
Sampai di rumah, Sera menaruh tasnya di kursi meja belajar dan rebahan di ranjang,
“Sera, lepas sepatumu dulu,” Julian
“Ya sebentar, aku lagi mager,” Sera
“Sera, kamu udah janji akan memasakanku makanan enak,” Julian
“Hei, aku itu kurang bisa masak, gimana malah perutmu yang rusak,” Sera
“Perutku tidak selemah itu, aku juga gak punya alergi makanan,” Julian
“Ahhh baiklah, aku akan masak tapi nanti sore, sekarang aku lelah, pengen tidur, kemaren kan bergadang,” Sera
Sera melepaskan sepatu dengan kakinya dan menyelimuti dirinya sendiri tanpa ganti pakaian maupun melepas kaos kaki. Julian menghela nafas karena sifat malas Sera.
Julia pun teringat saat dirinya baru datang ke rumah.
.
Flashback On...
Di hari Julian datang...
Selama Sera disekolah, di rumah, Suta sedang menunggu kedatangan seseorang bersama dengan anak keduanya yang bernama Rini,
"Ayah, Ayah yakin dia akan datang??" Rini
"Ya, kata Kakakmu sih iya," Suta
Kedua anjing Sera tiba-tiba menggonggong, mereka melihat ke pintu masuk dan melihat seorang pemuda yang sangat tampan datang,
"Ayah," Pemuda
"Kau akhirnya kembali, apa kabarmu selama ini, Julian??" Suta
"Kabarku baik Ayah, bagaimana kabar Ayah dan Kak Rini??" Ujar Julian
"Kami baik kok. Julian, kamu jadi Pemuda yang sangat tampan ya," Rini
Julian tersenyum malu, "Ah wajahku gak terlalu tampan kok, biasa aja," Julian
Julian melihat sekitar,
"Kenapa?? Kamu mencari Kakak Kembarmu Sera ya??" Rini
"Iya Kak," Julian
"Sera sedang sekolah, sekarang kan baru semester ganjil kan," Suta
"Ayah benar, aku lupa jika karena sekolahku lulus duluan dari Sekolah umum," Julian
"Oh ya, bagaimana kamu tau rumah ini?? Kita sudah lama tak saling kabar," Rini
"Aku menemukan Sosmed Kak Prayoga, akhirnya kami berkomunikasi dan aku menanyakan rumah ini, aku juga sudah chat Ayah sebelum berangkat ke Bali," Jelas Julian
"Ooooo, kamu kesini naik kapal atau pesawat??" Rini
"Aku naik kapal Kak, dari Jakarta aku pergi ke Pelabuhan dan naik kapal pertama, perjalanan dari pelabuhan kesini ternyata cukup jauh," Julian
"Ya ampun, kamu pasti lelah berkendara," Rini
“Tidak terlalu kok Kak, kelelahanku akan terbayar saat melihat Sera nanti,” Julian
"Jadi, kamu akan berapa hari disini, Ayah harus menyiapkan kamar sementara untukmu-" Suta
"Aku akan selamanya tinggal disini, keputusanku sudah bulat," Julian memotong pembicaraan Suta
"Apa?? Tapi disini hanya ada 2 kamar, 1 kamar Ayah dan 1 kamar Sera, jika hanya beberapa hari, mungkin kamu bisa tidur di sebelah kamar Kakakmu," Suta
"Aku akan satu kamar dengan Sera," Julian
__ADS_1
"Kasur Sera itu ukurannya 100×200, udah banyak lubang lagi," Rini
"Apa susahnya, tinggal beli ranjang baru, aku punya sedikit uang tabungan, aku akan memakainya untuk membeli semua. Ayah, aku minta tolong ya," Pinta lembut Julian
"Hm, baiklah, kamar mandi Sera agak rusak, Ayah akan mencari pinjaman untuk memperbaikinya, sementara kamu pakai kamar Kakakmu yang bersih dulu,” Suta
Julian menggelengkan kepala,
"Tidak perlu Ayah, jika Ayah ingin merenovasi, ini pakai uangku aja, aku masih punya tabungan untuk membeli furniturenya," Julian
Julian memberikan sebuah kartu berwarna hitam,
"Kartu apa ini??" Suta
"Eh?? Bentar. Ini- Ini bukannya black card???" Rini
"Iya, jadi gunakan saja ini ya Ayah," Julian
"Ta-Tapi-" Suta
“Atau gak, aku akan ke bank dan menarik sejumlah uang, Ayah cari dah banyak tukang, gak perlu nego gajih, berapapun akan dibayar asalkan semua jadi sebelum Sera datang,” Julian
“Kamu yakin?? Itu akan sangat mengeluarkan uang,” Rini
“Yang penting Sera akan nyaman saat bersamaku, aku gak peduli dengan yang lain,” Julian
“Baiklah, Ayah akan cari kuli dan membeli bahan-bahannya sekarang,” Suta
“Aku juga akan menelpon suami dan mertuaku, kebetulan mereka juga kerja serabutan dan kuli juga,” Rini
“Baik Kak, tolong urus sisanya,” Julian
