Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
54. Salah Paham


__ADS_3

Saat Semester 5 dimulai, Sera dan Julian semakin sibuk dengan tugas kuliah, sedangkan Alan diam-diam jatuh cinta pada Sera dan itu jelas sekali terlihat.


Suatu malam, Julian belum kembali dari kantornya, dan hanya ada Sera dan Alan di kamar, mereka sedang mengerjakan tugas masing-masing, hingga Alan memanggil Sera mendekat ke meja belajarnya,


"Sera, kesini sebentar," Panggil Alan


Sera mendekat,


"Sera, coba cek-cek makalahku ini," Alan


"Ahhh baiklah," Sera


Alan membawa Sera ke pangkuannya,


"Kau tau gak, dari awal kuliah sampai sekarang itu selalu Kakakmu lagi satu yang membuat makalah, aku hanya bagian cek-cek dan presentasi, jadi kayaknya gini udah biasa untukku. Tapi sepertinya gak ada yang salah," Sera


"Benarkah?? Coba liatin aja dulu," Alan


"Ya baiklah," Sera


Sera kembali fokus ke laptop tanpa menyadari jika Alan menatapnya dengan mesum.


Tiba-tiba, Julian datang dan melihat Sera di pangkuan Alan yang sedang menatap Sera dengan tatapan mesum,


"Sera, aku pulang," Julian


Sera menengok sekilas, "Ah iya," Sera sekanannya


"Coba lihat, aku membelikan kopi idolmu," Julian


Sera berdiri dengan semangat dan mendekat ke Julian,


"Benarkah???" Sera


Sera mengambil tas belanja yang ada ditangan Julian, Sera melihat Julian membelikan banyak sekali kopi kesukaannya,


"Taruhlah dikulkas untuk stok," Julian


"Baiklah, aku akan minum beberapa untuk malam ini," Sera


Sera pun pergi dengan semangat, Julian menaruh tasnya di meja belajar,


"Kau tau batasan kan?? Aku tau kau gak punya ikatan darah apapun, kau hanya anak adopsi, tapi ingat satu hal, kau itu tidak pantas untuk Sera, jangan berharap untuk menyentuh Sera. Aku tidak akan segan padamu jika kau berani melayangkan tatapan seperti tadi pada Sera," Julian


"Oh ya??? Bukannya kau juga sama?? Apalagi kau adik kembarnya, walau Kembar Tak Serupa, tetap saja kalian memiliki hubungan darah, apa baik jika adik kembar selalu menatap penuh cinta pada Kakak kembarnya??" Alan


Julian tersentak dan mengepalkan tangannya erat,


"Kau harusnya sadar pada posisimu, kau adalah kembaran kandung Sera tapi kau menyukai- tidak, tapi kau mencintai Sera. Aku masih mending hanya ikatan Kartu Keluarga yang menjadi tembok hubunganku dan Sera," Alan

__ADS_1


"Alan kau-!" Julian


Julian melihat pintu terbuka, dan Sera masuk, Julian pun masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara lagi,


Sera merasa bingung dengan suasana dingin nan mencekam di kamarnya itu.


.


Saat tengah malam, Julian tidak bisa tidur karena perkataan Alan sebelumnya, Julian menggeleng beberapa kali untuk menyadarkan dirinya sendiri, Julian sibuk dengan pikirannya sendiri,


"Tidak, kata-kata Si Alan itu gak mungkin benar, aku gak mungkin punya perasaan pada Sera, Sera adalah Kakakku, Kakak Kembarku, gak mungkin," Julian membatin


Julian terus menatap Sera yang berada ditengah dirinya dan Alan.


.


.


.


Namun suatu sabtu hari, Kuliah libur seperti biasanya, dan Sera baru selesai mandi, Sera pun turun ke bawah untuk memakan makanan yang ia beli secara online.


Saat melihatnya di meja makan, Sera melihat makanannya sudah berantakan bahkan bercampur dengan kotoran, Sera melihat Arina yang tertawa ngakak melihat itu, Sera pun mengetahui siapa biang keroknya.


Sera mendekati Arina dengan makanannya dan melemparkan makanan berserta piringnya ke Arina, Arina terluka dikepala dan menjadi kotor, Arina menangis sejadi-jadinya.


Julian mendengar tangisan Arina beserta pecahan piring, Julian maupun Dyana keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur.


