
Di Bale Delod, Sean sedang merenung, tak lama Gladis datang, Gladis menaruh nampan di meja kecil di sebelah ranjang,
“Sean, waktunya kamu minum obatmu,” Gladis
“Aku ingin menemui Sera,” Sean
“Kamu masih lemah Sean, lagipula Julian tak akan membiarkanmu mendekati wanita itu,” Gladis
“Panggil Sera dengan namanya, jangan kau coba-coba mencela Sera. Tch, ini semua salahmu, jika kau tak menemui Julian sehingga kau di asingkan ke Jakarta, kau tak akan ketemu denganku dan kau tak akan hamil, aku pun bisa bersama Sera, sekarang aku seperti orang asing dirumah istriku sendiri,” Sean
“Ya, ini semua salahku, Istrimu saja yang selalu benar, padahal dia hanya hidup mengandalkan Julian dan harta Keluarga Ginanjar, kau yang jauh lebih miskin dari Julian tentu saja akan dibuang oleh Istri Seramu itu,” Gladis
“GLADIS JAGA OMONGANMU!!!!” Bentak Sean
Gladis menangis, “Sean, kau sudah berubah, dulu kau sangat mencintaiku sampai-sampai kau selalu melawan Julian, tapi kau sekarang membentakku karena wanita lain,” Gladis
“Sera bukan wanita lain, Sera adalah istriku, dan ya, aku memang sudah berubah, dan kau juga berubah Gladis. Dulu, kau gadis yang polos dan manis, tapi kau sekarang tak lebih dari Pelacur, kau menjual dirimu supaya kau aman dari buronan YGS waktu itu, setelah pemilikmu mati, kau kembali ke Julian, kau kira aku tak akan tau?!” Sean
“!!!!” Gladis jelas terkejut
“Sayangnya kau terlambat, Julian sudah mengetahui jika Kakak Kembar Tak Serupanya bukan Kakak kandungnya dan dia memiliki perasaan terhadap Sera, saat kau merasa tak mungkin mendapatkan Julian, kau mencariku, kau berpura-pura supaya aku mendapatkan Sera dan Julian menjadi milikmu, tapi niatmu adalah untuk membuatku jatuh ke pelukanmu, kau kira aku gak akan tau itu semua?!” Sean
Gladis terdiam,
“Akulah yang paling sial disini, aku terlalu bodoh dan jatuh ke ranjangmu, sekarang kau hamil, dan tak ada yang tau siapa Ayah bayi itu-“ Sean
“Sean, ini adalah bayimu, jika kamu tak percaya, saat bayi ini lahir, kamu bisa melakukan tes dna, anak ini adalah milikmu Sean,” Gladis
“Kau kira aku akan percaya begitu mudah. Ck, sebaiknya kau pergi, melihatmu membuatku pusing,” Sean
Gladis pergi,
“Bagaimanapun caranya, aku harus tetap menjadikan Sera sebagai milikku, Sera dan bayinya adalah milikku, mereka adalah istri dan anakku,” Sean.
.
Di kamar Rini, Rini sedang duduk di sofa kamarnya dengan Agus yang sedang belajar,
“Mamak, Agus kangen Bapak, udah lama Agus gak liat Bapak,” Agus tiba-tiba
“Ck, kamu belajar saja yang benar, Pamanmu Julian menghabiskan banyak uang untuk kita terutama untuk Pendidikan kamu Agus, jangan pikirkan hal lain,” Rini
Agus melanjutkan belajar dengan wajah sedih, Rini juga terlihat tidak baik.
.
Dikamar Sera, Sera sedang memakan kacang kenari dan kacang almond sambil menonton film lewat mini proyektor, Julian yang menemani Sera, terlihat ragu untuk menanyakan sesuatu,
__ADS_1
“Sera,” Julian
“Jika kau mau nanya kenapa aku bicara kayak tadi, kau harusnya cari tau,” Sera
Sera menatap Julian,
“Kau tau, Prayoga itu tukang selingkuh juga disamping kdrt yang dia lakukan, menurutmu Kakak Iparmu tak akan melakukan yang sama padahal Si Rini dulu turun 10 kg gara-gara sakit hati diselingkuhi,” Sera
“Jadi asumsimu, Kak Dego berselingkuh?? Ta-Tapi apa alasannya, masalah keuangan Keluarga Suami Kak Rini sudah teratasi, mereka punya 2 villa dan 1 ruko yang dijalankan,” Julian
“Menurutmu itu akan memuaskan mereka?? Keluarga Mertua Nani aja masih cemburu karena gak dapat bias apapun dari kita, lagian siapa suruh si Gede gak mau menunduk padaku,” Sera
“Sera-Sera, sifat diktatormu ternyata masih aktif ya,” Julian
“Yaaa waktu dulu aku tak bisa melakukan ini, tapi sekarang apa yang aku gak bisa lakukan,” Sera
Julian tersenyum lalu mendekat ke Sera yang duduk diranjangnya,
“Aku senang jika kamu senang Sera,” Julian
Julian naik ke ranjang Sera lalu tiduran dipangkuan Sera,
“Aku akan coba caritau apa yang terjadi dengan Keluarga Kak Rini, aku akan melakukan semua yang kamu perintahkan Sera,” Julian
Julian menyusupkan kepalanya ke dalam daster Sera, Sera sontak terkejut dan menyingkirkan kepala Julian dari dalam dasternya,
Julian berdiri sambil tertawa kecil,
“Aduh manisnya Seraku saat marah,” Julian
Sera memukul Julian dengan bantal,
“Keluar kau dari kamarku,” Perintah Sera
“Aihh baik-baik, jangan memukulku terus Sera,” Julian
Julian pergi,
“Dasar menyebalkan,” Sera.
