
Julian pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan semua uang yang ada di dompetnya,
“Naas banget pas ada 4 juta. Alan, gunakan uang ini untuk bayar kupon-kupon ini, kau bisa menyerahkan secara gratis ke siapa aja yang mau,” Ujar Julian sambil menyerahkan kupon dan uang
“Ugh, emang boleh kayak gini??” Alan
“Entahlah, kalau kau mau jual secara jujur, bantu aku jual 20 kupon punyaku, dan ambil 4 juta ini untuk bayaranmu, disaat ada masalah tertentu, menggunakan cara kotor juga adalah jalan yang terbaik,” Julian
“Baiklah, senang berbisnis denganmu. Dan juga nanti malam ada tedun bayar dosan, aku sudah mengirim filenya ke kau,” Alan mengingatkan
Julian berdecih, “Cih, aku akan ke atm dulu, seharusnya aku membeli brangkas untuk menyimpan uang darurat,” Julian
“Kau mau ke atm?? Aku mau ikut, aku bosan dirumah,” Sera
“Tidak boleh, kamu harus banyak istirahat, bayimu juga butuh istirahat Sera, jika kamu mau menitip sesuatu akan kubelikan,” Julian
“Ahhh baiklah, aku mau ayam lalapan, air kelapa muda, kebab dan roti bakar,” Sera
“Aku juga mau ayam lalapan, belikan ya,” Alan ikutan
“Kau punya kaki dan tangan, beli sendiri,” Julian
“Cih, dasar pelit,” Alan menggerutu
“Sera, kamu tunggu aku di rumah ya, ingat jika ada apa-apa segera hubungi aku, kamu jangan terlalu banyak kerja, oke?? Aku gak mau kamu terlalu kelelahan,” Julian
“Ya ya, kau itu cerewet sekali,” Sera
Julian pun pergi,
“Sera, aku bingung dengan satu hal, kenapa sampai sekarang kamu gak manggil Julian dengan namanya??” Alan
“Huh?? Kata siapa aku gak pernah nyebut nama Anak Angkat Ayah itu, waktu Kuliah aku beberapa kali nyebut, saat absen,” Sera
“Secara langsung gitu kamu gak pernah kayaknya,” Alan
“Oi Alan, sejak kapan kau jadi bawahan sekaligus informan Anak Ayah itu, beraninya kau mengorek informasi dariku, jika kau emang punya banyak waktu luang, sebaiknya kau persiapkan semua kebutuhan wisudamu,” Sera
“Aihh, kamu memang diktator kejam Sera,” Alan
“Masalah untukmu, Ayah memang yang memegang keputusan dirumah ini, tapi akulah yang berkuasa disini,” Sera
Sera pergi dan masuk ke kamarnya, tak lama, Yohan datang,
“Alan, Sera sudah pulang??” Yohan
“Iya, baru aja ke kamar tuh,” Alan
Yohan pergi ke kamar Sera, Yohan mengetuk pintu, setelah diijinkan masuk, Yohan melihat Sera sedang duduk di meja belajarnya,
“Sera,” Yohan
“Yohan, kamu darimana aja?? Daritadi menghilang entah kemana,” Sera
Yoban mendekat ke Sera lalu memeluk Sera dari belakang,
“Maaf, di pub dan restoranku yang di Denpasar ada sedikit masalah, tapi sudah kuatasi,” Yohan
“Bisnis pub dan restoran bukannya impianmu sejak Kuliah?? Kenapa gak fokus ke itu aja?? Kau selalu sibuk dengan Perusahaan warisan Keluarga angkatmu,” Sera
“Jika aku tak meneruskan perusahaan itu dan hanya mengandalkan bisnis kecil, aku akan kekurangan uang, untuk memilikimu aku butuh banyak uang,” Yohan
__ADS_1
“Yohan, kau berkata seperti itu seakan aku adalah wanita penggoda yang memuaskan pria hanya untuk uang,” Sera
“Tentu saja tidak Sera, jika kita menikah, aku akan menjadi bagian Keluargamu, itu berarti aku adalah anak Keluarga ini, seorang anak kan juga harus membiayai dan merawat orang tua dan anggota Keluarganya kan,” Yohan
“Ya ya, aku mengerti, dari dulu entah mengapa Keluarga ini selalu saja memerlukan banyak uang,” Sera
Yohan mencium leher Sera dan membuat beberapa ****** disana,
“Yohan, hentikan, kau tak takut akan ketahuan Anak Angkat Ayah??” Sera
“Dari awal aku mencintaimu aku sudah tau jika aku akan terlibat dalam konflik besar, aku sudah tak takut apapun lagi,” Yohan
“Pfft, kau dan Anak Angkat Ayah itu saudara Kembar kandung, tapi sifat kalian benar-benar berbeda jauh,” Sera
“Oh ya Sera, bagaimana bayimu?? Apakah baik-baik saja, dan cewek atau cowok??” Yohan
Sera memberikan hasil usg kepada Yohan, Yohan pun mengambil map itu dan melihat hasil usg itu,
“Wahhh anak perempuan,” Yohan
“Kenapa kau dan Anak Angkat Ayah itu terlihat senang dengan anak perempuan?? Di India, anak perempuan malah jadi beban tau,” Sera
“Hah?? Anak perempuan jadi beban?? Aku tak pernah berpikir seperti itu, cewek atau cowok sama aja untukku, hanya saja kalau cewek pasti mirip denganmu, semoga genmu yang banyak untuk anak ini,” Yohan
“Eh?? Aku kan gemuk dan gak terlalu cantik, kenapa kau mendoakan anakku jadi jelek??” Sera
“Kata siapa kamu jelek?? Kamu memang gendut dan gak terlalu cantik, tapi kamu berhasil membuat 3 Pria tampan nan kaya jatuh hati padamu kan, sedangkan diluar sana, wanita yang sexy ditambah bahenol malah open bo, lebih baik dirimu daripada cewek open bo,” Yohan
“Yaaa kau benar juga,” Sera
Yohan kembali memeluk Sera setelah menaruh map hasil usg di meja, Yohan mengecup telinga Sera, saat ciuman Yohan menjalar ke leher Sera, Yohan melihat kissmark yang Julian buat disekujur leher Sera.
