
Beberapa minggu berlalu...
Sera dan Julian sedang menonton televisi berdua sambil menunggu Suta pulang dari Yayasan Seninya, Sera menguap beberapa kali, sedangkan Julian sibuk tiduran di pangkuan Sera yang empuk daripada menonton televisi sungguhan.
Tiba-tiba ponsel Julian berdering, dengan malas, Julian mengambilnya dan mengangkat telepon,
“Halo ini dengan Julian,” Jawab Julian
“....” Di seberang telepon hanya terdiam
“Siapa ini ya??” Julian bingung sendiri
“Siapa??” Bisik Sera
“Ngak tau,” Jawab Julian
Dan panggilan berakhir,
“Lahh malah dimatiin,” Julian
“Jangan-jangan tukang tipu,” Sera
“Entahlah,” Julian
Julian melihat nomor yang dirahasiakan, Julian menaruh ponselnya sembarangan,
“Sera,” Julian
“Ya??” Sera
“Tidak jadi deh,” Julian
“Lahhh,” Sera
Hening sesaat...
“Sera,” Julian
“Apa hah??” Sera
“Kamu- gak akan cepet nikah kan??” Julian
“Yare yare, kau menanyakan hal bodoh apa hah?? Aku segini gemuknya, siapa juga yang mau, jika kau melihatku sebagai cewek dan bukannya Kakak, kau juga pasti tidak akan menyukaiku. Cowok jaman sekarang kan emang gitu, aku sih tak peduli, yang kubutuhkan hanya materi dan bukannya perhatian,” Sera
“Hmmm benar juga, kamu selalu mengatakan itu ke Ayah, kalau kamu hanya ingin harta dan keturunan,” Julian
“Yaaa semua orang mempunyai pilihan tersendiri, orang luar gak bisa ikut campur urusan pribadi kan,” Sera
“Iya,” Julian pelan
Julian yang masih di pangkuan Sera menatap ke arah televisi,
“Ya, Sera benar,” Bathin Julian.
.
.
.
Suatu hari, Julian sedang sibuk dengan laptopnya, Sera mengintip sedikit dan merasa pusing dengan data-data yang sedang dibaca Julian,
“Hei adik, kau sedang baca apa sih??” Sera
__ADS_1
“Saham Perusahaanku menurun, aku harus bekerja lebih keras agar meningkat,” Julian
“Perusahaan?? Kau punya Perusahaan??” Sera
“Tentu saja, jika tidak bagaimana bisa aku menghidupi kamu Sera,” Julian
“Hmm?? Kayaknya aku gak banyak jajan deh,” Sera
“Ya tapi di gudang luar kamu menyimpan banyak sekali jajanan yang kamu beli setiap bulannya, ditambah ada hampir 15 AC, sumur bor kita kan ada 5 agar tidak kekurangan air,” Julian
“Kan salahmu sendiri yang mendengar semua ucapan Si Kakakmu itu,” Sera
“Memang apa salahnya jika Kak Prayo memberikan masukan, dan lihat hasilnya juga bagus,” Julian
Sera menjadi kesal, “Tapi saat aku memberi masukan kau tak peduli, kau membuat rumah tingkat ini aja ngak yang tau, dan yang lebih buruk, kau memberi kamar Si Bangs*t itu dekat dengan kamarku, satu bumi dan satu Tuhan aja aku udah jijik, sekarang malah satu atap, untungnya dia jarang di rumah,” Sera
“Sera, kenapa kamu kasar memanggil Kak Prayo? Kak Prayoga adalah Kakak kita, sudah seharusnya kita bersama, aku sengaja membuat satu lantai ini untuk kita empat saudara supaya kita lebih dekat,” Julian
Sera bertambah kesal, “Kalau gitu aku gak mau jadi Kakakmu, punya adik yang juga adik orang jahat itu najis untukku,” Sera
Sera pergi ke kamarnya dengan membanting pintu, Julian mengikuti Sera ke kamar Sera dan mengetuk pintu kamar Sera,
“Sera, aku gak tau kamu punya masalah apa sama Kak Prayo, tapi Kak Prayo tetap Kakak kita, kamu harus menerima itu mau atau tidaknya,” Julian
Julian menjadi sedih karena Sera marah, didalam kamar Sera, Sera menangis dan melempar semua banyak yang ia bisa banting.
.
.
.
Keesokannya harinya, Sera sedang memberi makan ketiga anjingnya, Julian mencoba bicara dengan Sera namun tak digubris oleh Sera, Julian berinisiatif kekamar Sera untuk menaruh coklat permintaan maafnya, namun disana Julian melihat jika foto dirinya bersama Sera sudah rusak dan kamar Sera sangat berantakan,
“Apa yang terjadi disini??” Julian
“Apa sebenarnya yang tidak aku ketahui dari Keluargaku sendiri,” Julian
Julian keluar dari Kamar Sera sebelum pemilik kamar datang, Julian kembali ke kamarnya dengan perasaan bercampur aduk.
“Apa yang harus kulakukan agar Sera tidak marah??” Julian frustasi.
.
