
Siang harinya, rumah cukup sepi karena semua yang bekerja sedang tak ada di rumah, Sera sendiri yang adalah Janda Pengangguran Kaya Raya hanya sibuk pengobatan wajah dan perawatan kuku sambil menemani Serena yang memiliki sifat sepertinya (Pemalas+Tukang Tidur).
Dan karena kesepakatan antara Sera dan Sean, Gladis pun menjadi salah satu ART(Asisten Rumah Tangga), Sera dengan leluasa bisa menyuruh-nyuruh Gladis.
Teman-teman Julian yang menginap merasa sedikit kasihan, karena Gladis yang sedang hamil besar malah harus bekerja, namun mereka tidak bisa berbuat apapun mengingat Julian sangat membela Sera, mereka sendiri pun juga memiliki urusan masing-masing yang harus dikerjakan.
Malamnya saat Julian baru pulang kerja, Julian bertemu Gladis di Kebun depan runah, Julian melihat jika Gladis sedang menyapu halaman rumah yang luas,
“Gladis, kau menyapu ini semua sendirian??” Julian
“Iya, Sera menyuruhku bekerja, aku tak boleh makan sebelum aku menyelesaikan semua pekerjaanku,” Gladis melebih-lebihkan
“Ya Tuhan, bagaimana bisa Sera menyuruh wanita hamil menyapu halaman seluas ini sendirian. Gladis, kau istirahat saja sekarang, walau aku membenci Sean, tapi bayi dalam kandunganmu tidak memiliki salah apapun, kau harus banyak istirahat Gladis,” Julian
Julian pergi, dan diam-diam Gladis menyeringai,
“Saat Julian tidak berpihak padamu, maka saat itu juga kau akan hancur, dasar ******,” Gladis.
.
Di kamar Sera, saat Julian sampai disana, Julian melihat Sera sedang menyusui Serena,
“Sera, aku mau bertanya sesuatu,” Julian
“Tidak bisakah nanti?? Serena baru saja minum susu,” Sera
“Tidak bisa, ini sangat penting. Sera, kamu tau kan jika Gladis sedang hamil 5 bulan, kamu jangan membuat Gladis bekerja keras, kamu gak kasihan sama janinnya??” Julian
“Ngak. Sean aja gak peduli coba, kenapa kau yang peduli?? Jangan-jangan anak dalam perut orang itu bukan anaknya Sean tapi anakmu,” Sera
“Sera, jangan sembarangan bicara!! Aku tak pernah menyentuh Gladis,” Julian
“Yaaa, aku hanya berasumsi, kalau salah ya jangan di dengar. Sebaiknya kau pergi dari kamarku, aku sedang tak ingin diganggu saat lagi menyusui,” Sera
Julian pergi,
“Dia pasti akan melakukan sesuatu, aku harus siap apapun itu,” Bathin Sera.
.
.
.
Malamnya, beberapa anggota Keluarga makan bersama dalam satu meja, seperti Alan, Anggi, Billy, Arina, Nano, Citra, Rini, anak-anak, Ayu, dan Gladis, dan entah mengapa, Julian yang diikuti teman-temannya ikut makan bersama, dengan tambah Ezhar disana,
“Wahhhh, Para Bibi ART semuanya pintar masak, makanannya semua terlihat lezat,” Reina
“Teman-temannya Julian dan Temannya Sera, ayo dimakan, jangan malu-malu,” Citra
“Ya Kak,” Vino semangat
Ezhar nampak melihat sekeliling,
“Dimana Sera?? Sera gak ikut makan??” Ezhar
__ADS_1
“Hm? Sera gak pernah mau makan didepan banyak orang, jadi dia selalu makan di kamarnya, terutama karena Julian selalu membawakan makanan untuk Sera, ahh Julian selalu saja memanjakan Sera, sekarang Sera malah berbuat seenak jidatnya. Ditambah dengan kehadiranmu Ezhar, Sera pasti akan tambah manja,” Rini
“Tapi daritadi aku tak melihat siapapun membawakan Sera makanan,” Ezhar
“!!!” Julian tercengang sendiri
“Aku selalu duduk di sofa sambil menonton film, tapi tak ada tuh aku liat yang membawakan Sera makanan dari siang,” Ezhar
“Dari siang?” Dion
“Ya ampun, bukannya Sera melakukan perawatan kulit tadi, kenapa sampai lupa makan?? Pelayan tak mengingatkan Sera untuk makan??” Reina
“Aihhh Kak Reina, semua pelayan sibuk daritadi, gak ada yang akan peduli,” Arina
“Bukannya Bi Nur sudah kusuruh hanya melayani Sera,” Julian
“Hm- Itu- Aku meminta bantuan Bi Nur untuk membelikanku beberapa barang, aku tak tau jika Bi Nur Pelayan Khusus untuk Sera,” Gladis
“Ahh, sepertinya aku harus menambah pelayan, rumah sebesar ini hanya diurus 4 Pelayan memang susah ya,” Julian
“Kalau gitu serahkan padaku, aku yang akan memilih, sekalian aku ingin membuat warnet seperti warnet Pak Garba, bolehkan??” Alan
“Tanyakan pada Sera dan Ayah, bisnis Keluarga ini sudah banyak, jika ditambah mungkin akan sedikit merepotkan,” Julian
“Tidak akan merepotkan, lagipula gak selamanya aku mau kerja di Kantormu,” Alan, “Jika suatu hari nanti kau berubah pikiran terhadap Sera, Keluarga ini bisa hancur seketika,” Lanjut Alan di bathinnya
