
Yuna
Aku tidak merasa secemas tadi, suhu badannya sudah kembali normal.
" Akhirnya suhumu kembali normal cowok brengsek tidak sia-sia rasa capekku " aku beranjang mengambil tas yang ada di meja sebelah ranjang tuan muda ini.
Langsung saja aku melangkah namun tanpa aku sadari genggaman kuat pada pergelangan tanganku.
Lagi-lagi kau mencegahku, sekarang apa maumu .
Aku mencoba melepaskan genggamannya yang kuat sekali hingga tanganku merah.
" Ayolah Sean, ini sudah malam. Kau ini sadar ataupun tak sadar sangat menyusahkan "
Karena aku sangat lelah akhirnya aku menyerah aku duduk tepat di bawah ranjangnya persis disampingnya.
Mataku sangat berat aku sangat lelah bagaimana tidak acara hari ini sangat full mulai dari proyek, pesta perusahan, memapahnya dan mengurusnya .
Akhirnya Yuna dan Sean tidur bersama walaupun posisi mereka sama sekali tidak ada kata romantis.
Sean
Badanku terasa sakit, aku juga merasa sangat lapar namun saat aku membuka mata dan berniat beranjak tanganku menggengam sesuatu sesaat mataku tertujuh pada sosok yang aku genggam tidak tau sejak kapan.
" Benarkah ini kau Yuna... " aku merasa tak percaya takutnya ini hanya mimpi untuk memastikannya aku cubit pipiku sendiri.
" Auuuu... sakit ternyata ini nyata, ini benar kau Yuna "
Aku masih terus menatapnya seakan tak bosan-bosan sampai aku lupa rasa laparku.
" Kenapa kau tidur dengan posisi seperti ini ? Apa kau tak capek "
Perlahan aku beranjak dari ranjangku lalu dengan sangat hati-hati ku gendong dia ke kasur sangat susah melakukannya dengan sangat hati-hati tapi untuk membuat dia tidak terganggu dengan tidurnya.
" La... La... La.... " Senandung kebahagian karena aku tidur dengan Yuna kemarin malam.
Aku melihat jam baru menunjukan 5:03 pagi, lebih baik aku menyiampkan sarapan untuk calon istriku.
Harapan terlampau jauh, walau begitu untuk menebus rasa bersalahku, biarkan aku terus berharap meski kau siap untuk menghempasku jatuh ke dasar jurang.
.
.
" Trah.... Akhirnya sudah siap juga makanannya, sekarang aku mandi dulu sambil nunggu Yuna"
Aku sudah selesai membuat sarapan nasi goreng beserta kopi susu hangat.
Setelah siap semua aku mandi selagi menunggu permasuri bangun, sumpah berasa berumah tangga beneran dengan Yuna.
Senyumku terukir jelas mengantarkanku ke kamar mandi.
.
.
Yuna
Kelemahanku masihlah sama susah bangun tunggu matahari menyambutku barulah aku akan membuka mataku.
" Auoooo... rasanya cukup nyaman " aku membelokan tubuhku di kasur yang empuk.
__ADS_1
" Empuk bukannya tadi malam aku tidur di lantai " membatin langsung mataku terbuka 100% saat ada yang tak beres ini.
" Kenapa aku ada di kasur ? Dimana pria brengsek itu ?" memandang seluruh sudut ruangan tapi aku tak menemukannya.
Aku bagun dari posisi tidurku lalu duduk di pinggiran ranjang.
" Kau sudah bangun " aku tau suara itu, iya si yang empunyai aparteman ini aku pun melihat sang sumber suara.
Terlihat pria tampan berkulit putih cerah sedang bertelanjang dada dan bawahnya hanya dibaluti handuk kecil.
Sumpah aku terpesona tidak pernah melihat cowok seperti ini kecuali dia. Sejenak aku bengong namun mataku tak bisa keluar dari pemandangan indah di depanku.
" Yuna.... Direktur Yuna... " kata-kata itu mengembalikan akal sehatku.
" Iya aku mendengarnya. Astaga ini sudah jam berapa ? " aku langsung beranjak mengambil tasku lalu melangkah pergi.
" Sarapanlah dulu " dia menghadangi langkahku.
" Tidak usah, aku bisa sarapan di kantor " mencoba berjalan melewatinya namun dia malah menghalangi jalanku seakan tak rela memberiku jalan.
" Aku memaksa, kalau kau tidak mau sarapan disini maka kau juga jangan keluar dari sini "
Dia menaikan dua alisnya dan memasang raut wajah menantang serta nada penuh penekanan di setiap kalimatnya.