Beberapa hari berlalu, Sera kesal dengan Julian yang semakin mengikuti Prayoga, disisi lain, Julian merasa sedih karena Sera sama sekali tidak mau diajak bicara olehnya dan malah selalu mengurungkan diri dikamarnya.
Suatu hari, Julian sedang istirahat dikamarnya setelah diajak keliling oleh Prayoga
“Saat aku bersama Sera aku gak pernah lelah, andai aku bisa tiduran dipangkuan Sera seperti biasanya, itu mungkin bisa menghilangkan rasa lelahku,” Bathin Julian
Tiba-tiba Sera datang, Julian sontak bangun karena Sera datang ke kamarnya untuk pertama kalinya,
"Hei," Sera
"Sera?? Ada apa??" Julian
"Aku mau sesuatu, katamu jika aku ingin sesuatu, aku bilang aja padamu," Sera
Julian tersenyum, "Tentu saja, katakanlah," Julian
"Aku mau kau menjauhi Anak Kesayangan Ayah itu," Sera
"Kak Prayoga?? Kenapa??" Julian
__ADS_1
"Ihh jangan sebut nama dia apalagi dengan Kakak di hadapanku, najis, aku sangat membencinya, dan aku punya alasan tersendiri, kau tak perlu tau, kau hanya perlu mengikuti permintaanku ini," Sera
"Ah kalau begitu tidak bisa, aku dikenal loyal walau paling ditakuti di sekolahku dulu, karena aku bisa saja menjauhi siapapun karena permintaan seseorang, tapi jika itu alasan pribadi, aku gak bisa, apalagi Kak Prayoga adalah Kakak Pertama kita," Julian
"Sudah kubilang jangan menyebut namanya dihadapanku. Jadi kau tak bisa memenuhinya?" Sera
"Iya, dan lagipula kamu tidak harus mendapatkan semua yang kamu mau kan," Julian
Sera menunduk, "Baiklah, lakukan sesukamu," Sera
Sera pergi, Julian tersadar karena menyebutkan kata-kata sensitif Sera, Julian mencoba mengejar Sera namun Sera sudah menutup pintu kamarnya.
Julian kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di ranjang,
"Arghhhh sial!! Sera pasti benar-benar marah padaku," Bathin Julian
Julian melihat notifikasi video call dari teman-temannya, namun kebetulan Julian tak bisa memakai earphonenya karena Reika menggigitnya,
“Yo Lian, hisashiburi, genki desu ka*???” Vino semangat
*Lama tidak berjumpa, apa kabar(Terjemahan dari Bahasa Jepang)
Namun Julian nampak tak bersemangat,
“Lian lo keliatan tak ada semangat?? Why?” Reina
“Sera marah ke gue dan udah beberapa hari gue didiemin,” Julian
“EHHH?? KOK BISA??” Sontak Ketiganya
“Apa karena waktu kejadian di Ending Party??” Vino
“Sera bahkan ngak membahas itu sama sekali,” Julian
“Lah lalu kenapa?? Coba cerita,” Dion
“Diantara Sera dan Kakak Pertama gue Prayoga ada konflik yang gak gue tau, dan-“ Julian
“Dan lo ngerasa jika Kakak Sera lo itu anggap lo lebih membela Kakak Pertama lo,”
Semua melihat ke layar yang menampakkan Mantan Wakil Ketua InOs, Gin,
“GIN!!!!!!” Sontak Semuanya
“Hai, lama gak jumpa,” Gin
“Gin, lo udah comeback, udah lama banget gak ketemu tau, gimana kabar lo?? Baek??’ Reina
“Yaa, seperti biasa. Dan Ju-li-an, dalam Pelajaran Human, lo harusnya tau apa yang harus lo lakukan saat ada pertengkaran saudara, diliat dari sifat Sera, lo yang harusnya mundur teratur, meminta maaf dan menanyakan sebab amarah Kakak lo,” Gin
“Wahhhh, penasehat Gin udah comeback, bisa ada masukan terus nih,” Vino
“Tapi gue juga saranin lo jangan mencari Sera sekarang, kalo lo mencari Sera yang dalam keadaan marah, lo malah bisa-bisa kena ocehan Sera,” Dion
“Baiklah, gue akan menunggu sampai Sera baikan,” Julian
“Pfftt, Hahahaha,” Gin tertawa
Semuanya terdiam,
“Julian, gue jadi terkejut sendiri saat lo yang biasanya ngak peduli dengan hal sekitar dan hanya fokus kepada yang menurut lo benar,” Gin
“Ahh tapi jujur aja, gue masih gak yakin dengan Sera, bagaimana bisa Sera membenci Kak Prayo yang sebaik itu, yaa Kak Prayo emang agak aneh dari gelagatnya, tapi tetap saja Kak Prayo itu baik,” Julian
__ADS_1
“Oho, sifat lo yang sebenarnya kan emang seperti ini, tidak percaya pada orang lain sebelum terbukti. Andai Sera bukan Kakak lo, lo pasti udah nyingkirin Sera dari hidup lo, lo kan suka cewek yang perfect dan bisa diajak have fun, tapi kayaknya Sera kagak deh, semua sifat Sera bukankah sifat-sifat yang lo benci,” Gin
“Gue mau nyingkirin pun tetap gak bisa,” Julian.