
Rokok yang ada di mulutku hanya tinggal di hisap namun rokok yang menyalah itu direbut dariku hanya sekali genggaman yang erat, aku bukan sayang dengan rokoknya tapi dengan tangan kekar itu yang tanpa meringis kesakitan setelah mengepal tangannya pada puntung rokok yang menyah.
Pandangan mataku masih terfokus dengan dia yang ada di hadapanku. Matanya yang sedikit merah, raut mukanya datar, memerah dan memancarkan aura dingin sumpah aku belum perna melihat sisi Sean yang seperti ini.
Ketakutan dalam diriku secepat mengembalikan tangan hingga menjalar di
seluruh tubuh terlihat kakiku sedikit bergetar rasanya sangat berat untuk berdiri.
Sean menghela nafas dan sejenak memejamkan mata lalu membuka matanya kembali dan membulatkan tatapannya ke arahku membuatku lebih takut, aku menelan ludah dengan sulit mencoba mengendalikan diriku.
Tangan Sean yang kosong menarik pergelangan tanganku dengan sangat erat terasa sakit dengan genggamannya yang tidak berperasaan dan menarikku paksa ke lantai dua degung ini.
“ Sean ,,,, sakit lepasih” mencoba melepaskan tanganku dari genggaman cowok yang sedang marah ini dengan memdorong tangannya namun tak berhasil.
Banyak mata yang menonton kami tapi Sean sama sekali tak peduli terus menarik tanganku.
“ Andi urus sisanya “ dia berteriak membuat semua orang gencar berbisik melihat aksi kami saat kami melangkah menyusuri tangga.
Kami memasuki salah satu ruangan dan tak lain ruangan itu adalah kamar iya seperti hotel kecil dia menarikku masuk dan menutup pintu dengan kasar dan mendorong tubuhku ke pintu yang sudah tertutup rapat dan menyudutkanku.
Dengan tubuhku yang di kunci sekarang dia benar-benar sangat dekat denganku.
Aku sangat takut, laki-laki yang ada di hadapannya seperti tak punya nalar lagi, kakiku bergetar aku tak sanggup melihat kearah matanya aku memalingkan pandanganku darinya.
Dia memegang daguku dan memposisikan untuk mengarah memandangnya
“ kenapa kau takut ? tadi kau sibuk menguji kesabaranku sekarang kau memalingkan tatapanmu “
Dia menatapku tajam serta dengan nada
dingin kini aku hanya bisa fokus melihatnya karena dagukudi tahan dengan tangannya “ maafkan ak,,,,”
__ADS_1
Sebelum aku selesaikan kata - kataku dia mencuim aku kasar karena hal itu aku mendorong dadanya tapi posisinya tak ada perubahan kini salah satu tangannya mendekap kedua tanganku dengan satu tangannya dan menarik ke atas pas di atas kepalaku dan menguncinya.
Ciuman Sean semakin dalam hingga memainkan lidahnya ke lidahku aku merasa sulit bernafas dan perasaan pusing mulai menjalar di kepalaku.
Sean yang ada di hadapanku seperti menjadi tiga orang aku mau ngomong pusing tapi mulutku tak dapat di harapkan karena permainannya ciumannya yang sangat buas seakan tak puas - puas.
Sean
Yuna kau membuat aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku, coba kau jadi cewek penurut tak mungkin kau berakhir seperti ini.
Aku masih sibuk mencumbu bibirnya kini ciumanku beralih ke lehernya ada harum yang aneh namun wangi ini aku suka, sepertinya harum tubuhnya ku cium
perlahan - lahan.
Aku melepas tangan Yuna yang tak ada perlawanan kini ciumanku menuju dada.
Dia menarik kerah baju ku hingga aku semakin memepet dengannya “ ini cewek benar-benar sangat berani “ batinku yang membuat aku semakin ganas mencumbuh leher membuat tanda stempel ala Sean tapi ada rasa sakit di ujung telingaku
“ Coklat....” Yuna memonyongkan bibirnya dia dengan cepat mendekat hingga aku mundur secara teratur ke arah tempat tidur.
Dia mendorongku dengan keras hingga aku terjatuh terlentang di kasur kini dengan cepat dia duduk di dadaku tangannya mencubit kedua pipiku kadang dia menggigit dagu dan pipiku aku hanya diam karena yang sedang aku hadapi jelas orang yang sedang mabuk hingga dia terlelap didadaku.
Aku perlahan memindahkannya agar tidur dengan posisi yang tepat “ Cuma kau yang berani mengujiku sebanyak ini Yuna, kali ini kamu lepas kalau lain kali aku gak bisa jamin “ aku membenarkan selimut agar bisa menutupinya sepenuhnya kecuali kepalanya.
Teman - teman Sean
“Andi mau di apakan cewek itu sama Sean kenapa mereka ke atas bukannya di atas kamar kosong iya ”
“ Gue juga gak tau, gue mau ngurus masalah yang mereka timbulkan “
“ Loe bayar semua tagihan Sean termaksud kamar yang di atas “
__ADS_1
“ Iya, kami berdua sudah bersahabat jadi kalau dia minta gue berikan tapi nanti di kembalikan dengannya, nanti kalau aku ada kesulitan dia juga membantu “
“ Oh,, oke ayo main “
“ Sean “ kami melihat Sean yang turun dari tangga
“Udah turun ajah loe “ sapa kami berdua
“ Gak loe lahap tuh” tambah Andi
“ Boro - boro dianya mabuk “
“Hueekkk....” Sean yang tiba-tiba punya gejala mau muntah
“ Ayo ke kamar mandi “ Andi menuntunku ke arah toilet
Di toilet Sean muntah sampai 3 kali, efek sampingnya udah mulai nih untung hanya 3 botol lebih kalau sampai besok pagi mungkin Sean hanya nama ke esokkan harinya.
Sean
“ Gue gak bisa nganter dia kalau ke gini “ mencoba mengontrol rasa sakit di perutku
“ Loe lebih baik menginap disini lagi pula kamarnya udah gue pesen “
“ Sepertinya itu solusi yang tepat untuk hari ini, iya udah gue ke atas dulu istirahat “
" Oke... istirahat "
Aku masih melihat cewek ini dengan nyeyak tidur aku membuka selimut dan tidur di sampingnya sambil mendekapnya di pelukan gue
“ Selamat tidur sayang, mimpi indah “
__ADS_1
aku bisikkan di telinganya dengan pelan dan kami pun tidur bersama.