Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
84. Fakta Menyakitkan Dengan Kehamilan (Season 2)


__ADS_3

Julian menatap Gede yang menangis ketakutan,


“Alan, tolong bawa Gede ke rumah sakit, gunakan semua yang bisa dilakukan untuk berdamai dengan Keluarga Kak Nani, dan pastikan Gede dapat perawatan psikologi juga. Aku akan menangani Sera disini,” Julian


“Julian, pastikan kau tidak menyinggung Sera, jika tidak, kau pasti akan menyesalinya,” Alan


Alan pergi dengan menggendong Gede,


“Julian, yang dikatakan Alan benar, jika kamu menemui Sera sekarang dan salah bicara, Sera akan tambah marah, Ayah sarankan, biarkan Ezhar saja yang bicara pada Sera,” Suta


“Tapi Ayah, sikap Sera sudah keterlaluan, jika dia memukul Gladis mungkin aku tak akan marah, tapi Sera memukul seorang anak kecil dengan keras, sikap diktatornya itu sudah sangat keterlaluan, setidaknya aku ingin Sera meminta maaf pada Gede dan Keluarga Kak Nani,” Julian


Sera yang mendengar perkataan Julian dari lantai 2 pun merasa sedih dan kembali ke kamarnya, di lantai bawah, Suta bangkit dan mendekat ke Julian,


“Julian, Sera menganggap kehidupan masa kecil memaksa Sera untuk dewasa lebih cepat karena meninggalnya Mamanya Sera, Sera hanya tidak menginginkan para keponakannya merasa hal yang sama dengan apa yang ia rasakan. Mengertilah Julian, selama ini kan kau yang selalu mengerti keadaan Sera apapun juga, jika bukan kau yang mengerti keadaan Sera, maka Sera bisa saja tak akan percaya pada siapapun lagi,” Suta


Julian tersadar dengan apa yang terjadi, Julian merasa pening dan memilih untuk pergi ke luar,


“Sean, bisakah kau membantu Ayah ambilkan obat, Ayah sudah waktunya minum obat,” Suta


“Baiklah Ayah,” Sean


Sean pergi,


“Nak Ezhar, Rini sedang tak ada di rumah, tolong bantu menenangkan Sera, bagaimanapun kau juga salah satu yang paling mengenal sifat Sera sejak kecil,” Suta


“Baik Ayah, akan kulakukan,” Ezhar


Ezhar pergi.


Suta kembali duduk ke sofa khususnya,


“Sera, Ayah yakin kamu sedang merencanakan sesuatu,” Bathin Suta.


.


.


.


Malamnya, Serena di pindahkan ke kamar aslinya(Serena selalu tidur dikamar Sera walau punya kamar sendiri yang Julian siapkan) karena kamar Sera yang hancur, Saat Para Pelayan membersihkan kamar Sera, Sera menggunakan kamar yang kosong.


Dikamar itu, Sera sedang melihat sinar bulan yang kebetulan sedang sangat terang, dan tiba-tiba Julian datang,


“Sera,” Julian


Sera hanya menatap Julian,


“Sera, maafkan aku, aku tak seharusnya memarahimu tadi siang,” Julian


“Hm ya, kau kan memang seperti itu, aku sudah tak mempermasalahkan,” Sera


Sera menatap bulan lagi, Julian mendekat ke Sera dan memeluk Sera dari belakang,

__ADS_1


“Sera, kumohon maafkan aku, kumohon jangan jadikan tadi siang sebagai alasan kamu menjadi ragu dengan cintaku, jangan ragukan cintaku, aku sungguh mencintaimu,” Julian


Julian mencium leher belakang Sera, dan ciuman itu semakin merambat ke depan hingga ke bibir, dan Julian pun memulai “Permainan “ panas mereka.


.


.


.


2 Bulan kemudian, masalah yang ada sudah terselesaikan dengan damai atas kerja keras Julian, walau karena masalah itu, Nano dan Citra serta anak-anak mereka pun meninggalkan rumah besar Sera dan memilih tinggal di rumah kost bersama Keluarga Citra.


Sera tak mempedulikan hal itu, Sera kembali ke kehidupannya yang bermalas-malasan, dan kehidupan rumah kembali seperti sebelumnya juga.


Hingga suatu sore hari, Sera merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya, Sera sudah tak haid dalam 2 bulan dan bahkan sering muntah dan memilih-milih makanan, Sera pun membeli beberapa test pack. Walau sudah menggunakan hampir 20 test pack, hasilnya tetap sama yaitu 2 garis alias positif hamil.


Sera kembali mengingat jika hanya Julian yang menanamkan benihnya ke dalam rahimnya, Sera menyembunyikan semua test pack positif itu dibawah bantal,


“Aku harus merahasiakan ini, aku- aku tak percaya jika pria itu akan mengakui anak ini,” Sera bermonolog lirih


Sera menyentuh perutnya,


“Bagaimana bisa aku hamil anak dia,” Sera.


