Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
40. Fakta Disamping Salah Paham


__ADS_3

Di luar pintu, Sera mendengar perkataan Julian dan teman-temannya, Sera menjadi sedih dan kembali ke kamarnya, mengunci pintunya dan menangis, namun Reina yang sedari tadi diam memperhatikan Julian,


“Lian, lo- gak pakai headset atau earphone?? Kalo diliat dari kebiasaan lo, volume laptop lo seharusnya 80% sampai 100%, Sera kalo lewat di depan pintu lo aja pasti bisa denger percakapan kita, apalagi tuh pintu terbuka dikit kayaknya,” Reina


Julian tersadar dan sontak menatap pintu, Julian berdiri dan pergi mengecek kamar Sera dan masih terkunci,


“Sera,” Lirih Julian


Julian kembali ke kamarnya,


“Ekhm, gue harap Sera gak denger perkataan gue, lagipula perkataan gue kagak salah,” Gin


“Kata-kata lo gak salah, tapi waktu perkataan lo yang salah Gin. Si Lian kita ini lebih memilih mati daripada menyingkirkan Kakak Kembar kesayangannya, iya kan Lian??” Dion


“Iya, gue emang benci sifat Sera, tapi bukan berarti gue benci Sera, Sera adalah segalanya buat gue, tidak ada yang lain kecuali Sera. Guys, gue keluar vc ya, kepala gue udah muter mikirin Sera,” Julian


“Lahhh, oke deh Lian, kita lanjutin kapan-kapan,” Vino


Julian menghentikan video call dan entah mengapa, air matanya menetes, Julian melihat air matanya ditelapak tangannya,


“Aku bahkan gak pernah mengeluh selama latihan 3 tahun, tapi ini kenapa..??” Bathin Julian.


.


Kebesokannya, Julian mengikuti Sera sepanjang hari, Julian mencoba mengajak Sera bicara namun Sera tetap tak bergeming, Sera mendiamkan Julian dan menganggap Julian tidak ada.


Julian tiduran di sofa panjang karena lelah dengan pekerjaannya di laptop,


“Biasanya jam segini rumah ramai tapi kenapa sepi sekarang ya? Apakah karena Sera tidak menghidupkan musik Koreanya dan ngak keluar kamar ya?? Bosan sekali rasanya,” Keluh Julian


Namun tiba-tiba, Sera turun bersamaan dengan Ayu yang turun,


“Sera, tunggu sebentar,” Ayu menghentikan Sera


“Apa?” Sera dingin


“Tante pengen minta pendapat Sera, Tante ingin mengadopsi anak, kamu bantu pilihkan ya,” Ayu


“Eh?? Ayah udah tau??” Sera


“Ayahmu hanya bilang coba tanyain ke kamu,” Ayu


“Oh baiklah, berarti anak angkat Tante itu juga akan menjadi adikku,” Sera


“Aku menolak,” Julian

__ADS_1


Julian mendekat ke mereka,


“Kenapa?? Ini kan adalah Calon Anak Tante, Sera sudah mempunyai kamu, Tante takut tidak akan ada yang akan mengurus abu Tante nanti,” Ayu


“Aku tetap menolak, masalah kematian Tante masih jauh, tidak baik membahas kematian saat seseorang masih hidup. Aku menolak Sera punya adik lain selain diriku,” Julian


“Tante, aku mau adik baru,” Sera


Sera mengambil map yang dibawa Ayu,


“Ini data-data yang Tante pilihkan, aku akan memilih satu,” Sera


“Sera, kamu gak dengar?? Aku menolaknya, aku tidak akan biarkan kamu mempunyai adik lain, hanya aku adikmu satu-satunya,” Julian


Sera tak mendengarkan dan pergi,


“Julian, biarkan Sera memilihkan anak untuk Tante, Tante juga sangat menginginkan anak sendiri,” Ayu


“Tante menginginkan anak sendiri tapi gak pernah menginginkan anak tiri Tante,” Julian


Julian pergi ke kamarnya diatas.


.


.


.


Suatu hari, Julian akan keluar lagi, namun saat ditangga, Julian berpapasan dengan Sera, Sera lagi-lagi mendiaminya, Julian yang sedih hanya bisa menunduk pergi, namun Julian melihat darah menetes di anak tangga, Julian sontak menatap Sera yang berjalan ke kamarnya, Julian melihat jika tangan Sera dipenuhi darah.


