
Sampai kamar Sera, Julian melihat Sera sedang menyisir rambutnya, Julian sempat tercengang karena Sera memakai singlet tanpa dalam serta rok pendek hitam-putih kesukaan Sera, namun Julian berusaha menahannya dan tetap masuk ke kamar Sera,
“Sera, aku membawakan sarapan,” Julian
“Taruh aja di meja,” Sera
Julian menurut lalu duduk di sofa kamar Sera dan membiarkan Devina bermain sendiri,
“Sera, hari ini kamu ada kemana??” Julian
“Tidak ada, aku lagi badmood,” Sera
“Gimana kalau kita ke kolam berenang?? Kita ajak Cemumuk Dinara, Devina, dan juga Agus,” Julian
“Membawa beban pergi jauh, kau mau mati muda hah, Nano dan Kak Citra sedang bekerja, Iwak gak bisa pergi jauh, Om Kumis juga sibuk, Ayah pasti gak mau dan gak ijinin bawa mereka, dan Si Rini, dia akan menghabisi banyak uang,” Sera
“Tapi kamu dalam seminggu udah habiskan 3 juta untuk jajanmu aja lagi,” Julian
“Kenapa? Gak boleh??” Sera dengan tatapan tajam ke Julian
“Bukan gak boleh, aku liburan bersama anak-anak dan Keluarga, jadi menghabiskan uang juga no problem,” Julian
“Pokoknya gak, moodku sedang buruk, jangan membuat tambah buruk,” Sera
“Ahhhh baiklah, aku tidak akan memaksa, kita di rumah aja,” Julian
Julian mengawasi Devina, Sera yang sudah selesai menyisir rambutnya pun mendekat ke Devina,
“Pina, ayo cini, aduh manisnyaaa,” Sera
Sera mengambil Devina dan menggandeng, Sera membawa Devina ke ranjang dan mengeluarkan mainan yang sering dipakai main Devina, Julian mengambil remote ac dan menyesuaikan dinginnya, Julian juga menghidupkan layar proyektor Sera dan menonton kartun Malaysia dari ponselnya.
“Devina bisa kedinginan nanti, kamu memang suka yang dingin dingin ya Sera,” Julian
“Yaaa kebiasaan,” Sera
“Oh ya Sera, aku penasaran satu hal, kenapa sejak aku ada di Bali, aku gak pernah dengar kamu bicara bahasa Bali??” Julian
“Hmmm karena aku ingin saja pakai bahasa Indo yang normal, aku takutnya saat kuliah Bahasa Baliku jadi boomerang, ditambah aku hanya tau bahasa kasar, Bahasa Alus aku gak bisa,” Sera
“Aihhh, padahal kukira bisa belajar Bahasa Bali darimu,” Julian
“Mau digimanain lagi, aku juga harus membetulkan bahasaku, aku gak bisa selamanya selalu pakai bahasa gado-gado kan,” Sera
“Ya juga sih,” Julian
Julian melihat berbagai buku komik di rak buku Sera yang sebelumnya kosong(Sera tidak suka baca buku karena itu raknya kosong),
“Sera, kamu membeli semua komik ini saat aku pergi??” Julian
“Iya, dan kau jangan menyentuhnya,” Sera
Namun Julian keburu mengambil salah satu buku,
“OIIIIIII,” Sera
“Hm?? Komik yaoi?? Pfft, hahahahahaha,” Julian tertawa
“Ugh, berhenti tertawa atau aku akan memukulmu,” Sera
Julian berhenti tertawa, “Pfft, Baiklah, baiklah, jangan marah Sera,” Julian
Julian membuka-buka komik itu,
“Full colour, pantas mahal,” Julian
__ADS_1
“Aku hanya suka dengan alur cerita aja kok, lagian ketemu yang 1821 juga susah,” Sera
“Aku sendiri sih lebih suka genre Shounen daripada Shounen Ai kayak gini,” Julian
“Aku juga suka tapi kalau terlalu banyak berkelahi aku gak suka, aku gak suka perkelahian,” Sera
“Ugh, aku harus berhenti galak ke teman-teman, Sera gak suka perkelahian, aku harus menahan diri,” Bathin Julian
Julian menaruh buku itu lagi ke tempatnya,
“Kamu suka yaoi pasti bukan karena alur cerita tapi karena bisa ketemu banyak abs kan,” Julian
Pipi Sera merah bahkan sampai ke telinga, “Oiiiii, aku gak semesum itu, aku seorang penulis tentu saja aku harus lebih fokus ke ceritaku,” Sera
“Pfft, ya ya Kakakku ini seorang calon penulis terkenal dan terbaik,” Julian
Julian mendekat ke Sera sambil membuka kaosnya,
“Tapi jika kamu mau melihat abs, tubuhku sempurna dan enak dipandang kan,” Goda Julian
Sera melihat tubuh berotot sempurna Julian yang setiap hari Sera lihat, namun Sera memincingkan matanya,
“Hei kau tau, aku itu ciri khas manusia yang cepat bosan, bahkan selama 3 tahun aku fans Cogan Tertampan didunia, tapi sekarang aku bosan dengannya, jika aku bosan melihatmu bahkan tubuhmu, aku bisa-bisa mencari adik tampan yang lain,” Sera
“Ugh, jahatnya, lagi-lagi ancaman itu,” Julian
Julian mengambil sebuah kemeja putih baru yang masih berplastik, Julian pun memakai itu tanpa ragu,
“Ini untukku kan,” Julian
“Bagaimana kau tau??” Sera
“Tentu saja, aku kan adikmu,” Julian
Julian berkaca,
“Baguslah,” Sera
“Sera, makasih ya,” Julian
“Kau bilang apa sih?? Katanya dalam persaudaraan gak ada tolong ataupun makasih,” Sera
“Sera, kamu benar-benar Kakak terbaikku,” Julian
Julian menerjang Sera hingga Sera tiduran, namun entah mengapa Julian malah mencium bibir Sera dan **********, tangan Julian menompang tubuhnya dan tangan kirinya memegangi Devina agar tak jatuh selama mereka ciuman.
