedikit meralat mungkin tidak enak padaku karena aku mulai dekat dengan orang dipanggil Sean itu.
"Nanti kalau aku lihat dia aku kasih tau kamu yang mana yang kenal dengan aku".
Setelah perkuliahan selesai aku dan kedua temanku ini bergegas pulang saat menujuh ke pintu gerbang keluar aku melihat Sean yang sedang duduk di dekat koridor sambil memainkan hpnya dan saat di menoleh ke arah kami dia beranjak dari tempat semula dan menghampiriku "udah pulang Yuna, bareng yok aku gak bawak mobil jadi mau bareng sama kamu" dia tersenyum ramah dengan kami dan dalam sekejap tatapan kedua temanku itu seakan meneliti setiap sudut tubuh Sean.
"Oh iya perkenalkan ini teman-temanku yang ini Vira dan yang ini Sasra " menunjukkan kearah mereka berdua
"Kamu beneran mau ikut kami" sahut Vira ragu karena kalau aku lihat dari pandangannya sepertinua Vira sedang memuji ketampanan cowok ini.
"Iya dong" kami semua naik MRT sampai lah di stasiun pemberhentianku dan herannya Sean juga berhenti di tempat pemberhentian yang sama.
"Bib-bib" bunyi chat masuk lalu aku lihat
" Yuna kamu harus hati-hati aku masih curiga dengan si Sean" chat Vira masuk padahal baru 5 menit yang lalu kita berpisah
__ADS_1
"Bib-bib" ada masuk chat lagi padahal chat yang tadi baru mau aku balas
"Jangan terpedaya oleh tampangnya yang lumayan Yuna, harus perlu di waspadai " chat Sasra masuk aku merasakan mereka berdua khawatir denganku akupun membalas semua chat mereka aku senang mempunyai mereka yang selalu memperhatikanku walaupun baru kenal satu tahun ini.
"Kenapa kamu kok berhenti di stasiun ini, apa rumah kamu disini?" seruku pada Sean
"Aku mau nganter kamu, kalau aku naik mobil kamu pasti menolak ya ini satu-satunya cara" kami mulai berjalan beriringan dan banyak yang kami ceritakan satu sama lain.
.
.
"Yuna, kenapa sih kamu tetap menutup pintu hatimu kau memberiku tembok yang kebal aku sudah berusaha melaluinya namun semakin aku berusaha tembok itu semakin tebal" dia menatapku pekat
"Aku gak tau Sean, tembok itu tanpa kesadaranku jadi akupun sulit mengendalikannya " merasa bersalah namun aku juga gak tau dengan perasaanku.
"Baiklah bila itu jawabanmu aku putuskan aku gak akan menyerah" bukannya seharusnya dia berkata kalau dia akan menyerah kok mala sebaliknya.
Kami sudah sampai di rumahku sekarang tepat didepan rumahku.
"Makasih karena gak mau menyerah padaku dan makasih udah ngantar aku pulang" aku tersenyum manis mengakhiri perpisahan kami.
__ADS_1