
Saat sampai dikamar Sera, Julian melihat Sera baru bangun dan sedang terduduk di ranjangnya,
“Sera, aku membawakan sarapanmu,” Julian
Sera mengucek matanya mengantuk karena baru bangun, Sera pun bangkit dan makan sarapan yang dibawakan Julian,
“Habiskan susu hamilmu ya Sera. Oh ya, lusa kita harus periksa kandungan, aku sudah membuat janji sama dokter,” Julian
Sera hanya ber”hn”, Julian yang sudah selesai merapihkan ranjang Sera pun mendekat ke Sera,
“Aku akan ke perusahaan nanti, kamu mau ikut??” Julian
“Ngak aku membawa badan lagi satu diperutku, bebanku jadi sangat berat,” Sera
Julian berjongkok di hadapan perut Sera, Julian mengelus perut Sera yang agak buncit,
“Bayi kita udah 16 minggu aja, udah gak sabar nunggu lahir, jika lahir perempuan maka pasti imut sepertimu Sera,” Julian
“Kalau yang lahir laki-laki??” Sera
“Laki-laki ataupun perempuan apa bedanya? Anakmu tetaplah anak kita nantinya, malaikat kecil,” Julian
Julian bangkit,
“Sera, aku sudah menyuruh Pembantu untuk menjagamu, kamu jangan sampai kelelahan ya, mungkin aku gak akan kembali saat makan siang,” Julian
“Ya,” Sera
“Oh ya Sera, bentar lagi waktunya masuk sekolah, apa menurutmu Arina dan Billy aku masukan ke sekolah umum, soalnya mereka hanya pernah beberapa kali sekolah seperti biasa, sisanya homeschooling, jadi bagaimana pendapatmu Sera??” Julian
“Di YGS bukannya ada asrama, kenapa gak sekalian ke sana kau kirim,” Sera
“Arina pasti gak mau berasrama, asrama YGS punya peraturan ketat soalnya,” Julian
“Kalau gitu disekolah umum aja, disekolahku yang dulu tuh bagus sekarang,” Sera
“Tapi aku takut akan terjadi apa-apa sama mereka,” Julian
“Gak akan terjadi apapun, ini di Desa, ya kali ada hal jahat mengintai, rumah sakit juga deket sekolah, walau ada apa-apa, mereka akan tetap aman,” Sera
“Benar juga, baiklah aku akan mendaftarkan Arina dan Billy ke sekolahmu,” Julian
Saat Julian akan pergi,
“Tunggu, aku sedang ingin makan burger, nanti belikan beberapa ya,” Sera
Julian tersenyum, “Baiklah,” Julian
Julian pergi.
Di lantai bawah, Julian bertemu Anggi,
“Julian tunggu,” Anggi
“Ada apa Kak??” Julian terhenti
“Itu- nampaknya ada beberapa anggota Keluarga baru, jadi gimana kalau aku pindah?? Lagian kasihan adik-adikmu mereka sudah besar, berbeda gender, tapi masih tidur satu kamar, aku sudah bicara sama Citra, katanya gak papa kalau anak perempuan disatukan, aku akan sekamar dengan Nata sampai Nata sudah besar,” Anggi
__ADS_1
“Kakak tidak perlu repot pindah Kak, kamarnya sudah ditentukan dari awal, aku gak mau repot-repot ngurus pembagian kamar lagi, lagipula di kamar tamu itu ada 2 kasur, jadi gak masalah,” Julian
“Gak papa Lian, Dinara, Devina, dan Pipit bisa tidur di satu kamar yang sama, sedangkan Nata akan tidur dikamarku, jadi kamar Pipit dan kamar Nata bisa digunakan untuk Kedua adikmu. Kamar tamu bisa digunakan adik terbesarmu, kamu dan adikmu sudah dewasa, pasti agak risih jika harus sekamar berdua,” Anggi
Julian berpikir, “Benar juga, Si Yohan jika pindah ke kamar tamu maka jarak antara Yohan dan Sera akan menjauh, itu bisa jadi bantuan besar untukku,” Bathin Julian
“Julian, jadi gimana??” Anggi
“Baiklah, Kakak saja yang mengaturnya ya, aku masih ada kesibukan lain,” Julian
Julian pergi ke lantai bawah dan melihat anak-anak sedang bermain dengan gembira, sedangkan Para Babysitter sedang mengawasi mereka bermain,
“Dinara, Devina, Pipit, Nata, jangan nakal ya, jangan ngerepotin Mbak Andin sama Mbak Cici ya,” Julian
“Iya Paman,” Serentak mereka
“Dan satu lagi, jangan ganggu atau buat Bibi Sera kalian marah, Bibi Sera sedang mengandung adik untuk kalian, jadi kalian jangan nakal oke??” Julian
“Okeeee,” Para Batita
Julian pergi ke dapur dan mengambil bekalnya, tepat saat itu Alan datang dan mengambil minuman dari kulkas,
“Hei Alan, kau kapan wisuda??” Julian
“Setengah bulan lagi, kenapa??” Alan
“Kalau kau mau langsung bekerja, kau bisa datang ke kantorku, daripada kau jadi penganggur dan malah dimarahi Ayah, lebih baik kau bekerja sebagai Pemula di Kantorku dulu, walau jadi tukang bersih-bersih kan tetep lumayan. Aku yakin kau pasti harus mengeluarkan banyak uang untuk jadi guru, tanpa ada tambahan uang, gelar S.Pdmu itu gak ada gunanya dan hanya titel biasa,” Julian
“Hm, cukup menarik, lagipula gak mungkin selamanya aku menggunakan atmmu, saat aku punya tabungan sendiri, aku akan mengembalikan atm itu padamu,” Alan
“Ck ck ck, cerdik juga,” Alan
Alan pergi,
“Sera, aku akan pasti akan membuat Keluarga kita harmonis kembali,” Bathin Julian.