Tiba-tiba....
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
Aktivitas Julian terhenti karena suara ketukan pintu,
“Julian-Sera, Devina masih disana?? Udah waktunya Devina sarapan,” Iwak
Julian menatap Sera dan turun dari ranjang Sera lalu membuka pintu dengan menggendong Devina,
“Ini Iwak,” Julian
“Iwak kira kamu membawa Devina ke taman atau ke kamarmu, tapi ternyata ke kamar Sera,” Iwak
“Ah iya Wak, tadi sekalian bawain sarapan Sera,” Julian
“Ah baiklah, makasih udah ngempu Devina, Julian,” Iwak
“Iya Wak,” Julian
__ADS_1
Iwak pergi, Julian kembali menutup pintu dan menguncinya,
“Sera, maafkan aku,” Julian
Sera menghela nafas, “Iya, gak papa, mungkin sudah waktunya kau mencari pacar, kau selalu sibuk dengan laptop dan makananku, kau gak punya waktu sendiri,” Sera
Julian menggeleng, “Aku gak mau, setelah 12 tahun kita ketemu, bagaimana bisa aku langsung sibuk dengan orang lain dan bukannya dirimu,” Julian
Julian mendekat ke Sera sambil membuka satu persatu kancing kemejanya,
“Sera,” Julian
“??” Sera bingung, “Kenapa dengan bocah ini??” Bathin Sera
“Sera,” Julian
Julian kembali menerjang Sera,
“Aku sepertinya salah minum obatku Sera,” Bisik Julian di telinga Sera
“Apa??” Sera
Sera menjauhkan Julian dari tubuhnya dan pergi ke kamar Julian, Julian mencari sampah obat di meja belajar Julian,
“Obat apa ini?? Sebentar, ini bukannya obat yang aku belikan untuk adik??” Sera
Sera teringat jika dirinya membelikan obat perangsang untuk Julian karena ingin Julian cepat mempunyai pacar dan tak fokus pada dirinya,
“Ob-Obat Perangsang?!!! Kalau di film 1821 yang minum obat perangsang berarti sedang kepanasan, aduh, apa yang harus kulakukan,” Sera cemas
Sera keluar dari kamar Julian, Sera turun ke bawah dan melihat sekitar,
“Untung sepi,” Sera
Sera kembali naik ke atas dan pergi ke kamarnya, Sera tak melihat Julian, namun Sera mendengar suara dari kamar mandinya, Sera mengunci kamarnya dan melihat ke kamar mandi, Sera melihat Julian sedang mencoba mendinginkan tubuhnya di bathtub dengan air shower yang mengalir diatasnya,
“Adik,” Sera
Sera mengecek suhu air dan sangat dingin,
“Hei, kau bisa demam, sekarang juga lagi musim hujan berangin,” Sera
Julian menggeleng, “Tidak, jika aku gak melakukan ini, aku bisa-bisa menyentuhmu Sera, aku gak mau,” Julian
“Ta-Tapi-“ Sera
Julian tiba-tiba menarik Sera ke dalam bathtub dalam memeluknya, Sera yang dalam posisi menghadap Julian merasa malu,
“Hei, lepaskan aku, jika Ayah melihat, ini bisa gawat,” Sera
“Ayah sedang membanten, Ayah gak akan tau, lagipula yang naik ke lantai dua hanya kita berdua, yang lain gak pernah naik kesini,” Julian
“Ahhh katamu kau menjalankan latihan berat, tapi kenapa obat perangsang seharga 20 ribu bisa membuatmu seperti kucing birahi,” Sera
“Entahlah, Kakek tak pernah mengajariku menghindar dari obat perangsang, tapi aku selalu bisa menahannya setiap kali ada orang jahat memberiku obat perangsang, tapi- tapi entah mengapa sekarang aku tak bisa menahannya,” Julian
“Aihhh sekarang aku tau maksud Rini saat mengatakan bagaimanapun kau juga pria,” Sera
Julian mencium leher Sera dan memberikan kissmark disana,
“Oi kita ini saudara,” Sera
“Biarkan seperti ini sebentar saja Sera, aku ingin mendinginkan badan tanpa menyentuhmu” Julian
“Eh??” Sera tak mengerti
__ADS_1
Walau tak mengerti, Sera tetap diam dan membiarkan Julian menenangkan dirinya sendiri.