.
Diluar, Julian melihat Anggi baru pulang kerja,
“Kak Anggi, Kakak baru pulang??” Julian
“Iya, tadi harus lembur sebentar. Pipit dan Nata udah makan dan mandi??” Anggi
__ADS_1
“Tadi kata Mbak Andin sih udah, mereka kayaknya lagi main di kamar Dinara Mumuk,” Julian
“Baiklah, Kakak akan membersihkan diri dan melihat mereka,” Anggi
Saat Anggi akan masuk ke kamarnya,
“Kak, Kak Prayoga masih lama bebas, apa Kak Anggi masih menunggu Kak Prayo?? Walau kalian sudah bercerai, tapi kehadiran Pipit dan Nata tetap menjadi penghubung kalian berdua,” Julian
“Kakak tau Jul, Kakak sendiri masih berharap bisa tetap bersama Prayoga, tapi melihat Pipit dan Nata tumbuh besar dengan semestinya tanpa siksaan dari Ayahnya, Kakak merasa sangat senang, setidaknya untuk saat ini Kakak akan mengalah pada cinta, Kakak harus mengutamakan anak-anak terlebih dahulu,” Anggi
Julian tersenyum, “Kakak, keputusan Kakak sudah benar, Kak Prayoga juga harus mendapatkan ketenangan di Penjara agar Kak Prayo bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik,” Julian
“Julian, terima kasih juga ya, kamu udah mau merawat Pipit dan Nata, bahkan sampai menyewa babysitter untuk para anak-anak, itu pasti menjadi beban dan merepotkanmu,” Anggi
“Devina, Dinara, Agus, Pipit, Nata, maupun Gede adalah Keponakanku, mereka tanggung jawabku juga, aku menyayangi mereka, tidak ada kata beban atau repot dalam hal ini, tapi jika Kak Anggi seperti ini mengatakan aku menganggap mereka beban, aku malah menjadi repot karena harus menjelaskan betapa sayangku pada mereka. Ditambah, anggap saja ini sebagai latihan, Sera akan memiliki anak juga, aku harus terbiasa dengan anak-anak kan,” Julian
“Iya, kamu benar juga Julian,” Anggi
“Kalau gitu aku pergi dulu ya Kak,” Julian
Julian pergi ke lantai bawah,
“Sera sangat beruntung bisa mendapatkan pasangan sebaik Julian, jika saja Prayoga tidak jahat, walau aku harus melukai diriku sendiri untuk mendapatkan uang, aku akan lakukan, sayangnya Prayoga sangat jahat pada anaknya sekalipun,” Lirih Anggi.
.
Di lantai paling bawah, Julian yang ingin ke dapur dipanggil oleh Suta dan Om Kumis yang duduk di sofa,
“Ada apa Ayah? Om?” Julian
“Begini Julian, kamu bilang kan akan merenovasi rumah,” Suta
“Iya, memang kenapa??” Julian
“Begini ya Julian, Om hanya beri saran, bagaimana jika rumahnya di buat seperti dulu, jangan bertingkat seperti ini,” Om Kumis
“Maaf Om, Sera sudah suka dengan rumah bertingkat, jika bukan karena aturan di Bali, aku bisa saja membuat rumah yang lebih tinggi dari ini,” Julian
“Julian dengarkan Ayah, rumah 3 lantai juga tak bisa ternyata, Sanggah* jadi harus lebih dibuat tinggi jadinya,” Suta
*Sanggah : Tempat Suci Umat Hindu dirumah
“Hmmm bagaimana jika hanya 2 lantai?? Aku akan membongkar satu rumah ini dan membuat yang baru, aku bukan ingin tak mendengar atau melawan, tapi Sera suka rumah bertingkat dan satu Keluarga menjadi satu seperti ini, aku tak bisa mengabaikan keinginan Sera, jadi Ayah, Om, biarkan rumah ini tetap satu dan bertingkat,” Julian
Suta dan Kakaknya saling memandang,
“Baiklah,” Mereka setuju.
__ADS_1