“Sera, aku sungguh mencintaimu,” Yohan
“Aku tau,” Sera
Alan datang,
“Sera, aku mau ke warung beli tipat, kamu mau nitip??” Alan
“Boleh, tipat 2 pedas manis sama esnya,” Sera
“Baiklah, aku akan ke warung dulu,” Alan
Saat Alan akan pergi,
“Oi, kau gak nawarin ke aku??” Yohan
“Untuk apa? Kau bisa beli sendiri kan,” Alan
“Tch, dasar bawahannya Julian,” Yohan
“Hah??? 💢💢💢,” Alan kesal
“Udah jangan bertengkar, Alan sana beli tipat untuk semua orang, khusus untukku porsinya 2,” Sera
Sera mengambil dompetnya yang ada didalam tas lalu memberikan beberapa ratus ke Alan,
“Nih, uangnya, uang jalan juga seharusnya cukup,” Sera
“Baiklah, aku pergi dulu ya,” Alan
__ADS_1
Alan pergi,
“Ahhh adikmu itu kayaknya gak suka padaku,” Yohan
“Apa kau begitu peduli dengan pendapat adikku, ngak kan, karena itu sekalian aja jangan dipikirin,” Sera
Sera melepaskan pelukan Yohan,
“Aku mau berendam sebentar, kau keluarlah,” Sera
“Baiklah,” Yohan
Yohan pergi,
“Satu hal yang ingin aku tau, apakah para pria sudah gila sampai bisa punya pemikiran seperti itu??” Sera monolog.
.
.
.
Malamnya, setelah selesai makan malam, Sera sedang meminum susu Ibu Hamilnya sambil menonton kartun bersama para Keponakannya yang sudah besar,
“Eh Rini, akhir-akhir ini kau sering sekali menginap, kenapa??” Sera tiba-tiba
Julian yang tak pernah memikirkan alasan Rini sering nginap menjadi tertarik,
“Kenapa apanya?? Ini rumahku juga, kenapa aku gak boleh menginap disini beberapa lama,” Rini
“Bukan ngusir ya, tapi kau udah menikah, saat aku mengejekmu menikahi pria miskin sampai lahir Agus diusia muda, kau marah dan hampir setahun kita tak mengobrol sampai Anak Angkat Ayah datang tapi kau akhir-akhir ini sering menginap, apa Agus gak sekolah?? Agus kan udah SD kelas 4 seharusnya,” Sera
“Sera, kamu gak tau?? Agus bersekolah di sekolah SDmu dulu bersama Dinara, Pipit, dan Gede,” Alan
“Lahhh. Oi, Anak Angkat Ayah, kau bilang akan menyekolahkan Agus di Sekolah bagus di Kota, kenapa jadi di mantan Sekolahku??” Sera
“Itu-“ Julian
“Kakak yang minta, kamu jangan marahin Julian, sekolah di Kota memangnya siapa yang mau jagain Agus disana,” Rini
“Tinggal Asrama, Agus udah besar, kau juga udah punya beberapa villa, jadi untuk apa khawatir,” Sera
“Bicara memang mudah, kau belum punya anak, kau belum tau rasanya dipisahkan dengan anak sendiri,” Rini
“Kak Rini, Sera, hentikan debatnya. Sera, jangan berdebat lagi, pikirkan kandunganmu,” Julian menengahi
“💢💢💢,” Sera kesal
Sera pun pergi ke kamarnya diatas,
“Aihhh, Sera ngambek lagi,” Alan
“Sifat Sera masih saja kekanakan, kapan dia akan dewasa,” Rini
“Kak Rini, sudahlah, Sera sedang hamil, jangan membuat Sera terbebani,” Julian
“Aku akan melihat Sera,” Yohan
“Kau jangan berani mendekat ke Sera, aku yang akan melihat Sera,” Ujar Julian sambil mencegah Yohan berdiri
Julian pun pergi.
__ADS_1