
Andini berjalan ke arah tepi jalan untuk menghentikan taksi tapi ponselnya berbunyi.
"Iya hallo"
"......"
"Saya sendiri Andini"
"......"
"Apa.... bukannya biaya rumah sakit sudah saya bayar semua, berarti operasi bisa di lakukan dok" Raut muka Andini seketika memucat, dia langsung lemah.
"......."
"Baik saya akan kesana." Andini langsung mengentikan taksi.
Tidak di sangka Sean mengejar Andini dan dia ikut mendengar Andini sedang bertelepon.
Karena rasa ingin tahunya besar terhadap wanita itu dia langsung mengentikan taksi agar tidak kehilangan jejak. Padahal Sean ke cafe menggunakan mobil tapi untuk mengambil mobil di parkiran saja sudah memakan waktu.
"Ikuti taksi di depan pak." Sean masih fokus pada taksi Andini tepat di depan taksinya.
"Baik pak"
Sampailah di rumah sakit terbesar di kota ini Andini langsung masuk, Sean masih setia mengikuti Andini.
"Dok bagaimana kondisi Ibu saya, bukan saya sudah membayar semua biayanya tapi kenapa kok dokter berkata ibu kondisinya semakin para." Andini mulai menangis dokter yang sedari tadi ingin memberi penjelasan tapi tidak di ijinkan oleh Andini.
"Lebih baik kita bicara di ruangan saya" Andini mengikuti dokter sedangkan Sean tidak bisa mengikuti Andini.
Dia takut ada keluarga Andini memperhatikannya yang sedang mengikuti Andini.
.
Tidak beberapa lama Andini kembali ke depan ruangan ibu Andini di rawat dengan muka pucat, kecewa dan sangat sedih.
"Kau tau, ibumu itu tidak pernah sembuh karena apa ? iya karena uang harammu itu" Laki-laki paru baya itu memaki Andini dengan kasar.
__ADS_1
"Cukup pak, siapa yang ingin bekerja seperti ini. Tanyakan pada semua orang yang bekerja seperti ini mereka butuh bukan ingin. Ini semua tidak akan terjadi juga kalau bapak mendapatkan penghasilan yang cukup dan tidak mabuk-mabukan. Jangan terus menyalahkan Andini pak." Andini menangis lalu pergi meningalkan laki-laki paruh baya itu.
Andini adalah gadis lugu dulunya dia hanyalah tamatan SMA, dia bekerja menjadi penjaga tokoh yang gajinya lumayan untuk kebutuhannya sampai ibunya jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit.
Uang tabungannya sudah terkuras tapi ibunya tidak kunjung sembuh hingga dia bertemu temannya yang bekerja di bar.
Dia mendapat pekerjaan itu, uang yang dia dapat sangat banyak tapi uang itu dengan cepat juga habis, kadang ayahnya mengambil uang itu dengan alasan beli obat atau apapun yang berhubungan dengan ibunya.
Andini bingung dia ingin berhenti dari pekerjaan mengerikan itu, hatinya selalu teriris pelanggannya tidak selalu baik terkadang pelanggannya menyiksanya.
Andini tidak mau mengganggu suasana rumah sakit karena dia sadar banyak orang yang disini membutuhkan ketenangan.
Andini pergi ke lorong parkiran lalu mengambil sebungkus rokok dari tasnya lalu mengambil satu batang rokok beserta korek.
Di hidupkannya rokok itu lalu dihirup, asap mengepul dengan sangat pekat.
Andini tidak henti-hentinya merokok.
"Bukannya rokok tidak baik dengan wanita, bisa menyebabkan kesulitan hamil." Sean menghampiri Andini.
Awalnya Andini terkejut dengan kedatangan Sean, seseorang yang baru tadi malam dia kenal, yang menghabiskan malam yang panas.
"Oke, kau benar" Sean menghambil satu batang rokok Andini dan mereka merokok bersama sambil mengobrol.
"Aku akan membantu membiayai rumah sakit orang tuamu" Andini bukannya terharu tapi malah marah besar.
"Anda memata-mataiku, kenapa sih kalian orang kaya seenak-enaknya melakukan sesuatu hal tanpa bertanya dulu dengan kami" Andini membuang puntung rokoknya lalu menginjak garah yang masih hidup agar mati dan kakinya melangkah menjauh lagi-lagi dia meningalkan Sean.
