Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
19. First Kiss


__ADS_3

Jumat sore harinya, Sera terpaksa ikut ke Konser Festival Ultah Sekolahnya, Sera yang ditemani oleh Julian pun memilih untuk berdiam diri di warnet(Lapangan yang digunakan Sekolah Senior merupakan lapangan umum yang terletak di belakang warnet kenalan Suta).


Sera dan Julian yang sudah membeli banyak makanan dan minuman pun duduk berdua di meja besar itu,


“Sera, kenapa kita gak ke lapangan, kan disana konsernya,” Julian


“MLS, MALAS, lebih baik disini, aku udah datang dan tangan udah di stempel, sekarang seharusnya udah boleh pulang kan??” Sera


‘Aihhh Sera, kamu memang pemalas akut, padahal terlihat seru disana, kita juga belum ada 2 jam disini,” Julian


“Kalau kau mau kesana desak desakan ya udah sana gih,” Sera


“Kalau gak ada kamu malah jadi gak seru,” Julian


“Gara-gara waktu Sekolahmu datang, Teman-teman bahkan guru-guru jadi menjauhiku karena menganggapku bisa saja melaporkan semua tindakan mereka kepadamu,” Sera


“Mereka juga pasti akan mengerti nantinya Sera, kamu tau alasan kotak makanku terbuat dari perak, karena dari 1000 orang, 400 orang ingin sekali menghabisi Para Ketua Osis Inti Osis YGS,” Julian


“Kau ini jangan bicara hal buruk deh, jangan sampai kedatanganmu malah membawa bencana bagi Ayah,” Sera


“Itu tidak akan terjadi, aku akan selalu melindungi Keluarga kita,” Julian


Sera melihat semua status temannya di wa,


“Hmm mereka terlihat menikmati juga, tapi aku gak peduli, aku mau pulang,” Sera


Sera menghabiskan makanannya,


“Ayo pulang,” Sera


“Baiklah Sera,” Julian


Mereka pun pergi.


Sampai rumah, Sera pun mandi dan memakai baju yang nyaman untuk tidur, tak lama, Julian datang,


“Sera, aku sudah memberi makan Div-Devot, ada lagi?? Piring kayaknya udah Ayah cuci, di dapur gak ada soalnya,” Julian


“Baguslah, aku nonton tv dulu,” Sera


Tak lama, Iwak Padmi(Istri Kakak Pertama Suta) datang dan memanggil Sera, Sera pun keluar,


“Ada apa Wak??” Sera


“Sera, kamu sibuk gak?? Bisa bantu ngempu Devina dulu?? Iwak mau ngasih makan babi dulu,” Iwak


“Ah ya Wak,” Sera


Sera pun mengambil Devina(Keponakan Ke-5 Sera) dan membawanya ke kamar,


“Pina sama Sese iya, aduh manisnya, kawaiii,” Sera


“Sera, aku mau peluk Devina boleh?? Aku gak pernah peluk,” Julian


Sera memberikan Devina ke Julian,


“Devina sama Paman dulu yaa,” Julian


Devina yang tak biasa dengan orang asing pun menangis, Sera dengan cepat mengambil Devina,

__ADS_1


“Kenapa nangis cayang, gak mau sama Paman iya, kalo udah kenal baru mau iya, iya, jangan nangis ya cup cup,” Sera


Sera memberikan celengan uang koinnya(Celengan Sera adalah bekas wadah sarden instan), Sera mendudukkan Devina di ranjang,


“Untung pulang kan, atau gak kan kasihan Iwak ngempu sendiri,” Sera


“Iya, mulai sekarang aku akan bertanya padamu saat ingin melakukan sesuatu, kali aja keputusanmu lebih tepat,” Julian


“Eh?? Ngak sampe gitu juga, kau udah besar kan,” Sera


Sera pun melanjutkan bercanda dengan Devina, dan dengan pendekatan jitu Julian atas saran Sera juga, Julian pun cepat dekat dengan Devina.


Sera yang penyuka pipi cabi pun mencubit lembut pipi Devina, namun saat Sera akan mencium pipi Devina, Devina yang dicium Julian juga malah mengamuk dan membuat Sera malah mencium Julian, Sera yang sadar segera mengambil Devina dan membawanya keluar saat Iwak memanggilnya, dan Julian masih terbeku karena ciuman tak disengaja,


“Julian, kau jangan pikir yang aneh-aneh, tapi ciuman tadi- apakah first kiss Sera?? Arghhh,” Bathin Julian.


.


.


.


Malamnya, saat waktu tidur, Sera nampak seperti biasanya seperti tak terjadi apapun dan membuat Julian seperti biasa juga, namun sampai tengah malam, Julian tak bisa tidur karena memikirkan ciuman tadi, Julian melirik Sera yang tertidur dengan pulas, Julian memilih memainkan ponselnya, namun kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi sore.


.


.


.


Beberapa hari berlalu....