.


.


.


Namun....


“Sera, kamu sedang hamil??”


Sera menatap terkejut pada Ezhar yang sadar akan kehamilannya,


“Ba- Bagaimana kau tau??” Sera


“Walau aku terlihat malas, gini-gini aku punya lisensi untuk menjadi dokter. Bisa dibilang aku salah satu rival Si Dokter Terbaik Axel itu,” Ezhar


Sera terdiam,


“Jadi- anak siapa itu??” Ezhar


“Anak Angkat Ayah,” Sera


“Apa? Pfft, hahahhahahaha, bagaimana bisa kamu mengandung anak orang itu?? Kukira kamu hamil anaknya Sean,” Ezhar


Sera menggeleng, “Bukan, aku memaksa memakai pelindung saat melakukan itu dengan Sean beberapa bulan lalu,” Sera


“Lalu Julian?? Kenapa kamu gak menyuruh hal yang sama??” Ezhar


“Sudah kulakukan, tapi dia gak mau,” Sera

__ADS_1


“Hmm, iya juga sih, katanya kalau pakai pelindung itu jadi gak enak. Jadi, kapan kamu akan memberitau Julian tentang kehamilanmu, dia harus bertanggung jawab dengan menikahimu,” Ezhar


Sera menggeleng, “Tidak, aku gak mau memberitau dia, biarkan Ayah bayi ini menyadari jika anaknya sudah datang,” Sera


“Kamu yakin?? Akhir-akhir ini entah mengapa Si Julian itu mengidap bipolar, jika dia ngak tau apapun dan malah menyakitimu?? Itu akan jadi drama kamu sadar sendiri kan,” Ezhar


“Ya, aku sadar, tapi aku tetap pada tekadku. Ezhar, jangan beritau siapapun, kumohon,” Sera


“Ahhh baiklah, aku mengenalmu dari kecil dan kamu sama sekali gak berubah, aku hanya bisa mendukungmu Sera,” Ezhar


“Makasih Ezhar,” Sera


Di luar kamar Sera, Gladis menguping pembicaraan Sera dan Ezhar, dengan cepat Gladis kembali ke kamarnya.


Dikamar Gladis, Gladis merasa gelisah karena mengetahui jika Sera sedang mengandung anaknya Julian,


“Bagaimana ini, jika Julian tau Sera sedang mengandung anaknya maka wanita itu minta Kepala Raja Inggris pun, Julian pasti akan berikan. Tidak, bagaimanapun juga aku harus menjauhkan Julian dari wanita ***** itu,” Gladis.


.


.


.


Hari berlalu begitu cepat, Gladis memulai drama penindasan di rumahnya Sera, Sera yang menjadi “Penindas” hanya bisa diam dan hanya mendengarkan omelan Julian maupun Suta tidak terkecuali Rini.


Hingga suatu hari, di suatu malam hari, di kantor Julian, Julian sedang bervideo call dengan Alvaro,


“Yo, sudah lama tidak berjumpa Bocah,” Alvaro


“Jangan banyak bicara, cepat katakan kenapa kau menghubungiku,” Julian


“Aku hanya ingin memberitaukan, jika orang yang membunuh Paman Hans sudah ditemukan,” Alvaro


“APA?? Jadi siapa orang itu??” Julian


“Mantan Kakak Kembarmu, Sera,” Alvaro


“APAAA!!!??? Ba- Bagaimana bisa?? Sera??? Sera tak mungkin,” Julian


“Aku juga terkejut, tapi inilah faktanya. Sisa dna kulit yang ada pada kuku Paman Hans adalah milik Sera, sepertinya Sera juga diancam, Paman Hans yang ingin menyelamatkan Sera pun memilih mati di tangan Sera. Dan kenyataan jika Sean bersama Sera bahkan sampai bisa menikah, itu mungkin karena Sean juga adalah anggota Organisasi Hitam itu,” Alvaro


“Ti-Tidak mungkin, Sera tidak mungkin,” Julian


“Bocah, aku tau kau mencintai Sera, ditambah Sera sepertinya tidak bersalah penuh dalam kematian Paman Hans, aku yakin jika Sera tak tau apapun, sekarang kendalikan emosimu, jangan sembarangan meluapkan emosimu,” Alvaro


“Alvaro, telusuri lebih lanjut,” Julian


“Ya baiklah, tapi kebiasaan Sean, dia melakukannya dengan lebih rapih dari yang kita kira, kalau gitu kututup teleponnya, aku akan hubungi lagi jika ada berita baru,” Alvaro


Alvaro menutup telepon itu, sedangkan Julian merasa sangat frustasi,


“Sera, Sera, bagaimana bisa Sera membunuh Papa?? Jika Sera membunuhku, aku akan merasa senang, tapi Papa- Yang benar aja,” Julian.

__ADS_1


__ADS_2