
3 Tahun Kemudian....
Pagi hari di sebuah apartemen, seorang wanita sedang memasak sarapan, dan di salah satu kamar terjadi keributan,
“Aku masih ngantuk, jangan ganggu deh, Selen,”
“Horaaaaa namaku itu Serena, SE-RE-NA, ayo bangun Kenzie. Lihat, Serli aja udah bangun tuh,” Serena
Kenzie melirik Serlian yang sudah bangun dan terduduk, Kenzie menjatuhkan Serlian kembali dan memeluk Serlian,
“💢💢💢,” Serena kesal
Serena pun lebih mengguncang badan Kenzie,
“Bangun Kenzie, jika kamu gak mau bangun, aku akan laporin ke Mama jika kamu memakai kartu hitam Mama kemarin,” Ancam Serena
Kenzie tersentak bangun dan langsung berdiri,
“Jangan, Mama bisa memukulku nanti, baiklah aku bangun, lihat aku sudah berdiri tegap, jadi jangan beritau Mama ya, pleaseeee, Kak Serena kan paling baik dan cantik, jangan laporin yaaa,” Kenzie merayu Serena
Serena melipat tangan didepan dada,
“Baiklah, tapi nanti kamu juga harus memakan sayuran pagimu, mengerti??” Serena
“Baik, aku mengerti, aku akan menghabiskan sarapanku dan makan dengan baik,” Kenzie
“Sekarang kamu mandi, setelah itu baru Serlian. Serli jika Kenzie gak mandi, beritau aku, aku akan melaporkan anak nakal ini ke Mama,” Serena
“Baik,” Serlian
Serena pergi,
“Ugh Serena galak sekali, memang benar Seren-Seren itu anaknya Mama, galak nan diktator kejam,” Gerutu Kenzie
“Sudalah, kamu mandi sana, nanti beneran dilaporin kan gawat, lagipula kenapa Mama memasukan kita ke TK YGS jika Mama gak punya uang ya, kamu jadi terpaksa mengambil uang dari kartu hitam Mama,” Serlian
“Entahlah, yang paling harus dipertanyakan adalah di dalam kartu hitam Mama itu unlimited uangnya, tapi kenapa Mama selalu bilang gak punya uang ya??” Kenzie
“Yaaa mungkin Mama punya rahasia sendiri,” Serlian
“Ahhh udahlah, aku mau mandi dulu,” Kenzie
Kenzie pergi ke kamar mandi. Di dapur mini, Serena yang sudah siap dengan seragam sekolah pun duduk di meja makan,
“Mama, hari ini kita makan apa??” Serena
Wanita yang sedang menyajikan makanan itu menatap putrinya sulung,
“Hmm, sayur sop aja gimana??” Sera
“Lagi?? Mama, minggu ini selalu sayur sop,” Serena
“Aihhh kamu jangan milih-milih makanan, lagipula, sayuran yang isi ayam itu udah cukup untuk kamu dan adik-adikmu tumbuh besar,” Sera
__ADS_1
“Mama, bukannya aku punya Ayah yang kaya raya?? Kenapa Mama gak terima Ayah aja dan tak perlu memikirkan uang lagi??” Serena
“Serena, Ayahmu itu belum menemukan kita, disaat Ayahmu menemukan kita, saat itu kita akan kembali ke Ayah, mengerti?? Jadi syukuri aja apa yang ada, kita masih bisa makan tanpa kerja berat aja udah syukur, di luar sana tuh banyak orang yang masih kelaparan,” Sera
“Ya Mama, aku mengerti,” Serena
“Kedua adikmu udah bangun??” Sera
“Udah, Kenzie lagi mandi sekarang,” Serena
“Kenzie walau terlihat pemalas dan pemalu dihadapan Serlian, tapi di belakang Serlian, Kenzie itu anak laki-laki yang pemberani, bahkan diam-diam Kenzie mengambil latihan karate di TKnya, menurut Mama, Kenzie itu anak kecil yang mandiri dan cerdas,” Sera
“Hm aku setuju Mama, udah tampan, multitalenta pula, sayangnya sifatnya aja menjengkelkan,” Serena
“Walau jengkel, dia tetap adikmu, jaga Ken dan Serli baik-baik ya Serena,” Sera
“Baik Ma,” Serena
Setelah Kenzie dan Serlian selesai mandi dan bersiap, mereka sarapan bersama, dan anak-anak Sera pun berangkat ke sekolah setelah sarapan.
Di salah satu bangunan terbesar di Bali, seorang pria berusia 30 tahunan sedang membaca suatu dokumen,
“Bank Ganesh Shati menerima laporan tentang penarikan uang dari black card yang kuberikan pada Sera?? Apakah Sera selama ini ada di Jakarta??” Monolog Julian
Julian berpikir sejenak,
“Sera di Jakarta, karena Audi sudah menikah dan pergi Singapur bersama suaminya, maka hanya satu tempat yang masuk akal, apartemen pilihan Sera, ya, Sera pasti disana, semoga Sera masih ada di apartemen itu, dan aku harus bersiap ke Jakarta,” Julian.
Siang harinya, Sera sedang membereskan kamar Kenzie dan Serlian, dan Sera menemukan Black Card yang ia telah simpan ditumpukan dokumen penting,
“Kenapa ini ada disini??” Apa jangan-jangan, Kenzie menggunakan ini, pantas saja Kenzie bisa membeli sekuter mininya. Ya Tuhan, apakah Julian sekarang akan bisa menemukanku, apa yang harus kulakukan, aku harus segera pergi dari Jakarta,” Sera
Sera pergi dari kamar Si Kembar, dan...
