Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
30. Masa SMA Julian Again 2


__ADS_3

Saat Julian cs akan pergi ke ruang InOs, Julian melihat keributan kecil di sisi taman, walau ramai yang menonton, mereka hanya menonton tanpa berniat memisahkan yang membuat keributan, Julian mendekat ke mereka karena Julian juga mengenal satu diantara 3 orang itu,


“Ada keributan apa ini?? Lo gak malu buat keributan dengan adik Kelas, Sandy,” Julian


Sandy yang merupakan teman sekelas Julian tak bergeming,


“Lo jangan ikut campur Julian, ini urusan gue sama dia,” Sandy


Julian melihat ke cowok yang lagi satu,


“Hei, dia bukankah Anti Osis yang tadi?? Wow, jadi Anggota InOs dan Anggota Anti InOs bertengkar karena memperebutkan seorang gadis polos, hei kalian jangan merusak kepolosan gadis itu,” Reina


“Diem lo Kak, ini bukan urusan lo,” Ujar cowok yang adalah Satria, “Bunga adalah milik gue, selamanya milik gue,” Tambah Satria


“Setelah lo nyakitin Bunga sedemikian rupa saat SMP, sekarang lo mau Bunga kembali pada lo, itu gak mungkin,” Sandy


Julian melihat name tag Satria yang berisi namanya,


“Hei Satria, kalo lo emang masih menginginkan Bunga, lo yang harusnya ubah diri lo, cewek itu kayak pasir, semakin di genggam maka dia akan semaikin keluar, intropeksi diri lo sendiri sebelum lo mau ngerebut cewek orang lain,” Julian


“Apa maksud lo Kak, sedari awal Bunga itu cewek gue, dia aja yang ngerebut cewek gue,” Satria


Vino membisikan sesuatu di telinga Julian,


“Lian, mereka Kakak-Adik dari Keluarga Wangsa, saat mereka masih SMP, mereka juga berkonflik gara-gara cewek yang ditengah, cewek itu namanya Bunga, Murid dari Rakyat Jelata yang bahkan orang tuanya hanya mengandalkan bantuan YGS dan Keluarga Wangsa,” Bisik Vino


Julian menghela nafas, “Hei, kamu namanya Bunga??” Julian ke Bunga


Bunga menunduk dan mengangguk,


“Lebih berani dikit dong, aku gak akan memakanmu juga, sebelum perkelahian mereka semakin jadi, kamu harus memilih salah satu dari mereka, ini hidupmu, walau kamu anak Pembantu sekalipun di Keluarga mereka, mereka tetap gak punya hak apapun untuk ikut campur dalam hidupmu,” Julian


Bunga menatap Julian,


“Aku- Aku gak mau memilih siapapun,” Bunga


“Ngak, kamu hanya milikku Bunga,” Satria


“Omong kosong, Bunga adalah milik gue,” Sandy tidak mau kalah


“Satu mau menang dan satu gak mau kalah,” Celetuk Vino


“Dion, bawa Bunga kesini,” Julian


Dion pun memisahkan Bunga dari 2 cowok psikopat itu dan membawanya ke belakang Julian,


“Cih, siapa lo berani mengganggu gue,” Sandy


“Gue? Gue adalah Tuan Muda Paman lo sekaligus Calon Ketua Osis Inti Osis,” Jawab Julian sambil memperlihatkan lencana Ketua InOs itu


Julian menyimpan kembali lencana itu dan menatap Sandy,

__ADS_1


“Lo menjadi InOs saat baru Kelas 1 dengan usaha lo sendiri, gue tau itu San, tapi lo terlalu mengandalkan Keluarga lo dan kekuasaan lo sebagai kandidat Pewaris Wangsa Group, dan tanpa lo sadari, Wangsa Group masih bergantung pada Keluarga Ginanjar,” Julian