.
.
.
Sore harinya, Julian baru pulang dari kantornya, Julian melihat Sera sedang makan cemilan sambil menonton tv diruang tamu,
“Sera, aku pulang, mana Ayah??” Julian
“Ayah sedang tiduran di kamarnya,” Sera
“Oh, baiklah,” Julian
Julian mendekat ke Sera, Julian mencubit lembut pipi Sera dan mengecup bibir Sera, Julian tersenyum sambil menatap Sera,
“Aku mencintaimu,” Bisik Julian
“Oiiiiiiii, kau gak liat masih ada orang disini??? Kau bermesraan seperti itu,”
Julian hanya melirik Alan tanpa berniat membalas perkataannya,
__ADS_1
“Sera, aku membelikan pakaian baru untuk Ayah, menurutmu Ayah akan suka??” Julian
Sera melihat isi paper bag yang dibawa Julian,
“Ya, mungkin Ayah akan suka, ini bagus dan mahal, tapi kenapa kau membelikan Ayah pakaian??” Sera
“Sera, Si Julian memang selalu membelikan Ayah pakaian baru setelah melihat jika Ayah selalu memakai pakaian yang sama,” Jelas Alan
“Oh, baguslah, dari dulu Ayah selalu ngomel jika aku kasih baju baru, mungkin jika barang mahal Ayah akan menerimanya,” Sera
“Aku juga membelikan dress hamil dan tas baru untukmu Sera,” Julian
Julian memberikan 2 paper bag ke Sera,
“Aku akan menemui Ayah dulu,” Julian
Julian pergi, Alan mendekat ke Sera dan melihat tas mahal yang dibelikan Julian,
“Ini kan tas yang baru keluar, dari merk mahal lagi,” Alan
“Hm, dia tetap mengurus rumah dengan baik seperti biasa,” Sera
Di tangga, Yohan mendengar pujian Sera untuk Julian,
“Aku gak akan biarkan Julian merebutmu Sera, kamu hanya milikku,” Bathin Yohan.
.
.
.
Malamnya, Julian menyuruh kedua adiknya datang ke kamarnya,
“Arina, Billy, Kakak udah mendaftarkan kalian ke Sekolah SMAnya Sera, minggu depan kalian bisa ikut MOS dan mulai sekolah,” Julian
“Kakak, kami gak mau sekolah di kampung kayak gini, jijik banget,” Arina
“Arina, kamu gak boleh gitu, kalian harus belajar mandiri mulai sekarang. Dan Billy, ini untukmu,” Julian
Julian memberikan sebuah kunci motor ke Billy,
“Kakak dengar kamu mau motor, Kakak sudah belikan motor yang biasa aja dulu, nanti kalau sudah dapat SIM, Kakak akan membelikan motor yang kamu mau,” Julian
“Wahhh makasih Kak,” Billy
Julian memberikan paper bag ke Arina dan Billy masing-masing 3,
“Itu adalah seragam sekolah kalian, untuk alat tulis kalian bisa beli sendiri, Kakak akan memberikan uang bulanan untuk kalian,” Julian
“Kakak, kenapa Kakak berbuat seperti ini?? Kakak gak pernah memaksa sesuatu pada kami sebelumnya,” Arina
“Kakak ngak maksa, Kakak hanya ingin kalian lebih mandiri, Kakak gak selamanya bisa hidup dan melindungi kalian, seperti yang kalian tau, musuh Keluarga Ginanjar itu banyak, jadi kalian harus bisa melindungi diri kalian sendiri,” Julian
“Huh!!” Arina
Arina yang kesal pun pergi,
__ADS_1