Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
68. Kupon Lagi (Season 2)


__ADS_3

Keesokan harinya....


Dirumah sakit, Sera sedang melakukan USG ditemani oleh Julian,


“Dokter, apakah bayinya dalam keadaan sehat??” Julian


“Tenang saja, bayinya dalam keadaan sangat sehat, Bapak pandai merawat Istri dan Anaknya, dan ada menurut usg, bayinya Ibu adalah Perempuan,” Dokter


“Apa? Perempuan?” Sera


“Iya, kami akan memberikan hasilnya nanti,” Dokter.


Saat semua urusan sudah selesai, Julian dan Sera kembali ke mobil, Julian memeriksa kembali hasil usg,


“Lihat, Sera, ini bayi perempuan kita, saat bayi ini lahir maka dia pasti akan imut seperti Mamanya,” Julian


Sera nampak tak senang,


“Sera kamu kenapa muram seperti itu??” Julian


“Aku- Aku khawatir jika bayiku nanti sepertiku, aku dari lahir sudah gemuk, bagaimana jika bayiku juga sepertiku, aku sampai melakukan sedot lemak agar terlihat kurus dulu, sekarang sepertinya aku sudah seperti dimasa lalu, walau gen Sean bagus sekalipun, bukan berarti anakku akan mengikuti jejak Sean,” Sera


“Apa bedanya masa lalu dan masa depan?? Aku malah bersyukur kamu gemuk Ser, jika kamu kurus putih, berapa banyak bajingan yang mencoba mendekatimu, 2 masih bisa kuatasi, tapi kalau terlalu banyak akan susah juga ya kan,” Julian


Julian mencium Sera,


“Tetap saja, seorang Ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya,” Sera


Julian mendekatkan bibirnya ke telinga Sera,


“Seorang Ayah juga menginginkan yang paling terbaik untuk anaknya, sayangku,” Bisik Julian


Julian menjilat telinga Sera dan membuat Sera tersentak dan sontak menutupi telinganya dengan tangannya, Julian tersenyum kecil melihat respon,


“Oiiiii, kau itu mesum sekali, dasar hentai*,” Sera


*Hentai : Mesum


Julian tertawa kecil, Julian menyalakan mobilnya dan mereka pun pergi meninggalkan parkiran mobil Rumah Sakit.


.


.


.

__ADS_1


Sampai rumah, Sera melihat Sang Ayah sedang seperti biasa bersenandung di radio bersama tteman-temannya di Bale Bengong,


“Ayah, tumben gak ke Yayaysan??” Julian


“Ayah sedang malas, kan libur sekali-kali gak papa. Oh ha, gimana keadaan kandunganmu Sera??” Suta


“Bayiku baik Ayah,” Sera


“Ayah, Ayah tau, bayinya Sera perempuan, akan ada adik Perempuan untuk Dinara dan Devina,” Julian


“Benarkah?? Bagus kalau gitu, Sera jaga kandunganmu baik-baik, diantara Pipit, Agus, dan Nata, hanya bayimu yang mendapatkan kemewahan bahkan sebelum dia lahir, bahkan Julian akan memperluas rumah kita untuk calon anakmu nanti,” Suta


“Benarkah?? Berarti semua harus pindah dong??” Sera


“Tidak perlu sih, tapi jika kamu mau ketenangan, aku akan mengajakmu tinggal di Rumah di Denpasar,” Julian


“Tidak mau, aku mau tetap disini,” Sera


“Bangunan baru akan aku buat di sekitar rumah utama, ditambah dengan jembatan mini, jadinya kedua bangunan bisa tersambung. Aku udah buat blue printnya, tinggal membangun,” Julian


“Baiklah, lakukan secepatnya, kali aja bayiku lahir prematur,” Sera


“Bayimu dalam keadaan sehat, gak mungkin prematur, tapi baiklah, dalam beberapa bulan, rumah ini pasti akan menjadi lebih bagus,” Julian


“Sekarang aku akan makan siang, kau mau ikut??” Tawar Sera


“Belum, Ayah belum lapar, kalian aja,” Suta


“Kalau Ayah malas ke dapur untuk makan, minta saja ke Bi Ina atau Bi Tuti ambilkan nasi,” Julian


“Julian, Ayah belum setua itu, Ayah masih sehat, Ayah masih bisa ambil makanan dan makan sendiri,” Suta


