
Sore harinya, Julian terbangun dan melihat Sera di sampingnya, dan mereka dalam keadaan kering, Julian mengingat jika dirinya salah meminum obat dan akhirnya malah jadi terangsang dan menenangkan diri di bathtub Sera bersama Sera walau hanya memeluknya,
“Ahh syukurlah aku masih ingat batasanku,” Julian
Julian membangunkan Sera,
“Sera, ayo bangun Sera,” Julian
Sera tak bangun dan menyelimuti dirinya,
“Sera, ayo bangun, nanti Ayah bisa marah kalo tau kamu tidur terus,” Julian
Sera akhirnya bangun dan terduduk, Sera mengambil ponsel dan melihat jam,
“Jam tengah 4,” Sera
Sera melihat telapak tangannya yang masih berkeriput,
“Lihat, tanganku sampai berkeriput karena hampir 6 jam di bathtub,” Sera
“Ekhem, itu kan juga salahmu yang menaruh obat itu dikotak obatku,” Julian
“Yaa kau benar, kau tak perlu minta maaf, aku yang salah, aku yang membeli dan menaruh obat perangsang di tempat obatmu, mana kutau kau akan mengira itu vitaminmu dan malah meminum, kau biasanya minum 3 sampai 4 vitamin, itu berarti kau meminum 3 sampai 4 dosis obat perangsang itu,” Sera
“Kenapa kamu melakukan itu??” Julian
“Kau terus menjomblo dan hanya fokus pada Keluarga, kau punya kehidupan sendiri kan,” Sera
“Usiaku bahkan masih 18 tahun, apa maksudmu dengan kehidupan sendiri?? Dan juga, hidupku adalah untuk Keluargaku,” Julian
“Sudahlah, aku mau ganti baju sama sprei, liat spreiku basah kuyup,” Sera
“Baiklah, ingat pakai minyak kayu putih ya biar gak masuk angin,” Julian
“Hn,” Jawab Sera sekenannya
Julian memakai pakaiannya lalu pergi, diluar, Julian merasa seperti de javu,
“Bentar, aku seperti gigolo yang diusir setelah memuaskan tamu,” Julian
Julian pergi ke kamarnya.
.
Setelah Sera mengganti sprei dan turun ke bawah untuk mencuci, Suta datang,
“Sera, kamu dan Julian tak keliatan dari pagi, kalian ngapain aja??” Suta
“Hah?? Oh anak wungsu Ayah meminta aku pijat kan, jadi aku memijatnya di kamarku, lihat, spreiku sampai berbau minyak, setelah dipijat dia malah tidur, aku pun seperti biasa sibuk bermain hp sampai ketiduran lagi,” Sera
“Eh??? Tumben Julian memintamu bekerja?? Apa gak kebalik ceritanya?? Kamu yang menyuruh Julian memijatmu berjam-jam,” Suta
Sera menyengir, “Hehehe, gantian Yah,” Sera
Di tangga, Julian melihat kebohongan Sera,
__ADS_1
“Ukh, Reina sekalipun tak bisa berbohong selancar Sera,” Bathin Julian
Julian mendekat ke mereka(Suta dan Sera),
“Ayah, Ayah udah makan??” Julian
Suta mengangguk, “Baru aja selesai. Julian kamu pasti lelah setelah memanjakan Si Sera, banyak-banyaklah istirahat. Dan kamu Sera, jangan terus mengganggu Julian, dia adikmu, bukan pembantumu,” Suta menasehati
“Ya ya,” Sera tak mendengarkan
“Oh ya Lian, Ayah hampir lupa menanyakan keadaan perusahaanmu, gimana?? Masalahnya udah kelar??” Suta
Julian menganggukkan kepala, “Iya Ayah, semuanya berjalan lancar, Perusahaan sudah kupindah ke Bali agar lebih bisa aku awasi sendiri,” Julian
“Tapi ingatlah bentar lagi kamu dan Sera akan masuk kuliah, kalian harus fokus ke Kuliah kalian dulu,” Suta
“Iya Ayah, akan kuingat,” Julian
“Hm, itu baru anak Ayah,” Suta
Suta pergi,
“Sera, kamu gak makan?? Sarapanmu masih belum tersentuh,” Julian
Sera baru sadar jika perutnya keroncongan,
“Aku akan makan sekarang, kau juga harus makan,” Sera
“Iya, ayo makan bersama,” Julian
“Sera, apakah kita harus tetap menyembunyikan apa yang terjadi tadi??” Julian
“Kau memangnya ingin semua orang tau apa yang terjadi,” Sera
“Ngak juga sih, baiklah, aku akan lebih berhati-hati lagi,” Julian
“Itu bagus, aku akan mengambil obat itu dari kamarmu, kau bisa-bisanya ceroboh dan salah minum obat,” Sera
“Iyaaa aku sedang tidak fokus sebelumnya,” Julian
Julian dan Sera pun hening dan hanya alat makan mereka yang terdengar.