Ting.... Tong....
“Permisi, paket,”
Sera yang sudah curiga pun merasa lega karena mendengar jika hanya kurir yang datang, saat Sera membukakan pintu, Sera terkejut melihat Julian dengan setelan jas hitam seperti yang Julian sering gunakan ke kantor, Julian juga tersenyum seperti saat mereka masih muda,
“Pfft, 12 tahun lalu pun kamu tertipu dengan kurir palsu, dan- aku menemukanmu,” Julian
Julian mencubit lembut kedua pipi Sera yang masih terbeku,
“Manisnya, aku sudah menemukanmu, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi Sera,” Bisik Julian ditelinga kiri Sera
Julian mencium bibir Sera sekilas lalu masuk ke apartemen Sera, Sera juga masuk dan menutup pintu,
“Dimana 3 manis kecil itu?? Sekolah?? Benar juga, sekarang masih jam 11an, mereka masih lama pulang. Dan Sera, k Sa ajamu menyekolahkan 3 manis kecil itu di YGS, pasti supaya kamu bisa berpindah tempat dengan cepat, kamu dari dulu gak pernah berubah ya Sera,” Julian
“Aku ingin bertanya sesuatu, kenapa kau mencari kami??” Sera
“Pertanyaan bodoh macam apa itu Sera, karena aku suamimu sekaligus Ayah anak-anak. Aku tau kalau aku pernah berbuat bodoh dengan percaya pada satu bukti palsu, aku harusnya lebih menelusuri kebenarannya saat itu,” Julian
__ADS_1
Julian mendekat ke Sera dan menyudutkan Sera ke dinding,
“Julian, apa yang kau lakukan?” Sera
“Sera, menikahlah denganku,” Julian
Julian meraih tangan Sera dan menciumnya,
“Sera, kumohon terimalah aku kembali,” Julian
Julian mengecup leher Sera,
“Julian, jangan, nanti anak-anak-“ Sera
“Serena pulang jam 2 siang nanti dan Si Kembar jam 1 nanti, sekarang baru jam 11, kita masih punya waktu 2 jam kan,” Julian
“Aku- Aku harus bekerja sekarang,” Sera
“Tempat kerjamu sudah aku beli sebelum datang kemari, restoran kecil itu sudah menjadi milikmu, kamu tak perlu ke sana lagi,” Julian
“Apa? Tapi restoran itu impian bossku,” Sera
“Apa kamu lupa yang kukatakan waktu itu Sera, jauhi Bram Arisditya, dan dia adalah Bossmu,” Julian
“Aku tau, tapi dia udah berkeluarga, Kak Bram ngak akan mendekatiku,” Sera
“Istrinya sudah tiada 3 tahun lalu karena dihabisi oleh Tetua Arisditya, bagaimana jika kamu dikira istri keduanya dan dibunuh hanya karena dekat dengannya, aku tidak mau perang dingin dengan sahabatku sendiri, karena itu jauhi Bram Arisditya,” Julian
“Jika kau bahkan tidak bisa melawan sahabatmu, bagaimana kau bisa melindungi anak-anakmu, selama 3 tahun di Jakarta, 3 tahun juga aku bergantung pada Kak Bram entah berapa uang yang dipinjamkan Kak Bram, saat masuk YGS aja, ketiga bocil itu menghabiskan banyak uang, sampai aku harus ke luar negeri beberapa kali untuk mengambil banyak uang aja, hingga aku bertemu dengan Kak Bram, lalu Kak Bram memberiku pekerjaan walau aku tak berguna di restoran,” Sera
Julian tertegun,
“Kau tak berpikir kah bagaimana aku masih bisa merawat 3 anak tanpa keuangan yang banyak, aku bahkan sekarang berpikir, Kak Bram menjual restorannya karena ingin memberikan uang itu untuk bayar uang sekolah, minggu lalu Si Kecil Kenzie itu cerita pada Kak Bram jika ada Festival di sekolahnya bulan depan dan itu harus nyumbang uang, kau pernah sekolah di YGS kan, tanpa beasiswa menurutmu berapa uang yang harus dikeluarkan, untungnya Kenzie cukup multitalenta, jadi dia hanya cerita sembarangan, khusus Kenzie, dia ikut organisasi disekolah dan mendapatkan uang dari sana,” Sera
“Pasti Kenzie kerja di Kelompok Pelayan, karena aku juga pernah kerja disana saat kecil,” Julian
“Selama nilai sekolah bagus dan sikapnya 100, aku tak masalah,” Sera
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
“Itu pasti Kak Bram,” Sera
Sera menjauh dari Julian, lalu pergi ke pintu dan membukakan pintu dan benar saja, seorang pria berusia 42 tahunan datang,
“Siang Sera,” Bram
“Kak Bram, ayo masuk,” Sera
“Ah tidak, aku hanya ingin memberikan ini, ini gajih terakhirmu, aku dan Olivia akan pergi ke Jepang, kamu tau sendiri kan, Olivia sangat suka bunga sakura disana,” Bram
“Tapi Kak-“ Sera
“Tunggu Kak Bram,”
__ADS_1