" Bagaimana... Tidak susah hanya sarapan "
Aku sangat sebal hanya maunya saja terus dia lakukan padaku.
" Baiklah, aku akan sarapan " aku pergi ke ruang makan dan benar saja disana sudah ada nasi goreng dan kopi susu.
Beberapa saat dia muncul dengan setelan baju rapi iya sepertinya dia akan ke kantor.
" Ayo kita sarapan " tersenyum padaku lalu duduk.
" Waktu sudah lama berlalu, kini aku suka kopi susu " dia juga mengambil secangkir kopi itu lalu menyedunya.
Kau benar Sean waktu sudah berlalu banyak perubahan dalam dirimu namun aku gak tau kenapa hatiku tidak bisa berubah masih menyayangimu dan juga mencintaimu.
Kami berdua mulai makan.
" Yuna... Apakah kau masih mencintaiku ? " Sean membuka percakapan namun pertanyaan itu yang mampu membuat aku tidak selesa lagi dengan makanan yang ada di hadapanku ini.
Aku manatap dia yang sedari tadi menatapku pekat menunggu jawabanku.
" Kau... Yang ada di hadapanku sekarang sudah aku anggap temanku " aku tersenyum tulus padanya.
" Ohhh.... Teman " aku melihat rasa kecewa tapi inilah langkah yang paling tepat terus menyangkal perasaanku walaupun rasanya sesak juga sakit.
" Memang apa lagi yang kau harapkan " pertanyaan yang sangat aku sesali, kenapa aku bertanya sesuatu pertanyaan yang nantinya jawabannya akan menyakitimu Yuna.
" Aku berharap kau tidak menyimpan perasaanmu selama ini, baguslah bila kau sudah menganggap itu sebagai pengalaman belakang "
" Aaahhh... Itulah jawabannya.
apa sih harapan loe Yuna dia akan jawab kalau Gue nanya itu karena selama ini masih mencintai loe ohh... Jangan mimpi Yuna " itulah batinku yang mencoba semampu mungkin mengontrol emosi dan tunjukan topeng tanpa celaku.
" Iya pastilah, kita harus mencari kebahagian jangan berjalan ditempat terpuruk dengan kesedihan " aku tersenyum.
.
.
__ADS_1
Setelah sarapan aku pergi melangkah ke pintu untuk keluar dari apartemen ini
" Biarakan aku mengantarmu "
" Gak usah Tika sudah menjemputku di luar apartemen ini" melanjutkan langkahku
" Yuna... "
Aku medengan ada yang memanggil aku kembali menoleh.
" Makasih untuk tadi malam "
" Oke "
Sangat berat sebenarnya meninggalkan tapi bagaimana lagi bila aku terus didekatnya takutnya aku menjadi sangat egois dan merebut dia dari Tafani.
Namun kalau aku lakukan itu sama saja aku tidak berbeda dengan para perebut pacar orang atau pelakor.
.
.
Aku sudah ada di kantor
" Kring.... Kring.... " Bunyi hpku dan terlihat notifikasih dari Vira.
" Tumben banget Vira nelpon gini "
Aku mengakatnya
" Halo "
" Halo... Yuna Pangeran anak kita hilang "
" Apa Pangeran hilang, aku akan segera kesana "
Bagaimanapun Kami bertiga adalah sahabat anak Sasra sudah kami berdua anggap sebagai anak kami sendiri.
.
.
Di rumah Sasra tepatnya Villanya Yuna.
" Tok..... tok.... "
Seseorang membukakan pintunya iya itu Vira yang sudah terlebih dahulu ada disini .
" Buruan masuk "
Aku masuk di ruang tamu sudah ada Sasra yang sedang duduk namun penampilannya sangat kacau bagimana tidak.
Matanya bengkak, garis hitam tepat dibawah matanya serta bibir pecah-pecahnya seakan mengubah dia menjadi Zombei.
Duduk disampingnya
" Sasra, kami semua akan berusaha menemukan Pangeran, tapi kamu juga jangan menyiksa diri gini. Gimana nanti pangeran lihat ibunya berubah jadi moster pasti pangeran takut "
Aku menuntunya duduk di meja makan dan mengambilkannya makanan dan air.
Sudah ada tepat dihadapanya makanan serta minumam.
__ADS_1
Namun dia hanya setia dengan memandangi saja.
" Ayolah Sasra, kau harus punya tenaga untuk mencari Pangeran " dia menatapku sendu lalu mengangguk perlahan dia rahi sendok dan piring perlahan mulai memakan makanannya.