"Arina sayang, kamu kenapa menangis sayang??" Dyana


"Sera, apa yang terjadi ini? Kenapa Arina terluka dan menangis?" Julian


Arina memeluk Dyana,


"Kak Lian, dia jahat, dia melempariku dengan piring berisi makanan kotor, aku tidak tau apa kesalahanku sampai dia melakukannya. Bunda, dia sangat jahat padaku, aku tak menyukainya," Arina mengadu dengan melebih-lebihkan


"Ya ampun sampai berdarah gini, sebaiknya kita segera obati. Julian, kenapa Kakakmu begitu jahat seperti itu, udah arogan, jahat pula," Dyana


Dyana membawa pergi Arina dengan diikuti Billy,


"Sera, apa itu benar? Kenapa kau melukai Arina?" Julian


Sera hanya diam, Sera pergi ke kamarnya diatas, Julian mengikuti Sera dan membiarkan Arina bersama Dyana.


Di luar kamar Sera, Julian berhasil meraih tangan Sera dan menghentikannya sebelum Sera masuk kamarnya,


"Tunggu Sera. Sekarang jelaskan, kenapa kau melakukan itu pada Arina? Aku tau Arina nakal, tapi tidak seharusnya sampai melukainya," Julian


Sera hanya diam,

__ADS_1


"Sera! Jawab pertanyaanku!? Aku bisa menoleransi apapun, tapi tidak dengan keselamatan adik-adikku, aku bertanggung jawab atas keselamatan mereka," Julian


Sera hanya kembali diam, Julian menghempaskan tangan Sera,


"Baiklah, kau hanya diam saja, memang sebaiknya kau hanya diam saja selamanya. Terkadang aku merasa jika kehadiranmu membuat Keluarga Angkatku tersakiti," Julian


Julian pergi, air mata Sera mengalir dengan derasnya, tanpa suara Sera masuk kamarnya. Sedangkan Julian baru menyadari jika sudah menyakiti perasaan Sera,


"Apa yang telah kulakukan?? Aku hanya ingin meminta penjelasan tapi malah membuat Sera terluka. Bagaimana caranya aku meminta maaf pada Sera," Julian frustasi.


.


Siangnya, Julian kembali memastikan Sera yang mengunci diri dikamar, namun Julian hanya mendengar suara air dari dalam kamar mandi, namun Julian memilih kembali ke ruang kerja barunya setelah memastikan keadaan Arina baik-baik saja.


Julian pun rapat berdua dengan Alvaro menggunakan video call di laptopnya,


"Bocah, wajah lo suram sekali, kenapa??" Alvaro


"Gue bertengkar sama Sera," Julian


"Lagi?? Ya ampun, sejak lo kuliah udah berapa kali lo dan Sera bertengkar hah, ya ampun," Alvaro


"Gue juga gak tau. Tapi kali ini Sera memang agak keterlaluan, Sera melempar piring pada Arina, untung Arina hanya mendapat luka kecil. Arina masih kecil dan sifat nakal adalah hal yang biasa di umur Arina, gue gak tau kenapa Sera bisa-bisanya tidak dewasa dan menyakiti Arina, Sera terlalu kekanakan akhir-akhir ini," Julian


Tanpa Julian sadari, Sera mendengar itu dari luar ruangannya, Sera memilih pergi dari sana tanpa melakukan niatnya untuk meminta maaf,


"Eh bangs*t, jika Sera mendengar perkataanmu itu bisa membuat Sera marah, dasar bod*," Alvaro


"Sera udah tidur seharusnya. Daritadi Sera terus muntah entah mengapa," Julian


"Sera muntah?? Hmmm hanya ada 3 alasan untuk Sera muntah, Pertama banyak makan atau minum, kedua hamil, dan ketiga dia menangis," Alvaro


"Yang pertama dan kedua gak mungkin, 2 hari yang lalu Sera baru saja selesai haid, Sera walau makan banyak dari pagi juga ada pembagian waktu, jadi gak mungkin kekenyangan, dan- ah bagaimana lo tau Al," Julian


"Reina pernah cerita, terutama pas lo ditusuk oleh Kakak Pertama lo, kata Reina, saat itu Sera merasa tertekan dan menangis terus hingga muntah-muntah sebelumnya akhirnya tertidur," Alvaro


Julian teringat dengan kejadian waktu sama Prayoga itu,


"Benar, Sera muntah juga saat itu," bathin Julian


Julian dan Alvaro tersadar,


"Sera menangis," tebak keduanya bersamaan


"Ya ampun, perkataan lo pasti kasar sekali ke Sera sampai Sera muntah," Alvaro


Julian mematikan video call dan pergi ke kamar Sera, Julian melihat pintu kamar Sera masih tertutup, Julian ingin membuka namun niatnya terhenti.


Julian memilih duduk di depan kamar Sera,

__ADS_1


"Sera," lirih Julian.


__ADS_2