Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
14. Mimisan


__ADS_3

Sampai dirumah, Sera tiba-tiba ingin berendam di bathtub pun berendam di bathtub air hangat yang penuh dengan busa, saat selesai mandi, Sera tak melihat Julian, Sera pun langsung ke luar kamar dan melihat Suta di Bale bengong,


"Ayah, Ayah lihat anak wungsu Ayah??" Tanya Sera


"Ah, Julian ada didapur, gak tau daritadi masak apa," Suta


"Sera,"


Sera melihat Julian datang dengan spatula di tangannya,


"Sera, ayo kesini, aku udah masak buanyakkkk makanan untukmu. Buat Ayah akan kubawakan nanti," Julian bersemangat


"Makanan?? Kau masak??" Sera


Julian mengangguk, "Iya, aku membuatkanmu banyak makanan, untuk makan siang dan makan malam nanti, pokoknya makanan sehat dan bergizi dan yang paling penting enak," Julian


"Bahan-bahannya?? Di kulkas kalau gak salah hanya ada ayam dan ikan deh, sayurannya ngak ada kayaknya," Sera


"Iya, coba kesini liat dulu," Julian


Julian menarik tangan Sera dan membuat Sera terpaksa mengikuti Julian, di bale bengong kecil didepan dapur, Sera melihat berbagai masakan,


"Lihat, ada sayur sop, pindang tomat, telur bayam dan pelecing kangkung. Aku tadi pergi mencari warung sekitar dan ada buka satu yang dekat SD setelah mengantarmu ke sekolah. Coba kamu cicipi Sera," Julian


Sera mengambil sendok yang Julian taruh di setiap piring masakan dan mulai mencicipi satu per satu,


"Enak??" Julian


Sera mengangguk, "Iya, cocok dah kau jadi Sugar Daddy. Tapi masalahnya, Ayah gak bisa makan ini terlalu banyak, paling hanya pindang tomat dan sedikit telur dadar," Sera


"Heh??" Julian bingung


"Ayah, kalau terlalu banyak makan sawi atau kol, pinggang Ayah akan sakit, kalau makan pindang bisa gatal-gatal, kangkung ataupun bayam juga sama, karena itu aku hanya membeli ayam agar Ayah yang masak sendiri, biasanya sih kuah kuning ditambah pepaya muda dicampur ayam," Sera


Julian terdiam dan menjadi setengah mengerti,


"Alasanku suka beli mie dan cola karena aku bosan dengan makanan yang ada, sedangkan aku gak mungkin ngerubah makanan utama karena itu buat Ayah, dikit aja ada makanan yang terlalu sering, Ayah pasti sakit lagi, yaaa keuangan juga dihitung sebagai alasan sih," Sera


Julian sekarang mengerti salah satu alasan Sera sering makan mie, Julian menjadi suram karena merasa tidak tau tentang kesehatan Sang Ayah.


Sera melihat itu dan tersenyum lalu mencubit lembut kedua pipi Julian,


"Sekali-kali kayaknya gak apa, Ayah pasti akan memakan masakanmu, tapi ingatlah lain kali masak masakan yang boleh dimakan oleh orang tua yang punya darah rendah dan kolesterol. Aku akan memakan apapun yang aku inginkan, karena itu, memasaklah untuk Ayah ya adik," Sera memberi semangat


Julian tersenyum dan mengangguk,


"Baiklah Kakak, aku mengerti," Julian


Sera melepaskan pipi Julian dan berkacak pinggang, "Hm hari ini sebenarnya aku mau makan pizza, tapi karena ada makanan yang lebih enak, lebih baik, aku makan makanan yang udah ada, sekalian irit uang, gajih bulanan masih lama," Sera


"Gajih bulanan??" Julian


"Iya, Mama kan udah mati dan dapat uang pensiunan- sebentar, kau udah ada sih kau yang harusnya dapat, setelah lulus kuliah nanti baru berakhir," Sera


"Ngak usah, aku belum terdaftar dalam KK*, karena itu Pensiunan Mama untukmu aja Sera," Julian


*Kartu Keluarga

__ADS_1


Sera berpose berpikir, "Bukannya aneh ya, namamu gak ada dalam KK, aku berpikir aku gak punya adik karena selama ini aku gak melihat namamu di KK. Haruskah kita bertanya pada Ayah??" Sera


Julian terdiam,


"Aku pikir sebaiknya jangan Sera, kita gunakan KK sebelumnya sampai saat yang tepat, kita pasti akan menjadi satu KK," Ujar Julian dan tersenyum


"Ya terserahmu. Aku akan menyiapkan banten* Ayah dulu baru makan, kau tutupi aja dulu makanannya," Sera


"Baiklah," Julian


Sera pergi ke dapur, di sisi lainnya, Julian menjadi curiga sendiri walau tadi berkata lain,


"Hal apa yang disembunyikan Ayah dan Keluarga Ginanjar?? Walau aku dititip disana, tapi namaku seharusnya tetap di KK Keluarga Ayah Suta, apa yang terjadi?" Bathin Julian.