“Aku dan Anak Angkat Ayah masuk duluan ya,” Sera


Sera dan Julian pun pergi, sampai meja makan, Sera melihat Gladis sedang menyiapkan makanan untuk Sean,


“Hei, aku mau ke kamar, kau ambil makananku sana,” Sera


“Ahh baiklah, kita akan makan bersama di kamarmu,” Julian


Sera pergi, Julian pun dengan cepat mengambil piring dan mengambilkan nasi dan lauk yang mungkin Sera sukai,


“Julian, apa kita tak bisa kembali menjadi seperti dulu??” Gladis


“Kembali menjadi dulu?? Itu tidak mungkin, aku hanya akan menikahi Sera, sadarlah Gladis, semuanya sudah berbeda sekarang,” Julian

__ADS_1


“Julian, jika bayi ini bukan milik Sean tapi milikmu, apa kau akan bertanggungjawab?” Gladis


“Kamu tau sendiri aku seperti apa, teknik kuno dengan memberikan obat perangsang dalam minuman tidak akan mempengaruhi diriku, aku selalu makan makanan rumah dan jarang minum alkohol, aku tak akan mabuk dan jatuh ke ranjangmu semudah itu, aku hanya akan berbagi ranjang dengan Sera, dan tak ada yang bisa mengubah hal itu,” Julian


Julian pergi dengan membawa piring nasi untuk Sera.


.


Dilantai 3, Sera baru sampai dan Sera melihat Alan sedang termenung di sofa disana,


“Oi Alan, wajahmu udah jelek jangan dijelekin lagi, bengong kayak gitu, ada apa??” Ujar Sera sambil duduk di single sofa disana


“Ahh, aku sedang bingung untuk jual kupon-kupon ini,” Alan


Sera mengambil salah satu kupon dan melihatnya,


“Pfft Hahahahaha, kupon meceki* lagi,” Sera


*Meceki : Kegiatan sejenis judi


“Lagi?? Dulu juga pernah??” Alan


“Iya, waktu aku masih baru-baru Kuliah, Si Anak Angkat Ayah itu sampai pusing tujuh keliling mikirin buat jual ini waktu itu,” Sera


“Aihh, beruntungnya kamu udah nikah dan keluar dari STT*,” Alan


*STT/Sekaa Truna Truni : STT adalah salah satu organisasi yang ada dalam budaya Indonesia khusunya di daerah Bali hingga sekarang. Organisasi perkumpulan muda-mudi yang berfungsi sebagai wadah dalam mengembangkan kreativitas remaja. Selain itu, STT juga diharapkan dapat menjadi tempat untuk melestarikan budaya dan tradisi setempat


“Yaa tentu saja, aku sudah muak sama STT kita, ya Tuhan, kasihan sekali adik-adikku, wkwkwkwk,” Tawa Sera semakin menjadi


Julian datang dan melihat Sera masih tertawa, Julian mendekat ke mereka dan duduk di triple sofa,


“Sera, ada hal lucu apa hm?? Tertawamu sampai kedengae di lantai 2,” Julian


Sera menyerahkan kupon meceki yang ia pegang, raut wajah Julian berubah seketika,


“Ini lagi??? Yang benar aja??? Padahal aku sudah minta Kades untuk tak mengijinkan bazar meceki lagi,” Julian


“Kades udah ganti, sih peraturannya ikut berganti, nih 20 untukmu, setiap Pemuda dapat 20 kupon,” Ujar Alan sambil menyerahkan 20 kupon meceki itu


“Aihhh, kepada siapa aku harus jual ini, terakhir aja Ayah yang ngejualin,” Julian


“Itu juga kau yang bayar karena teman-teman Ayah gak ada yang bayar, 1 kupon 100 ribu, siapa juga yang mau beli,” Sera


“Masih mending kupon restoran atau bazar pasar gitu, aku bisa maksa teman-temanku beli, tapi itu kupon ceki, ceki itu judi, gak mungkin aku biarin teman-temanku meceki dan larut dalam judi,” Julian

__ADS_1


Sera semakin tertawa melihat wajah kesal Julian, Julian melirik Sera, walau diluar nampak kesal karena kupon meceki itu, namun dalam hati Julian, Julian merasa senang melihat Sera tertawa setelah sekian lama.


__ADS_2