Julian menatap Satria,


“Dan lo Satria, lo itu terlalu kekanakan dan menganggap semuanya bisa lo miliki, Bunga itu manusia, dia punya mengambil keputusannya sendiri, tapi lo terlalu kekanakan dan menjadi Anggota Anti Osis supaya bisa ngelawan Sandy yang Anggota InOs, lo gak malu gak punya usaha sendiri dan bahkan gak bisa ngalahin Kakak lo ini dengan kemampuan lo, kalo lo emang mampu, lo pasti bisa dengan mudah ngalahin Sandy kan,” Julian


Satria terdiam,


“Gue pernah dengar cerita dari Pak Jo, Beliau punya 2 Keponakan laki-laki yang sungguh berbeda, satu gak pedulian dan satu terlalu nakal, Pak Jo bilang jika Kedua Keponakannya punya 1 gadis teman masa kecil, yang satu gak mau dekat karena dia anak Pembantu dan yang satu selalu membully gadi itu. Sekarang lo berdua mengharap cinta dari anak pembantu, lo berdua berarti sangat gila. Sebaiknya lo berdua pikirkan dengan kepala udang kalian itu apa saja yang membuat Bunga gak mau sama kalian, gunakan cara sehat kalau kalian beneran laki-laki,” Julian


Saat Julian akan pergi,


“Anak terbuang kayak lo tau apa hah?? Udah gue bilang jangan ikut campur,” Sandy


Julian terhenti dan berbalik menatap Sandy,


“Gue bukan anak terbuang, Keluarga Kandung gue sengaja ninggalin gue di Keluarga Ginanjar supaya gue gak kekurangan, asal lo tau, gue dan Si Bunga ini punya latar belakang yang sama, tapi bedanya, gue dianggap anak angkat di Keluarga baik-baik seperti Keluarga Ginanjar, dan Si Bunga menjadi anak Pembantu di Keluarga Wangsa yang mempunyai Para Calon Pewaris buruk sifat seperti kalian. Sekarang bahkan gue tau kenapa Pak Jo memilih menjadi Sekretaris Bokap gue daripada berebut warisan Keluarga Wangsa,” Julian


Sandy maupun Satria hanya bisa diam, tak bisa menyangkal perkataan Julian,


“Selama lo ataupun lo gak berubah, jangan harap bisa mendapatkan Bunga, gue emang bisa di bully, tapi tidak dengan teman-teman gue,” Julian


Julian pergi dan diikuti kawanannya.


.


Namun sepulang sekolah, Julian di labrak oleh Para Anggota Anti Osis yang ingin membalas perbuatan Julian pada Sean,


“Dia yang lemah kenapa gue yang disalahin, kalian memang orang-orang payah. Lo pada juga emang gak malu pengen ngeroyok gue yang sendirian ini, ya tentu saja, sekali anak mama tetaplah anak mama, sebaiknya kalian pulang dan minum susu lagi supaya cepat besar,” Julian


Semuanya menjadi kesal dan menyerang Julian, namun kemampuan bertarung Julian yang hebat membuat Julian bisa mengalahkan hampir 20 orang itu sendirian, Julian melihat Satria yang juga kena pukul,


“Lo masih ikutan ini juga Sat, gue sebagai Kakel lo bukannya merasa bangga tapi merasa malu punya adkel pengecut kayak lo, lo mau Bunga jatuh cinta pada lo, mimpi aja terus sana,” Julian


Satria menunduk kalah dengan tangan terkepal, Julian merapihkan jasnya,


“Tapi gue suka cara kalian ngelawan gue, kalian langsung mencari gue dan main fisik secara langsung, sedangkan Ketua kalian Si Sean itu ketimbang langsung lawan gue, dia hanya berani bermain di Medsos dan dibelakang gue, menyedihkan sekali,” Julian


Semua terdiam, Julian melempar suatu kartu ke salah satu dari mereka,


“Sebaiknya kalian ke Dokter atau tangan kalian yang patah tidak akan bisa diperbaiki lagi,” Julian


Julian pergi dengan menggunakan motor kesayangannya.