.


"Seraaaa, Agusss datangg,"


Sera yang sedang asyik tiduran di ranjang bersama Julian pun keluar dari kamar bersama Julian,


"Tumben siang dateng, biasanya pagi," Sera


"Iya, tadi sibuk di rumah," Rini


"Kak Rini, kalau nyari rinso itu di keranjang aku taruh kemarin," Julian


"Baiklah," Rini


Rini melihat pakaian Sera,


"Wih, kamu pakai barang branded Ra," Rini ke Sera


"Pfft," Julian menahan tawa


"Bukan, Julian kayak yang ngasih waktu itu gak," Rini


"Mazaa??" Sera


"Iya, aku mencari tau dari Kak Prayoga dan aku memesan dengan ukuranmu sebelum aku berangkat ke Bali, untungnya aku punya koneksi di beberapa brand ternama jadi bisa deh buatin di luar ukuran buatan mereka biasanya," Julian


"Inget Sera, walau Julian adik kembarmu, tapi Julian tetap cowok, jaga sopan-santun dan tingkahmu," Rini


Sera cemberut dan pergi,


"Kan kan, susah amat dibilangin Si Sera," Rini


"Sudahlah Kak, jangan terlalu keras pada Sera. Lebih baik Kakak makan siang aja, Kakak udah makan siang?? Ada banyak makanan di meja makan," Julian


"Makanan?? Kau masak??" Rini


"Kenapa responnya sama kayak Sera?" Bathin Julian


Julian mengangguk, "Iya Kak, Sera dan Ayah makan banyak, tapi masih ada kok, aku buat banyak banget," Julian


"Baiklah, nanti dulu sekalian suapin Agus," Rini


"Baiklah," Julian

__ADS_1


Julian kembali ke kamar dan melihat Sera sedang minum susu kotak yang mereka beli sebelumnya.


"Uhukkk,"


Julian terkejut saat Sera tiba-tiba tersedak,


"Kenapa Sera??" Julian


"Jangan tanya kenapa padaku, itu- itu kau-" Sera


"Hah?? Aku kenapa??" Julian


Sera susah bicara karena masih tersedak, walau begitu, Sera masih tetap berteriak memanggil Rini, Rini pun datang dan terkejut melihat jika Julian mimisan,


"Julian, kamu mimisan. Sera, cepat ambilkan es di kulkas," Rini


"Baiklah," Jawab Sera cepat


Sera pun langsung pergi lewat jendela agar lebih cepat keluar, sedangkan Rini mendudukkan Julian di ranjang dengan tisu di tangannya,


"Ya ampun Jul-Jul, kamu terlalu bekerja keras, seharusnya kamu jangan memaksakan diri," Rini


"Aku gak papa kok Kak, jangan khawatir, kayak gini mah sering," Julian


Sera datang dengan membawa es, Julian mengambil itu dan mengompres hidungnya menggunakan es batu itu,


"Untung semalam aku buat banyak es," Sera


"Sekarang kamu istirahat aja Jul, kerjaan yang lain biar Sera aja yang ngelakuin, lagian kan emang gak ada kerjaan si Sera," Rini


"Aku baik-baik aja kok Kak, jangan khawatir," Julian


"Ahhh aku kira aku akan mempunyai adik yang kuat, tapi ternyata kau sama aja kayak Agus, sama-sama lemah, payah," Gerutu Sera


Julian menatap Sera lalu menunduk,


"Eh Sera, kau itu jauh lebih payah dari Julian, masih mending Julian mau pindah ke Bali ketemu Ayah, jika gak mau seperti apa kamu sekarang," Rini mengomel


Sera menjadi kesal, Sera pun mengeluarkan Rini dan Julian dari kamarnya dan mengunci pintu dan bahkan jendela,


"Nyebelin," Sera.


.


Di luar pintu, Rini mengomel karena Sera bersikap kekanakan,


"Anak itu kapan dewasanya coba, dinasehati bukannya dengerin malah ngambul gitu, gitu dah dimanjain Ayah terus," Rini


"Kak Rini, sudahlah, jangan memarahi Sera seperti itu," Julian


"Kamu juga jangan manjain Sera, dia bisa tambah manja nanti," Rini


"Kakak, sstttt, jangan diperlebar lagi, Kakak awasi saja cucian Kakak," Julian


"Kamu ini keras kepala juga, ya sudahlah, kamu istirahat di kamar Ayah aja dulu," Rini


"Ya," Jawab Julian

__ADS_1


Rini pergi, Julian pun terduduk di lantai dan bersandar di pintu kamar Sera,


"10 tahun, aku berusaha melatih diriku agar kuat, tapi apa yang terjadi, aku masih saja lemah, jika aku masih seperti ini, aku nggak akan bisa melindungi Ayah maupun Sera, aku harus melakukan sesuatu," Bathin Julian.


__ADS_2