Julian pun berkeliling rumah dahulu, Julian tertegun karena rumah Keluarga Kandungnya itu sangat tidak layak, tembok kasar yang mulai agak runtuh, atap-atap yang menghitam akibat asap dari tungku api saat memasak telur asin, seng yang sudah banyak lubang,
“Ayah dan Sera tinggal di tempat seperti ini, pantas saja Ayah tak pernah mencoba menghubungiku, ternyata hidup Ayah sudah susah, jika tau seperti ini, aku akan lebih awal kembali,” Julian
Julian memasuki rumah dan berbelok kekiri, Julian masuk ke kamar Sera yang sangat berantakan, sampah berserakan dan ada pakaian dimana-mana, tiba-tiba Rini datang,
“Yakin atau tidak yakin, bisa atau tidak bisa, aku harus yakin dan bisa Kakak, aku akan tetap bersama Sera seperti saudara kembar biasanya, aku gak mau jauh dari Keluargaku lagi,” Julian
“Satu lagi, Sera gak bisa naik motor, jadi dia gak pernah jalan-jalan kayak remaja lainnya. Jika kamu bisa, bawalah Sera hangout beberapa kali,” Rini
“Itu pasti Kakak, Kakak jangan khawatir, Sera menjadi tanggung jawab aku sekarang, Ayah juga tanggung jawabku, aku yang akan menjaga mereka mulai sekarang,” Julian
“Kamu sangat baik sekali Julian,” Rini
“Tapi Kakak, karena ini kamar gadis, bisakah Kakak membantuku membereskannya, aku akan kekota untuk membeli beberapa furniture, aku juga sudah membawakan oleh-oleh pakaian untuk Sera yang sizenya sudah ditentukan, aku sudah taruh didekat koperku, Kakak bisa menatanya nanti dilemari baru,” Julian
“Ya Baiklah,” Rini
“Makasih, aku akan pergi membeli perlengkapan kamar, karena kamar Sera benar-benar harus dirombak,” Julian
Julian pergi.
.
Sampai di Pusat Kota Gianyar, Julian memilih tempat yang direkomendasikan oleh temannya yang juga dari Bali, setelah membeli beberapa furniture. Julian pun pulang dengan beberapa kurir yang mengikutinya.
Sampai rumah, Julian terkejut melihat jika kamar Sera sudah terbongkar dan semua barang-barang Sera sudah dikeluarkan,
“Kak Rini, Kak Rini dan Bi Ratna yang mengeluarkan semuanya??” Julian
“Tentu saja. Tapi Julian, sudah lama sekali tak bertemu, kamu udah tumbuh besar dan tampan,” Bi Ratna(Kakaknya Suta yang belum menikah karena harus merawat Sera waktu semasih kecil)
Julian hanya tersenyum malu, “Aku tidak setampan itu kok,” Julian
Suta datang,
“Julian, Ayah sudah mencari 10 tukang, apakah sekiranya cukup??” Suta
“Tidak, kurang Ayah, tambahkan lagi,” Julian
__ADS_1
Julian memberikan satu tas yang terisi full,
“Gunakan semua ini, Ayah boleh menggunakan bahan terbaik untuk Kamar Sera. Oh ya, semua barang yang sudah kubeli sudah kubayar dan aku minta kurir menurunkannya di parkir depan, nanti Ayah sekalian yang tata ya, aku kurang ngerti soal bangunan,” Julian
“Ya Julian, serahkan sama Ayah, kamu istirahat saja, baru sampai udah pergi lagi, sana duduk dulu,” Suta
“Baik Ayah,” Julian
Walau disuruh istirahat, Julian malah melepas jaketnya dan berganti dengan pakaian santay, Julian berkeliling saat bahan bangunan sudah sampai, dengan banyak kuli yang bekerja, semuanya pun berjalan dengan cepat, Julian juga mengatur semua pekerjaan Kuli, bahkan Sura terkejut sendiri karena Julian lebih mengerti struktur bangunan daripada Kulinya sendiri.
Hingga saat jam 15.30, kamar Sera pun jadi, dengan saran Ayah yang menyuruh cat putih, walau sempat ditolak, lantai marmer warna sky blue pun terpilih menjadi lantai kamar Sera, dan beberapa Jendela diperbarui, yang tadinya hanya 6 Jendela(2 Jendela di setiap sisi), Jendela kamar Sera pun berubah menjadi 3 Jendela yang terdiri atas 2 di Utara yang tak diubah dan 1 paling besar di sebelah timur.
Julian juga tertawa melihat kamar mandi Sera yang dibuat 2 closet oleh Ayahnya, satu closet duduk dan satunya closet jongkok, ada bathtub untuk berendam, air shower yang sederhana yang masih dipertahankan namun tambahan shower biasa dari keran bak mandi, dan baskom closet Sera masih dipertahankan karena takut Sera marah.
