
Back To Story...
“Lalu luka-lukamu?? Kenapa bisa gak ada sama sekali??” Sera
“Itu- Di Ruang InOs ada obat ajaib yang bisa ngilangin bekas luka, aku memakai itu saat menjadi Ketos, soalnya hanya InOs yang bisa memakai obat itu,” Julian
“Ooo, pantas aja badanmu mulus,” Sera
Sera terdiam, Julian mencubit lembut pipi Sera,
"Manisnyaa, punya Kakak embul memang yang terbaik," Julian
Sera menyingkirkan tangan Julian,
"Ihhh kau demen banget nyubit pipi, tambah cabi pipiku nanti. Huh, kau istirahat saja yang banyak, biar cepet sembuh," Sera
"Yaa baiklah," Julian
Tiba-tiba 2 orang datang,
“Bonjour Kak Lian,”
“Eh? Satria? Bunga?? Kenapa kalian kemari?? Pagi banget,” Julian
“Semalam Kak Reina chat kami, Kak Rein meminta dibawakan obat penghilang luka, Bunga yang mengetahui Kak Lian terluka malah terus menangis sambil memukulku agar membawakan obatnya ke Kakak, padahal Kakak bukan InOs lagi, kenapa masih dapat sih,” Satria mengeluh
“Kak Julian, Kakak gak papa kan?? Kak Sera juga, aku dengar jika Kak Julian melindungi Kak Sera?? Kak Sera gak terluka juga kan??” Bunga khawatir
“Ah iya, aku baik-baik saja, aku di dalam kamar sedangkan adik menghadang di luar,” Sera
“Syukurlah, baguslah Kak Sera tidak terluka, Kak Julian biasa terluka, jadi jangan khawatir terlalu banyak Kak,” Satria
“Tapi kenapa kalian bisa ke Bali?? Tiba-tiba lagi??” Sera
“Sekarang kan hari minggu, sekolah tutup, hanya ada ekskul biasa aja, kami bolos ekskul dan sudah bersiap sejak subuh, nanti sore aja kami balik ke Jakarta biar dapat istirahat malamnya,” Jelas Satria
“Kenapa gak sekarang aja sana hush, Sera aja cukup buat gue,” Usir Julian
“💢💢💢, Kak Sera, Kakak liat kan Kak Julian, 20 jaitan lebih pun masih bisa kejam, masa ngusir adek kelas yang kecil mungil sepertiku,” Satria mode penjilat
“Satria, sebaiknya lo pulang sana, atau perlu gue telepon Pak Jo buat marahin lo lagi,” Julian
“Kan, Kan, Kak Sera, Kak Lian jahat banget,” Satria
“Adik, kau sebaiknya berhenti ngomel, kalau jaitanmu terbuka gimana??” Sera
“Tch,” Julian berdecih
“Hei, kau berdecih padaku hah??” Sera kesal
__ADS_1
“Ah Ngak, mana mungkin,” Julian polos
Satria dan Bunga tertawa karena melihat Julian yang menciut di hadapan Sera,
“Aihhh, gak sia-sia, pagi-pagi ke sekolah dan langsung terbang ke Bali, bisa liat Kak Lian dalam kondisi lemah memang menyenangkan,” Ejek Satria
“Awas lo ya,” Julian
“Tutup mulutmu atau aku akan memilih adik baru,” Ancam Sera
Julian dengan cepat dalam mode diam,
“Ahh sudahlah, Kak Sera ini obatnya, dan ini ada buah tangan untukmu, aku gak tau buah kesukaan Kak Lian ataupun Kak Sera, jadi aku beli buah-buah yang biasanya dibawa untuk menjenguk,” Bunga
Sera menerima banyak bingkisan dari Bunga,
“Baiklah, terimakasih,” Sera
“Bunga, kenapa repot-repot?? Kamu datang aja aku dan Sera udah senang, tapi setidaknya datanglah sendiri tanpa manusia yang suka menjilat itu,” Julian
“EHHHH?? Kak Lian mah jahat,” Satria
Tiba-tiba ponsel Satria berdering, Satria mengangkat telepon, dan tak lama Satria kembali,
“Kak Sera, aku dan Bunga gak bisa lama-lama, kami harus kembali ke Jakarta sekarang,” Satria