.
.
.
Hari berlalu.... Dan waktu Ospek semakin dekat...
Sera sedang membuat nasi goreng untuk dimakan bersama, sedangkan Julian memberi makan para hewan peliharaan, saat Julian sudah selesai memberi makan, Julian mencuci tangan dan perabot di sebelah Sera yang masih memasak,
“Sera, kenapa kamu memasak lagi?? Kan udah ada Pembantu,” Julian
“Lah kau sendiri juga kenapa nyuci piring??” Sera
__ADS_1
“Hehehe, aku lagi gak ada kerjaan, gabut,” Julian
“Ckckck, ahh kau jangan khawatir, bawang dan cabe semua dipotong Bibi, jadi aku masak aja,” Sera
"Baiklah, Oh ya Sera, Ayah mana ya?? Daritadi belum pulang," Julian
"Entahlah, mungkin lagi bertamu ke rumah temennya, biasanya Ayah hanya butuh 1 jam untuk segalanya, lalu sisanya ya berkeliaran, apalagi Ayah merasa kalau kedatanganmu menjadi pengaman dan penjagaku, ya malah makin liar deh," Sera
Julian tertawa kecil,
"Pfft, Ayah kita sudah seperti kera saja," Julian
Selesai mencuci tangan dan perabot, Julian duduk di meja makan sambil membawa piring lengkap dengan sendok, tiba-tiba ponsel Julian berdering, Julian pun mengangkatnya,
"Hallo Bunda," Julian
"Julian akhirnya kamu mengangkat telepon, Bunda udah lama gak denger suaramu sayang, bagaimana kabarmu hm??" Dyana
"Aku baik-baik saja disini, aku juga sudah mulai mempersiapkan untuk kuliah, bagaimana Keluarga di Jakarta Bun?" Julian
"Kami baik kok, kami semua merindukanmu Julian. Oh ya, ngomongin kuliah, Bunda dan Papa sudah membelikan tanah dan rumah lengkap properti di dekat Kampusmu, kamu tau Bunda sendiri yang memilih rumah itu, gak sampai 1 kilo jaraknya kok dari kampusmu," Dyana
"APA?? Bunda dan Papa membelikan rumah untukku?? Bun, kenapa Bunda melakukan itu?? Apa yang harus kubilang pada Keluargaku??" Julian
Sera melirik karena Julian sedikit berteriak,
"Bunda hanya gak mau kamu kekurangan sayang, Kakek angkatmu sudah menyiksamu selama 3 tahun, itu adalah penyesalan terbesar Papa, kamu tau itu kan, lagipula gak ada salahnya memanjakan anak yang sudah Bunda rawat selama 12 tahun. Apa karena kamu ada di Keluarga kandung, Bunda jadi gak boleh manjain kamu??" ujar Dyana dengan nada sedih
"Bukan begitu Bunda. Ahhhh, baiklah, aku akan memakai rumah itu saat akan Kuliah, Bunda senang??" Julian
"Tentu, Bunda akan mengirim seseorang untuk membawa kunci dan lainnya oke? Mungkin besok atau lusa datang, jadi bersiaplah pindah rumah," Dyana
"Baiklah Bun," Julian
"Bunda tutup dulu ya, Bunda masih harus meeting 5 menit lagi," Dyana
"Baiklah Bunda," Julian
Dyana menutup teleponnya, Julian menghela nafas dan tak bersemangat,
"Kenapa??" Sera
"Bunda membelikanku rumah di dekat kampus," Julian
"Bukankah itu bagus?? Jadinya gak perlu ngekost," Sera
"Kamu gak tau Sera, Bunda yang memilih, itu berarti rumah itu akan sangat luar biasa," Julian
"Hm?? Pilihan seorang Ibu kan memang yang terbaik. Lagipula jika udah seorang Ibu yang memilih dan menyuruh, maka anak gengster pun akan jadi ciut," Sera
"Hm, aku setuju, the power of emak," Julian
"Sudahlah, sekarang ayo makan," Sera
"Itu aku lebih setuju," Julian
__ADS_1
Julian pun pergi mengambil nasi goreng dengan piring yang ia siapkan, mereka pun makan bersama.