
Vira
Aku membeku melihat sorot mata laki-laki ini yang serius dan terlihat tulus aku hanya diam " apa bukan ini yang kau inginkan ? " pertanyaan ini menyadarkan aku dari lamunan panjangku
" Kau pria yang selalu menjagaku, menuntunku dan selalu mengerti aku " batinku yang masih mencari kata - kata yang tepat untuk ku ucapkan
" Kenapa kau diam saja ? apa kau tak mau? " ujarnya yang melihatku masih membeku, lidahku rasanya kelu ini semua terasa tiba - tiba
"Aku bukan tak mau tapi aku belum siap "
"Kau ingin memikirkannya ? oke aku akan kasih waktu sampai besok apapun jawabanmu aku akan terima " semua rencana itu buyar dan aku membuat keluarga Deo kecewa.
Kami berdua masuk "maaf bibik, paman kami sudah ngomongi kalau saya butuh waktu memikirkannya, maafkan saya paman, bibik " menunduhkan kepala merasa bersalah
" Nak Vira gak papa, si Deo ini ajah yang terlalu tergila - gila sama kamu dia gak sabar karena yang dia Khawatiri hanya kamu,,, kamu terus " ibunya mendekat dan membelaiku dengan kasih sayang.
Deo adalah laki-laki sempurna, aku sangat beruntung Allah mengirimkannya padaku masalahnya bukan di Deo tapi ada pada diriku aku terlalu takut nanti aku kecewa karena jujur Deo adalah cinta pertama.
Banyak rumor kalau cinta pertama manis di awal saja. Malam ini aku tidak bisa tidur dan terus memikirkannya.
Flasback On
__ADS_1
" Deo ... ada kabar bagus gue diterima masuk universita yang kamu sarankan padaku padahal kan aku tak pintar " merasa bangga dan sangat senang
"Hahhaha... kan aku siap ngajari kamu kapanpun "
Disaat kami bertengkar
" Deo kenapa sih loe gak pernah hubungi gue dan gak perna jemput gue ? " dengan emosi yang tinggi dan berteriak - teriak
" Ustttt... " aku ditarik oleh Deo menjauh dari keramaian
" Kamu ini ngomng baik - baik jangan teriak - teriak gitu gak enak dengan yang lain " menghempas tangannya yang menggenggamku
" Terus ajah menyangkal dari pertanyaan gue "
Flashback off
" Bagaimana keputusanmu ? " Deo datang kerumah sendirian
"Iya aku mau " mengukir senyum kutunjukan pada Deo
"Beneran,,, aku gak salah denger " Deo begitu senang
" Iya, gue mau " dia langsung beranjak dari kursi depan rumah tempat percakapan kami.
__ADS_1
Aku merasa heran dengan reaksinya itu aku langsung bertanya
"Deo mau kemana ?"
" Iya bawah orang tuaku untuk ngelamar kamu " aku mengangguk dengan tersenyum bahagia .
Siang ini pertunanganku dan Deo berlangsung kabar bahagia ini aku beritahu Yuna dan Sasra namun karena perkulihan meraka tidak datang namun mereka berjanji saat pernikahan mereka akan datang.
Yuna
Aku sangat bahagia untuk kak Deo dan Vira yang sebentar lagi akan menjadi satu keluarga. Kini aku dan Sasra pulang bersama naik MRT karena arah kami berbeda Sasra turun telebih dahulu. Saat sudah turun MRT aku berjalan menuju rumah aku melihat pasangan yang sedang bersenang - senang tapi itu mengingatkanku pada ingatannya itu.
Saat ingatan itu muncul aku bagai ada di dunia yang berbeda dan aku seperti bukan diriku " Yuna aku ada pesta bersama teman - teman di punca kita akan menginap 3 hari disana ayo ikut yok "
" Oke aku akan ngomong ke papa dulu Juna "
"Oke,,, oke aku tunggu pokoknya kabari ajah " sejenak rasa sakit dikepalaku berangsur baik namun bayangan cerita lain mulai lagi
" Kau harus hapal nama gue dan juga muka gue " dia membuka penutup mataku dan terlihat laki-laki yang gue takuti tapi gue kenal cowok ini bukannya dia orang yang narik-narik kasar tangan gue "gue Ansel " astaga Cowok itu Ansel rasa takutku menjalar membuat bulu kudukku berdiri pasalnya dia .... dia ada dekat - dekat sini.
__ADS_1