“Eh?? Bukannya kita akan ke pantai??” Bunga
“Ahhh baiklah,” Bunga
“Kak Lian, gws ya. Kak Sera, aku pamit dulu, jika ada kesempatan maka ajaklah kami jalan-jalan lain kali,” Satria
“Iya,” Sera
“Kak Bunga, kami pamit pergi. Kak Julian, cepat sembuh ya,” Bunga
Satria dan Bunga pun pergi,
“Ya ampun, adik kelasmu itu yang satu kayak petasan dan yang satu kayak udara, hahaha,” Sera tertawa
“Aku juga bingung kenapa api dan air itu bisa bersatu,” Julian
Teman-teman Julian datang,
"Bonjour* minna*," Vino ceria
*Bonjour(Bahasa Perancis) : Selamat Pagi
*Minna(Bahasa Jepang) : Teman-teman
__ADS_1
"Kalian bangun pagi sekali," Dion
"Tadaaaa, kami membelikan makanan untukmu Sera," Reina
"Sera, kamu makanlah dulu, kamu kurus nanti, kalau kamu kurus, aku gak punya sesuatu untuk dipeluk lagi nanti," Julian bercanda
"Beruntung kau sedang sakit, atau aku akan memukulmu," Sera
Julian tertawa kecil,
"Lian, lo jangan napa ganggu Sera. Sera, kamu makanlah dulu kuy," Reina
Sera dan Reina pun duduk bersama di sofa disana, Reina membukakan kotak makanan yang cukup banyak dan beragam,
"Kami gak tau apa makanan kesukaanmu, jadi kami membelikan semua yang masing-masing kami anggap enak," Reina
"Kalian belum sarapan?? Kalau belum, ayo kita makan bersama," Sera
"Heeee perhatian sekali, kalo gitu, kami gak akan nolak, wkwkwk," Vino semangat
Vino dan Dion pun ikut makan bersama,
“Tadi kami berpapasan dengan Satria dan Bunga, mereka membawakan buah-buahan dan obat??” Dion
“Iya, tapi aku gak bisa motong buah,” Sera
“Sera, kamu jangan memegang pisau lagi, aku gak mau kamu terluka lagi, biarkan 3 manusia itu yang mengupas,” Sontak Julian cepat
“Ugh, lo kira kami pembantu, cih,” Ujar Vino sambil membuka pisang,
Vino mendekat ke Julian dan memberikan pisang itu,
“Makan nih, jam makan lo masih agak lama,” Vino
Vino kembali ke meja dimana teman-teman yang lain sedang makan, Julian merasa senang Sera kembali tersenyum seperti biasa dan mulai terbiasa dengan teman-temannya.
.
.
.
Beberapa hari berlalu...
Julian diperbolehkan keluar dari rumah sakit, teman-teman Julian pun kembali ke Jakarta.
Masalah Kakak Pertama Sera pun selesai, Prayoga bahkan tidak bisa melawan di Pengadilan, walau Anggi(Istri Prayoga) berkata kalau Prayoga tidak pernah kdrt, orangtua Anggi yang berada di pihak Julian tidak membantu sama sekali karena merasa ada kesempatan melindungi Putri mereka.
Suta pun hanya diam tak membantu karena Julian bahkan tidak terpengaruh oleh permohonan Anggi, dengan kekuasaan Julian sebagai mantan Ketua Inti Osis YGS, Julian dengan mudah membuat Anggi bercerai dari Prayoga dan Pipit(Putri Prayoga) dan Nata(Putra Prayoga) jatuh ke tangan Anggi, walau sudah bercerai, Anggi tinggal di rumah Suta, dengan 2 babysitter yang dibayar Julian(Karena Anggi juga harus bekerja) yang mengasuh bayinya Anggi serta balita di rumah.
__ADS_1
Walau terlihat diam dan tak perduli, Sera diam-diam tersenyum puas, bagi Sera, Manusia adalah Alat, selama itu keinginannya, Sera akan mewujudkannya walau harus mengorbankan orang lain.