.


.


.


Sampai di rumah Keluarga Ginanjar, Julian melihat jika Hans dan Dyana ada disana bersama Pak Jo dan juga Satria yang dipanggil oleh Pak Jo,

__ADS_1


“Julian, kami dengar kamu memukuli adik kelasmu, tapi kamu tau kan jika salah satu dari mereka adalah Keponakan Pak Jo,” Hans


“Iya Pa, dan aku tidak akan minta maaf, mereka yang memulai duluan terutama Ketua mereka Si Sean itu,” Julian


“Lain kali kamu harus bisa mengontrol emosimu Julian, jangan terus berkelahi disekolah,” Hans


“Setelah mereka menghina Keluarga Ginanjar dan Keluarga Kandungku, aku tidak membunuh mereka seharusnya mereka bersyukur Pa,” Julian tak mau kalah


“Julian kamu-“ Hans


“Papa, kenapa Papa malah marahin Julian?? Julian hanya ingin membela Keluarganya saja karena Julian sangat menyayangi kita, benarkan Julian??” Dyana


“Tentu saja Bunda, dalam hidupku tidak ada yang lebih berarti daripada Keluarga kita,” Julian


“Tuan Hans, saya kesini membawa Keponakan saya Satria untuk meminta maaf karena Satria malah ikut anggota kekanakan disekolah bahkan sampai melukai Tuan Muda Julian. Satria, cepat minta maaf pada Tuan Muda,” Pak Jo


Satria tak bergeming,


“Biarkan saja dia mau berbuat apa Pak Jo, lagipula selama dia gak berubah maka juga gak ada perubahan apapun yang terjadi,” Julian


Satria mengepalkan tangannya erat, namun Pak Jo memaksa Satria menundukkan kepalanya diikuti Pak Jo yang menundukkan kepalanya juga kepada Julian,


“Tuan Muda, sekali lagi maafkan perbuatan Keponakan saya, saya akan menyuruh adik saya untuk mendidik Satria lebih keras lagi,” Pak Jo


Satria pergi dengan kekesalannya, Dyana berdiri dan mendekat ke Julian,


“Lian sayang, apakah kamu ada terluka?? Bunda khawatir saat mendengar kamu berkelahi dengan teman sekolahmu,” Dyana


“Aku baik-baik saja Bunda, lihat aku gak terluka, kata Kakek kan anak cowok tumbuh dengan perkelahian, jadi Bunda jangan khawatir,” Julian


“Julian, lain kali jangan berkelahi, Papa memang tak peduli jika orang tua mereka membatalkan kerjasama perusahaan, tapi keselamatanmu lebih penting, Papa mementingkan keselamatan kamu, kamu mengerti kan Lian,” Hans


Julian mengangguk, “Baik Pa, aku akan berusaha tidak menggunakan kekerasan, tapi jika mereka mengusik atau berbicara hal buruk tentang kedua Keluargaku, aku tidak akan diam,” Julian


Hans menghela nafas berat, “Kamu memang keras kepala sekali Julian,” Hans


“Bunda, aku akan membersihkan diriku dan mengerjakan PR, nanti sore aku yang akan menjemput kedua adik dari tempat les mereka,” Julian


“Ya, ingat makan dulu Lian,” Dyana


“Baik Bunda,” Julian


Julian mendekat ke Pak Jo,


“Pak Jo, Pak Jo tidak perlu merasa bersalah, Satria yang harus intropeksi dirinya sendiri, Pak Jo tenang saja dan lakukan kegiatan Pak Jo seperti biasanya,” Julian


“Baik Tuan Muda,” Pak Jo


“Setidaknya berhentilah menyebutku Tuan Muda,” Celetuk Julian


Julian pergi.

__ADS_1


__ADS_2