Kamu Jahat

Kamu Jahat
Pergi Menghilang


__ADS_3

Aku pergi ke taman bertemu dua sahabatku itu dengan air mata aku menghampiri mereka " Yuna..... Sasra ..... emmmhuhhhh..... " suara tangisan menggema pecah tidak tertahankan lagi


" Sasra ada apa " Vira datang menghampiriku


"Tenang... tenang ceritakan pelan-pelan" aku menceritakan semua masalahku yang awalnya akan aku sembunyikan namun aku tak sanggup dengan ini semua


" Astaga.... kamu kok gak cerita dengan kami " sahut Vira marah


" Aku takut, aku malu Vira " seruku yang masih menangis


" Kita ini sahabat Sa, kami memang marah tapi itu semua karena kami sayang denganmu tapi kayaknya kamu gak perna nganggap kami sahabat " aku merasa pantas memang Vira marah seperti itu dan sekarang dia pergi


" Udah tenang , Vira sekarang lagi emosi aku yakin dia akan tenang nanti " aku semakin pusing dengan masalahku


" Jadi bagaiman, kau sudah ada rencana "


"Iya, aku akan cuti dulu dan tinggal di tempat yang tenang dulu, dan menjauh dari dia "


" Kau tinggal di tempat villa keluargaku kebetulan tak ada yang menempati tapi ya cukup jauh dari daerah ini "


"Iya tidak papa, terimakasih Yuna "


"Iya sayang,,,, yang sabar ini ujian "


"Iya " aku dipeluk oleh Yuna yang membuat hatiku cukup tenang.

__ADS_1


Saat aku ingin pulang bersama Yuna ternyata di gerbang kampus sudah ada si Alvaro " Sa ayo kita bicara sebentar " serunya yang sepertinya sudah lama menungguku


"Gak ada lagi yang perlu di bicarakan, gue akan menikah jadi jangan ganggu aku " sedikit memohon kepada Alvaro


" Ini belum jelas, ayo kita bicarakan baik-baik kau sedang marah itu kemarahan sesaat " dia memegang tanganku dan langsung dilepas oleh Yuna dengan keras


" Maaf iya Alvaro, temanku ini gak mau jadi jangan paksa dia " datanglah mobil jemputan Yuna


" Ayo Sasra " dia menarik tanganku menandakan aku harus meninggalkannya.


Didalam mobil " kau harus kuat, ini lah jalan yang kau ambil "


"Iya Yuna, aku tau " aku meyeka air mataku dan menguatkan perasaanku.


Dua hari berlalu dan aku sudah pindah ke Vila Yuna dan hubunganku ke Vira masih renggang karena kebutuhan semakin banyak aku kerja paru waktu dengan menjadi pelayan di kedai makanan, sore aku kuliah satu mata kuliah sedangkan uang bulanan masih dikirim dan juga uang yang diberikan Alvaro waktu itu cukup banyak dari situlah aku bisa menabung-nabung.


"Maafkan aku.... aku terlalu egois dan mala menyalahkanmu bukannya menyemangatimu " dia menangis di sela pelukkan kami


"Hari ini ku mau nginep dan tidur berdua " aku membalas peluknya dengan erat


" Makasih udah mau maafkan kesalahanku ".


Di kamar " ini aku bawah buah, daging yang banyak mengandung protein agar dedeknya selalu sehat ingat dimakan, oh iya aku pengen dengar boleh .... " dia memandang perutku yang belum terlihat buncit aku mengangguk tau maksud Vira


"Tapi ini belum nendang-nendang dianya ajah baru dua bulan belum kelihatan "

__ADS_1


"Iya mau coba ... "


"Iya udah iya " ditempelkan telingannya ke perutku


"Iya belum terasa,,, dedek sayang baik-baik iya jangan buat ibumu susah oke... anak baik" kami saling memandang dan tersenyum


"Ayo kita tidur "


"Besok kamu kampus...? " seruku


"Gak,,,, aku ngajak kamu tidur lebih awal karena kalau lama tidur gak baik untuk kandungan "


"Oh...kirai"


"Kamu gak senang kalau aku disini" dengan mata berkaca-kaca


"Seneng.... seneng banget.."


Sean


"Semua semakin kacau, apa ini mau kau Fani ?" dengan amarah


" Kok loe salahi gue Sean, gue juga gak tau kalau Andi ada perasaan pada gue itu diluar keinginan gue "


"Gue gak tau, gue pusing biarkan gue menenangkan diri dulu " aku pergi meninggalkan Fani yang merasa terpukul akan fakta yang baru aku tau.

__ADS_1



__ADS_2