Saat Rini sibuk menyapu kamar, Suta pun mengurus gaji Kuli bersama Julian,
“Bagaimana Ayah?? Gak kurang kan??” Julian
“Iya, cukup kok, kebanyakan malah, tapi bisa-bisanya kamu mendapatkan uang sebanyak ini dalam 2 jam,” Suta
“Aku punya teman di Bali yang mempunyai bank, jadi aku ke sana dan menarik 2 miliar dari kartuku, jika ada orang dalam maka itu akan lebih cepat kan,” Julian
“Oh, kamu menarik 2 miliar- Sebentar, 2 Miliar????” Suta terkejut
“Iya, “ Julian
“Julian, bagaimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini, jarang ada anak semuda dirimu yang punya tabungan 2 miliar, apakah kamu meminta pada Keluarga Ginanjar??” Suta
“Ngak Ayah, beneran, serius deh, ini memang uangku sendiri, sejak masuk SMA, aku bekerja dan mendapatkan uangku sendiri, aku bahkan gak nerima uang jajan dari Papa Hans, kartu ini buktinya,” Julian
Julian menunjukan sebuah kartu atm biasa,
“Papa Hans dan Bunda Dyana selalu mengirim uang jajan dikartu ini, tapi aku gak pernah menyentuhnya, aku selalu menggunakan uangku sendiri,” Jelas Julian
“Ahh baiklah, Ayah percaya padamu, uang ini ada sisanya, jadi mau diapakan??” Suta
“Terserah Ayah, jika Ayah memiliki hutang ke seseorang maka bayarlah sekalian, aku selalu diajarkan oleh Kakek, kalau punya hutang itu lebih buruk daripada jadi rentenir,” Julian
“Kakek Angkatmu benar Julian, tapi mau bagaimana lagi, Ayah sudah tua, Sera masih sekolah dan tak bisa diandalkan, kedua Kakakmu bahkan kekurangan juga, Ayah terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan,” Suta
Julian tersenyum, “ Sekarang aku sudah ada disini, Ayah tak perlu cemas akan keuangan, aku tidak akan membiarkan Keluarga ini tertunduk lagi,” Julian
Julian melihat jam,
“Tapi kenapa Sera belum pulang ya?? Bukannya kata Ayah biasanya Sera pulang setengah 4, ini udah setengah 4,” Julian
“Sera belum ada nelpon, tapi biarin aja, kita bisa memasukkan barang dan menatanya, jadi jika Sera datang, semuanya sudah rapih,” Suta
“Ah bener juga, berarti kita harus cepat,” Julian
Setelah Rini selesai menyapu, mengepel, dan membersihkan kaca dengan bantuan Julian, Kuli yang masih disana membantu membawa masuk lemari 4 pintu itu yang di letakan di sisi barat dekat pintu, dan ditengah ada ranjang berukuran 180×200 yang terletak satu langkah dari lemari, mentok dekat tembok berisi jendela kaca besar, dan 1 meja belajar di sisi selatan dekat ranjang, kipas angin Sera diletakkan di atas dekat Sera agar Sera bisa menikmati angin(Saran dari Rini karena Rini tau jika Sera suka berdiri didekat kipas angin alasan sedang panas), di dinding juga terpasang banyak foto-foto mau itu foto Sera dan foto Julian sedari kecil sampai besar.
Julian pun membuka lemari dan menata pakaiannya, Rini pun juga menata pakaian Sera dan memisahkan pakaian layak dan tidak layak, Julian melihat banyak pakaian Sera yang tidak layak dan teringat jika dirinya membawa banyak pakaian baru untuk Sera, Julian pun menyerahkan pakaian itu ke Rini,
“Kak Rini, ini semua untuk Sera, ini hadia dari Bundaku, ukurannya sudah disesuaikan,” Julian
“Wahh semua barang-barang bermerk, Sera pasti suka. Tapi, kenapa pakaianmu sedikit, hanya ada beberapa seragam sekolah??” Rini
“Oh, aku membawa semua seragam sekolah dari Paud sampai SMA untuk kenang-kenangan, dan beberapa baju santay untuk keseharian, ada juga baju formal 1 kalau ada acara formal, dan ada 1 baju adat Bali, aku sudah menyesuaikan dengan pakaian adat normal. Aku naik motor kesini soalnya, jadi gak bisa terlalu banyak barang,” Julian
“Wah Julian, kamu menyiapkan semuanya dengan baik, tidak seperti Sera yang hanya menyimpan sampah di kamarnya, lihat sepatu-sepatu yang sudah rusak saja di simpan, tas usang juga disimpan, dan buku-buku lama juga di simpan,” Rini
Julian sempat melihat kamar berantakan Sera tak bisa menyangkal hal itu,
“Yang terpenting Sera senang, aku tidak masalah untuk apapun,” Julian
“Kamu ini jangan terlalu memanjakan Sera, sikap egois dan egonya bisa meningkat, kamu tau, sebenarnya aku dan Sera sedang bertengkar, sudah hampir 5 bulan tak pernah mengobrol karena Si Sera tak bisa menjaga mulutnya, ya kali dia yang salah, aku yang minta maaf,” Rini
“Kakak tak perlu khawatir, Sera adalah tanggung jawabku, aku akan membuat Sera lebih baik dari sekarang,” Julian
Setelah semuanya tertata rapih, kebetulan Suta ditelepon Sera untuk menjemputnya.
__ADS_1
Flashback End.