Julian dengan cepat mendekat ke Sera dan meraih tangan Sera, Julian melihat jika 2 jari Sera tersayat pisau dan mengeluarkan banyak darah,


“Sera, kamu terluka?? Kenapa??” Julian cemas


Sera mencoba menarik tangannya namun tenaga Julian jauh lebih besar,


“Lukamu harus di obati,” Julian


Julian membawa Sera ke kamar Sera, Julian mendudukkan Sera di ranjang dan mengambil obat P3K, saat akan mengobati Sera, Sera terus menerus menolak dan membuat Julian kesal,


“Berhenti memberontak!!” Julian menaikan suaranya


Sera sontak terdiam, setelah selesai mengobati luka Sera, Julian menatap luka Sera,


“Aku akan menyewa pembantu, kamu tidak perlu memasak lagi, aku gak mau kamu terluka lagi,” Julian

__ADS_1


Julian menatap wajah Sera dan melihat Sera menangis,


“Maafkan aku,” Julian


Sera hanya diam,


"Sera, jangan seperti ini, ceritakan padaku, aku janji akan selalu dipihakmu apapun yang terjadi," Julian


Hening...


"Dulu, saat aku kelas 4 SD, Si Sialan itu memukuli Rini karena masalah piring, kami diusir hampir 3 kali, anjing pertama yang aku pelihara dibunuh dengan kejam, aku bahkan pernah ingin di bunuh karena masalah anjing biasa, Ayah gak pernah dipihakku, aku hanya ingin ada seseorang ada dipihakku, tapi- kau sama saja," Sera


Julian tersentak sejenak, Julian melihat Sera menahan tangis, Julian yang tak pernah tau sifat asli Prayoga yang memang orangnya keras, pemarah, dan juga suka main kekerasan fisik maupun mental. Julian menunduk dan meraih tangan Sera, namun Sera dengan cepat menarik kembali tangannya, Julian sontak menatap Sera,


"Jangan menyentuhku!! Kau sama saja seperti Kakak Pertamamu. Kau gak pernah tau, orang itu melakukan kdrt, melecehkan adik iparnya, menyiksa anaknya, selingkuh, bahkan menjadi pengikut ilmu sesat, itu masih sepele, dia juga pernah mengancam akan membunuh Ayah dan membakar rumah ini jika tidak menuruti apa yang dia mau. Kau... Selama kau disini, kau gak pernah melihat Kak Anggi kan?? Itu karena dia takut ketahuan olehmu jika dia suka memukuli istri dan anaknya, dia pasti tau jika kau adalah Mantan Ketos YGS yang punya koneksi di Kepolisian, karena itu dia menyembunyikan istri dan anaknya supaya kau gak tau," Sera


Julian menunduk tak percaya karena Prayoga adalah satu-satunya Kakak Laki-laki yang Julian punya, Sera melihat Julian seperti tak percaya, Sera menjadi kesal,


"Kau gak mempercayai aku juga kan?? Karena itulah aku gak pernah memanggilmu dengan namamu, sampai kapanpun aku gak akan memanggilmu dengan namamu," Sera


Julian tersentak dan sontak menatap Sera dengan terkejut,


"Ser-" Julian


"Sekarang pergi dari kamarku!!" Teriak Sera


Julian dengan ragu pun pergi. Julian kembali ke kamarnya dan berdiri dekat Julian dengan pemandangan bukit yang terlihat karena rembulan, Julian menelepon seseorang, setelah tersambung,


"Hallo, Kak Rini," Julian


Julian menceritakan semuanya,


"Apakah itu benar Kak?" Julian


"....," Rini terdiam


"Kak, jawab aku, kumohon," Julian


"Ya... Maafkan Kakak, Julian. Kakak gak bermaksud menyembunyikan sifat asli Prayo, tapi dia mengancam akan membunuh Agus jika memberitaumu, aku gak berani mengambil resiko, dia menyembunyikan hal itu dan baik padamu adalah supaya dia bisa menggunakanmu untuk mendapatkan banyak uang dari Keluarga Ginanjar. Jul, Kakak harap kamu jangan memberitahu jika Kakak memberitahuku pada Si Prayo, Kakak takut-" Rini jujur dengan isak tangis


"Kakak tenang aja, aku tidak akan membiarkan Kak Prayoga menyakiti Keluargaku lagi, tidak lagi," Julian mencoba tenang


Julian memutuskan hubungan telepon,


"Aku tidak menyangka, Keluarga kandungku memiliki sisi gelap nan kelam seperti Keluarga Ginanjar," Lirih Julian.

__ADS_1


__ADS_2