
5 bulan kemudian....
Pada siang hari, Sera dan Keluarga akhirnya bisa ke rumah setelah renovasi besar yang mengharuskan mereka menginap di Villa seperti sebelumnya.
Sera sempat terkejut karena dari gerbang sudah terlihat mewah, dengan bagian timur yang tetap dengan rumah adat Bali yang juga di perbagus, mereka berjalan ke arah barat dan melihat parkiran mobil dan motor(Parkiran dibuat cukup besar karena berisi mobil bak Suta dan beberapa mobil sport yang Alan beli menggunakan kartu atm Julian), dan lebih ke barat, mereka melihat rumah 2 lantai yang sangat luas(Julian memperluas lagi tanah di rumah Sera).
Saat masuk ke dalam rumah, rumah baru yang berbentuk persegi panjang dengan taman indoor dan luas 4 hektar, setelah berbincang dengan Keluarga Om Kumis, lantai bawah yang terdiri dari 1 Ruang Tamu yang luas dan langsung terhubung dengan taman, 1 Kamar Om Kumis, 1 Kamar Nano, 4 Kamar Pembantu, 1 Kamar Suta, 1 Kamar Bi Ratna, 2 kamar untuk 2 Paman Sera, 6 Kamar Tamu, 1 Dapur, 1 Ruang Makan, 3 Toilet Luar, 3 Ruang Penyimpan Stok Barang dan Makanan, 1 Ruang Perlengkapan Bayi, 1 Gudang, 1 Ruang Penyimpanan Pakaian Keluarga yang sudah tiada, 1 Ruang Suci, 2 Penyimpanan Banten, 1 Ruang Bermain, 1 Kamar Sean, 1 Kamar Yohan, 2 Ruang Kosong, dan 2 Ruang untuk Satpam dan Pembantu bisa bersantay saat istirahat.
Di lantai 2, di paling tengah ada kamar Sera yang paling luas(Bangunan Rumah Baru di lantai bawah terbuka dan di lantai atas tertutup), dan di sekitarnya ada 1 Kamar Julian yang terhubung langsung ruang kerjanya, 1 Kamar Alan, 1 Kamar Billy, 1 Kamar Arina, 1 Kamar Rini, 1 Kamar Anggi, 1 Kamar Nata dan Agus, 1 Kamar Anak Perempuan (Kamar Devina, Dinara, dan Pipit), 2 Kamar Tamu dan 4 Kamar untuk anak-anak Sera.
Pembantu pun bertambah, yang tadinya hanya 2 menjadi 4 Pembantu, 1 Tukang Kebun, 4 Satpam, dan 3 Babysitter.
Sera pun merasa senang karena Rumah Baru itu juga adalah salah satu rumah impian Sera.
Namun baru 1 bulan Sera menikmati rumah baru, Sera mengalami kontraksi, Julian pun memaksa Sera menginap di rumah sakit sampai jadwal persalinan, Sean maupun Yohan pun sangat setia menemani Sera bersama Julian di Rumah Sakit sebulan penuh.
Bahkan Kamar untuk bayi pertama Sera sudah Julian persiapkan sesuai arahan Sera, dengan barang-barang mewah nan mahal, kamar bayi Sera menjadi satu-satunya kamar yang membuat para Keponakan Sera maupun orang tuanya iri karena tak pernah mendapatkan kemewahan seperti itu saat lahir.
Saat waktunya kelahiran bayi Sera, Sera yang memilih operasi sesar, 3 Pria tampan dengan khawatir menunggu di ruang tunggu bersama Suta dan Keluarga Sera lainnya,
“Julian, Rumah Sakit ini bukannya sangat mahal?? Gak mungkin bpjs bisa digunain disini,” Rini
“Rumah sakit ini yang direkomendasiin sama Dokter kenalanku, lagipula selama Sera dan bayinya selamat, uang sebanyak apapun sepadan dengan itu,” Julian
“Aihh, jangan-jangan setiap usg kamu membawa Sera kemari,” Rini
“Ya tentu saja, biar sekalian,” Julian
Mendengar Julian yang rela mengeluarkan banyak uang membuat Sean sedih karena dirinya yang tak bisa sembarangan mengeluarkan banyak uang,
“Andai Perusahaan Kakek lebih besar lagi, ini semua gak akan terjadi,” Bathin Sean
Beberapa lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan, semuanya pun merasa senang,
“Ayah, bayi Sera lahir,” Julian ke Suta
“Iya, Ayah jadi Kakek lagi,” Suta
Dokter keluar,
“Dokter bagaimana bayinya??” Julian
__ADS_1
“Hmm yang mana Ayahnya??” Dokter
“Sa-“ Sean
“Saya Dok,” Julian mendahului
“Ah, bayinya lahir dengan selamat dan sehat, Ibunya juga dalam keadaan sehat, dan bayi terlahir perempuan, sangat cantik,” Dokter
“Be-Benarkah Dok?? Boleh saya melihat??” Julian
“Bayinya sudah dibersihkan, tapi kata Ibunya, Kakeknya harus pertama masuk, sebelum Sang Kakek, yang lain gak diijinkan masuk,” Dokter
“Saya Kakeknya Dok, saya akan masuk,” Ujar Suta yang tau maksud Sera yang menyuruhnya masuk pertama
“Ayah, aku mau ikut satu,” Alan
“Baiklah,” Suta
Suta dan Alan masuk.