"Dasar laki-laki mesum, katanya tidak menyukaiku tapi apa ini dia mengikutiku sampai dia tau keadaan ibuku. Aku takut dia akan berbuat macam-macam dengan ibuku, aku tidak mau berurusan dengan orang kaya." Andini mengomel tak tentu sambil berjalan menujuh ruangan rawat ibunya.
.
"Apa sih salahku, aku hanya ingin menebus peebuatan kasarku dan menolongnya tapi apa aku di caci maki olehnya." Sean pergi meninggalkan rumah sakit karena dia masih mempunyai banyak kerjaan di kantor.
Saat sampai di kantor ternyata ada tamu yang masih menunggunya duduk di ruang tunggu.
"Yuna....." Melihat sosok cantik yang langsung berdiri saat melihat Sean ada di hadapannya.
__ADS_1
"Sean, apakah dirimu ada waktu, bisakah kita bicara sebentar" Jantung Yuna berdetak kencang dia sangat takut Sean akan menolak ajakannya.
"Boleh, ayo kerungan saya" Yuna hanya mengikuti langkah panjang Sean.
"Silahkan duduk" Sean mempersilahkan Yuna lalu menuangkan minuman soda untuk menyambut tamunya ini.
"Terimakasih" Yuna meminum sedikit minumannya.
Mereka hanya duduk dan diam sejenak, Yuna perlahan membuka percakapan dan di dengar dengan baik oleh Sean.
"Saya ke sini ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih karena sudah mau membantu mendapatkan perusahan saya lagi" Mengatakan secara perlahan.
"Tidak papa, lagian perusahan bu Yuna sekarang juga kan perusahan saya." Jawab Sean dingin dengan masih menatap gadis manis di hadapannya.
"Saya juga mau membicarakan masalah saham, adakah pak Sean menjual saham perusahaan yang sebelumnya memang punya saya." Yuna sangat serius dia tidak ingin kehilangan perusahaannya.
Biarkan dia egois untuk kali ini, dia ingin mempercayai Sean tapi dia takut akan di tinggalkan lagi oleh orang-orang yang di sayangi.
"Hahaha.... " Sean tertawa keras.
"Sungguh lucu, anda sangat serakah ibu Yuna, perusahan yang sudah ada di ujung tandu sudah mampu aku selamatkan, persayatan ibu Yuna menikah dengan saya saja sudah saya lupakan dan dengan egoisnya ibu Yuna yang terhormat meminta penuh kekuasaan atas perusahan anda" Suara Sean semakin datar dan terdengar dingin.
Yuna menatap Sean menarik nafas pelan dan menahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Saya tau tindakan ini sangat merugikan anda pak Sean tapi saya mohon bapak bisa mempertimbangkan permohonan saya ini, saya akan membayar dengan harga yang mahal perusahan itu. Saya merasa bersalah jika sampai perusahan yang ayah saya perjuangkan hilang begitu saja" Mata Yuna mulai memerah air matanya tertahan di pelupuk kelopak mata, dia sekali lagi tidak mau terlihat sangat lemah di depan Sean.
"Yuna.... Yuna... kau selalu saja mencari hal yang bisa kau salahkan untuk melarikan diri dari masalah itu, kau ingat aku memang salah mempermainkanmu tapi kematian ayahmu aku sama sekali tidak ada campur tangannya itu sudah takdir tapi dirimu menyiksa dirimu sendiri menimpahkan semua masalahmu dengan hubungan kita yang salah dan memaksa dirimu untuk bertanggung jawab" Sean berkata penuh penekanan agar Yuna bisa berpikir akan masalah yang terjadi.
"Cukup Sean, disini kita membahas masalah perusahaan jangan bahas hal itu aku mohon." Air mata Yuna tidak biaa tertahan lagi, mengalir dengan derasnya membasahi pipi Yuna.
"Ini harus di bahas, jangan memendam bebanmu sendiri, kau menyalahkan dirimu sendiri, kau sadar tidak Yuna." Suara Sean meninggi membuat Yuna terkejut dan setelah itu Yuna menangis sengan sangat kuat dia tidak peduli sekarang ada di kantor Sean.
"Ahhhh... mmhhhhhhggggg..... mmmgggggh...." Sean hanya menatap Yuna pekat tanpa membujuk Yuna ataupun mendekati Yuna.
"Tok.... tok...." Suara ketukkan terdengar tapi Yuna masih menangis dengan keras tidak mempedulikan suara ketokan pintu itu.
Dia menangis seakan meluapkan semaunya yang ada dalam dirinya yang sudah lama dia tahan, tangisan iti seperti bom dan kali ini semuanya sudah meledak.
__ADS_1
Tangisan itu semakin keras.