Julian menatap Sera yang menghela nafas panjang sekali,


"Kenapa Sera?? Sepertinya hari ini aku yang memberi makan Div-Devot," Julian


"Baaakkaaa, aku menghela nafas, karena lebih dari seminggu kau disini dan terusss ada tamu, tamu, tamu, dannn tamu. Aku bosan tau. Persediaan teh juga semakin menipis dengan cepat karena membuat minum untuk para tamu," Sera


Julian tertawa kecil,


"Ini gak lucu tau!!" Sarkas Sera


"Ya, maap, aku juga tak menyangka jika aku akan terkenal, aku terlalu tampan ternyata," Julian


"PDmu itu udah mencapai Tuhan ya," Sera


Julian bertambah tertawa, tak lama Julian kembali fokus ke laptopnya, Sera mendekat ke Julian dan melihat yang Julian sedang lakukan,


"Kau selalu menghidupkan laptopmu, kau ngapain sih?? Gak nonton 1821 kan??" Sera


"Huh?? 1821?? Itu kan normal, 1 sampai 2 film per minggu itu masih normal, jadi gak masalah Sera. Tapi aku tidak mood nonton 1821," Julian


"Lalu kau ngapain??" Sera


"Seperti yang kamu, aku punya black card itu bukan tanpa alasan. Papa angkat memberikanku 5% saham perusahaan setiap aku ultah selama ini, karena itu aku harus mengolah semua saham, ah ditambah, Papa angkat juga memberikanmu 5% juga, aku gak beritau karena aku ingin mengolah supaya 5% punyamu bisa menghasilkan banyak uang," Julian


"HEHHH??? AKU JUGA DAPAT?? Tapi aku sama sekali gak ngerti," Sera


"Karena itu biarkan aku mengolahnya, tiap bulan aku akan memberikan hasilnya ke rekeningmu. Gunakan itu sesukamu Sera," Julian

__ADS_1


"Nenekmu "sesukamu", aku menyukai uang karena aku sedang membutuhkannya. Jika aku tau dari awal aku punya adik seorang pengusaha muda salah satu pemilik black card, aku tidak akan banyak ngeluh," Sera


Julian bersandar di sandaran kursinya dan menatap Sera yang memeluknya dari belakang,


"Seorang wanita hanya melihat pria dari dompet dan wajah, itulah fakta mengerikan yang ada. Jika aku bukan pengusaha muda yang menghasilkan banyak uang ataupun aku tidak tampan, kamu pasti tak menyukaiku kan Sera??" Julian


"Aihhhh pikiranmu naif sekali adik, sebenarnya aku hanya ingin ada yang menemaniku, tidak peduli apapun itu. Di muka bumi ini tidak ada makhluk yang sempurna," Sera


Julian mengerti, Sera melepaskan pelukannya dan memutar kursi Julian hingga Julian dan Sera berhadapan,


"Dan, pria juga melihat wanita dari body dan warna kulit, jika pria menginginkan wanita cantik, maka pria harus siap dana untuk membeli banyak skincare dan suntik putihnya. Kalau pria gak mampu yaa jangan sok gaya nyari yang cantik sexy. Saling menguntungkan kayak gitu jadi untuk apa saling cekcok kayak di medsos." Sera


Julian tersenyum,


"Kakakku ini pintar sekali, jadi bangga deh," Julian


Julian menarik Sera ke pangkuannya dan memeluknya,


"Semoga kita bisa mendapatkan jodoh yang baik ya di masa depan," Julian


"Usia kita baru 18 tahun, masa depan masih panjang, jangan kayak di sosmed, anak tujuh tahun udah ngerasa tua," Sera


Julian tertawa cukup keras,


"7 tahun udah ngerasa tua, gimana Dadong di Panti?? Sang Pencipta??" Julian


Hening....


"Hei, kau jadi mengajakku ke Ending Party Sekolahmu?? Soalnya kebetulan kan acaranya hari sabtu, jadi aku gak terlalu memikirkan absen sekolah," Sera


"Ya tentu saja, aku udah minta Bunda menyiapkan gaun khusus untukmu, Bundaku walau terlihat Emak-Emak rumahan, tapi Bundaku itu designer terkenal lhoo, karena itu waktu itu aku menanyakan size baju dan celana yang biasanya kamu pakai dengan nyaman," Julian


"Jika aku berbuat masalah tak sengaja?? Seperti menumpahkan minuman ke gaun mahal cewek lain," Sera


"Aku malah ingin melihat itu," Ujar Julian dan tersenyum miring


"Heh??" Sera bingung


Julian menurunkan Sera dan berdiri,


"Ughh kamu berat Sera," Julian


"Kau yang menarikku!! Udah tau aku gendut," Sera tak terima


"Hehehe, aku udah terbiasa ngangkat beban sampai 150kg, jadi berat badanmu termasuk sedang untukku," Julian


"Huh," Sera kesal


Julian mengambil snack dari tempat penyimpanan dan kembali duduk di kursi,


"Sera, beberapa hari lagi kita akan berangkat, bersiaplah, jangan bawa banyak barang, kita akan beli kebutuhan di Jakarta jika ada yang diperlukan," Julian


"Baju??" Sera


"Tidak perlu, bawa aja tas kecil untuk pakaian dalam, sisanya kita beli," Julian


"Baiklah," Sera


Sera tiduran di ranjang, namun ekspresi Julian berubah dingin setelah melihat pesan di laptopnya.

__ADS_1


__ADS_2