“Wah Alan sudah tambah dewasa ternyata, bagus sekali,” Puji Nano
Julian mengambil piring baru dan mengambil beberapa makanan dan nasi,
Julian menatap Alan, “Apa maksudmu??” Julian
“Makanan itu untuk Sera kan??” Alan
“Iya,” Julian
“Sejak kapan Sera mau memakan makanan seperti ini??” Alan
Julian melihat makanannya dan baru sadar jika semua makanannya merupakan makanan yang berbumbu kasar,
“Ah iya, bisa-bisa kamu dilempar piring oleh Sera seperti dulu, ingatkan?? Kamu hampir seminggu tidur di bale bengong di luar karena Sera marah,” Rini
“Kakak dan Alan benar, aku akan meminta Bibi membuatkan sesuatu untuk Sera,” Julian
Saat Julian akan pergi,
“Julian, setidaknya makan dulu, aku yakin kamu belum makan juga,” Gladis
“Tidak, Sera harus makan dulu baru aku boleh makan, itu peraturanku,” Julian
Julian pergi,
“Wahhh so sweetnya,” Reina
“Kak Rin, apakah Si Julian selalu begitu?? Bukannya waktu kecil dia suka meremehkan Sera?? Aku masih ingat jelas karena usiaku 4 tahun lebih tua dari mereka,” Ezhar
__ADS_1
“Meremehkan?? Ezhar, kau tau masa kecil Julian dan Sera??” Vino
“Tentu saja, jika bukan karena sehari setelah ngaben Mamanya Sera, aku harus pergi ke Itali, mungkin saja aku bisa membantu Keluarga Sera supaya tetap di Jakarta, sayang sekali Tetua Keluarga Affandra menyuruhku kesana secepatnya, cih,” Ezhar
“Sebentar, kalian bertiga mengenal Ezhar??” Rini
“Tentu saja, Keluarga Ginanjar dan Keluarga Affandra adalah musuh bebuyutan, siapa yang tidak tau mereka di antara kaum Konglomerat dan Bangsawan,” Dion
“Benar, dan kami Keluarga Netral hanya bisa mendukung siapapun yang kami inginkan,” Reina
“Oh ya, sepertinya kita belum kenalan walau udah bertemu beberapa kali, kenalin, aku Kakak Sepupu Sera, panggil aja Nano, dan ini Istriku Citra,” Nano
“Namaku Vino, salam kenal Kak,” Vino
“Aku Reina,” Reina
“Dan aku Dion, Tunangan Reina,” Dion
“Lalu kamu yang tadi pagi kan? Temannya Sera??” Nano
“Bukan teman aja, aku pacar masa kecil Sera, malahan aku punya janji pernikahan dengan Sera, aku datang untuk menagihnya, namaku Ezhar,” Ezhar
“Ugh, dirumah ini sangat kacau, Sera terlalu hebat, dia bisa menyatukan mantan suami, mantan adik yang mencintainya, mantan pacar, sekarang pacar masa kecil di satu rumah, menyatukan buaya lapar dalam 1 kandang, itu kan sangat hebat,” Alan
“Alan, tutup mulutmu,” Ayu
“Kenapa Bu? Aku kan hanya berkata jujur,” Alan
“Aku menghargai kejujuranmu Alan, tapi aku bukan buaya sepertimu atau 3 lainnya, jangan samakan aku dengan yang lain,” Ujar Julian yang datang
Julian pun langsung pergi setelah mengatakan itu,
“Ada satu hal yang membuatku penasaran, kalian bertiga teman-temannya Julian, kalian pasti memiliki Keluarga yang ternama juga kan, dan sepertinya aku pernah liat beberapa kali di berita,” Alan
“Kau mau tau nama Keluarga kami??” Vino
“Iya,” Alan
“Baiklah, aku pertama, aku Vino Arisditya, aku anak kelima di Keluarga Arisditya, Kakakku semua perempuan dan itu sangat membuatku jengkel, Keluargaku memang tidak sekaya Keluarganya Dion dan Reina, tapi Keluargaku masih keturunan ningrat, Keluargaku menjalankan bisnis transportasi dan lainnya,” Vino
“Kalau aku Reina Giovanni, aku dari Keluarga Giovanna, aku juga merupakan Keturunan Bangsawan Inggris seperti Julian, jadi bisa dibilang aku dan Julian itu kerabat jauh, Keluargaku biasanya bekerja disekitar politik dan Pemerintahan, bisnis di luar ya hampir sama seperti bisnis Keluarga lainnya,” Reina
“Sedangkan aku adalah Altezza Dionada, aku dari Keluarga Altezza, bisnis Keluargaku gak banyak, hanya ada tambang pemata, beberapa bank, agensi dan perusahaan perfilman, dan lainnya,” Dion
“Wahhh teman-teman Julian bukan orang biasa-biasa juga,” Ayu
“Karena itu Si Julian semakin sok tinggi, Perusahaannya sekarang adalah perpaduan Perusahaan Keluarga 3 orang ini, atau gak, gak mungkin dia bisa melawan Kekuatan Tetua Keluarga Ginanjar dan musuh-musuh Keluarga Ginanjar,” Ezhar
“Setidaknya Julian sudah berusaha mati-matian untuk mempertahankan dan memajukan Perusahaan, tidak sepertimu yang hanya tinggal naik tahta jika Ayahmu mati,” Dion
Suasana menjadi dingin,
“Aduh, sudah-sudah, hentikan pembicaraannya, kita sebaiknya fokus makan sebelum makanannya dingin,” Rini mencoba mencairkan suasana
Semuanya pun kembali diam dan fokus ke makanan mereka.
__ADS_1