.
“Ayah, Alan, bagaimana Sera dan bayinya??” Julian
“Mereka baik-baik saja,” Suta
“Sera masih setengah sadar karena obat bius, sedangkan bayi perempuannya sangatttttttt muanissss,” Alan
Alan menunjukkan sebuah foto,
“Tadaaa aku mengambil fotonya, siapa mau-siapa mau?? Akan kulelang dengan harga mahal, foto pertama bayi manis nih- akh!!” Alan
Alan meringis saat Rini menjewer telinganya,
“Kamu jangan berani melelang foto Keponakanku, dasar,” Rini
“Ugh ya maaf,” Alan
Rini mengirimkan foto itu ke 3 pria itu masing-masing, mereka bertiga sontak mengambil ponsel, mereka tercengang karena gen bagus Sean mengalir sempurna ke bayi perempuan yang terlihat berisi itu,
“Putih, manis, dan lembut,” Julian
__ADS_1
“Seperti mochi,” Yohan
“Ini adalah putriku,” Sean
“Aku akan masuk untuk melihat,” Rini
Rini pergi bersama Ayu, di dalam Sera ternyata tak memperbolehkan keduanya melihat Sang Bayi, Rini dan Ayu pun menjadi hanya bisa melihat kondisi Sera,
“Sera, bagaimana kondisimu??” Rini
“Masih lemas, beruntung efek obat biusnya bisa bertahan,” Sera
“Setiap melahirkan memang seperti itu, bahkan walau sesar, rasa sakitnya masih bisa terasa, kamu beruntung operasi di rumah sakit bagus, peralatan dan obat-obatannya bagus, sedangkan aku hanya di rumah sakit swasta biasa,” Rini
“Kau gak tau?? Rumah sakit ini milik Kakak Kelasnya Anak Angkat Ayah waktu SMA, namanya kalau gak salah Axel, dia sendiri yang ngurus keperluan operasi ini,” Sera
“Pantas saja. Oh ya Sera, kamu akan beri nama siapa pada bayi perempuanmu??” Rini
“Aku sudah putuskan dari aku hamil, namaku bayiku adalah Serena,” Sera.
.
.
.
2 minggu kemudian...
Sera keluar dari rumah sakit dengan keadaan pulih total(Biasanya 3 hari saja sudah cukup), setelah upacara penyambutan khas Bali selesai.
Sera pun masuk ke kamarnya dengan membawa bayinya yang di gendong Julian, setelah menempatkan Serena ditempat tidur bayi yang dekat dengan ranjang Sera,
“Sera, kamu istirahatlah, aku akan menyuruh Bi Nur untuk melayanimu seorang dan Mbak Rina untuk mengurus keperluan bayimu,” Julian
“Ya. Tapi, kenapa kau gak ke Kantor?? Biasanya kau di Kantor jam segini, udah 2 minggu lebih aku melihatmu tak bekerja,” Sera
“Aku bekerja dari rumah Sera. Si Alan sudah wisuda, dan hasil wawancara dia cukup bagus, dia langsung jadi asisten Pak Jo, ada Yohan dan Sean yang perusahaannya sudah aku akuisisi, jadi mereka bekerja dibawahku, semua tanggungjawab kecil mereka yang mengurus, aku hanya mengawasi mereka,” Julian
“Perusahaanmu sepertinya nampak besar, pasti akan banyak musuh,” Sera
“Uh, bagaimana kamu tau Sera, tapi seberapa banyak apapun musuhku, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti Keluargaku,” Julian.
__ADS_1