Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
41. Julian Terluka


__ADS_3

Hari sabtu tiba, Kakak Pertama Sera yang bernama Prayoga, anak laki-laki satu-satunya sebelum Julian datang, pun pulang ke rumah.


Prayoga memiliki tubuh besar, hitam, gemuk dan bau memiliki kamar sendiri setelah mengancam Suta kalau dia akan membunuh anaknya jika tidak dibuatkan rumah.


Namun Prayoga yang bahkan tidak bekerja(namun dirinya mengaku ke Julian jika bekerja menjadi asisten dosen jurusan IT karena itu dia pulang sabtu-minggu), merasa tidak puas dengan apa yang ia dapat, sekarang pun ia menginginkan rumah tingkat yang di buat Julian serta sertifikat tanah di sebelah barat rumahnya yang sebenarnya untuk Sera dan sudah diatas namakan Sera.


Di rumah yang sepi karena kebetulan Suta dan Ayu sedang pergi ke Pura karena panggilan tedun.


Saat Julian dan Prayoga sedang mengobrol di ruang tamu bawah, Sera mengintip sedikit dari atas tangga, di ruang tamu,


"Wah-wah, semakin lama, rumah ini semakin bagus ya," Prayoga


Julian tersenyum, "Ya, tentu saja, rumah ini belum sepenuhnya sempurna karena Sera menginginkan sedikit renovasi dibeberapa tempat," Julian


"Kalau begitu bisa sekalian meluaskan kamarku, aku bisa tinggal ditempat paling mewah di Banjar ini," Prayoga tak tahu malu


"Kenapa hanya Kakak?? Kak Anggi?? Dan Nata sama Pipit?? Mereka akan Kakak bawa kemana??" Julian


Prayoga sedikit terkejut, "Mereka itu pemalas, dia juga sibuk bekerja, dan bocah nakal itu hanya bisa bermain setiap hari, mereka akan membuat rumah ini semakin sempit," Prayoga


"Selama aku di Bali, aku juga hanya bermain, bahkan sahamku turun beberapa kali karena aku malas bekerja, bermain itu wajar, Pipit juga masih sangat kecil. Apa ada sesuatu yang Kakak sembunyikan??" Julian


"Ten-Tentu saja tidak," Prayoga


"Kakak yakin?? Jika saja Kakak menjadi orang yang lebih baik, aku pasti akan membantu Kakak. Tapi- aku ternyata salah, Kakak adalah orang yang jahat, dirumah ini bahkan tidak ada yang menyukai Kakak, aku terlalu bodoh sampai tidak sadar," Julian


"Apa maksudmu??" Prayoga


"Kakak, Kakak sudah melakukan kdrt pada istri dan anak Kakak kan, Kakak bahkan mencoba melecehkan adik ipar Kakak, Kakak juga memukuli Kak Rini dan menjahati Sera kan. Kakak mengancam semua orang supaya aku gak tau apa yang Kakak lakukan, Kakak bahkan berencana menguras Keluarga Ginanjar dengan menggunakan aku," Julian


Prayoga terdiam,


"Kakak tidak bisa mengelak karena itu benar, aku bahkan mempunyai bukti dari ponsel Sera, aku sudah melaporkannya ke Polisi, kemanapun Kakak pergi, Kakak akan menjadi buronan," Julian


"Jadi anak sialan itu yang memberitaumu," Prayoga

__ADS_1


"Tidak, aku mencaritau sendiri, jangan membawa Sera dalam masalah ini dan jangan memanggil Sera dengan sebutan itu, jika tidak aku tidak akan segan pada Kakak," Julian


Prayoga tak perduli, "Dasar, cewek ***** itu, dia merusak rencanaku, kubunuh dia," Prayoga


Julian terkejut melihat Prayoga mengeluarkan sebuah pisau lipat, Prayoga pun berdiri dan pergi ke atas mencari Sera dengan teriak-teriak dan geraman.


Sera yang merasa terancam langsung mengunci diri di kamar, tak lama, Sera merasakan jika Prayoga memukul dan menendangi pintu kamarnya.


Di luar, Julian menghentikan Prayoga, Julian mendorong Prayoga menjauhi pintu kamar Sera, dan Julian menghadang di depan pintu kamar Sera,


"Sudah kubilang jangan bawa-bawa Sera, aku sendiri yang memutuskan untuk menghukummu," Julian


"MINGGIR!!! Kau itu udah terkena hasutan Si ******** itu," Prayoga


"Jangan sebut Sera dengan sebutan itu!!! Sera adalah Kakakku, Sera juga adikmu Kak," Julian


"Cih, jika aku tak membalas saat kau mencoba menghubungiku, kau pasti tidak akan menemukannya Keluarga ini, kau pasti hanya akan tetap menjadi Keluarga Ginanjar itu," Prayoga


"Aku tau, tetapi, tanpa bantuan Kakak sekalipun, aku akan tetap menemukan Keluarga Kandungku. Sebaiknya Kakak tenang dan menunggu polisi datang, aku sudah muak mendengar kejahatan Kakak," Julian


"Sialan, gara-gara anak ******* itu, aku akan benar-benar membunuhnya," Prayoga


Prayoga menjadi gelap mata dan akhirnya menusuk Julian dengan pisau ditangannya, Julian merasa sangat kesakitan karena Prayoga beberapa kali menusuknya dengan membabi buta.


Tiba-tiba, teman-teman Julian datang bersama beberapa Polisi, para polisi membawa Prayoga setelah menyuntikkan obat bius supaya Prayoga tenang.


Sera membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Julian bersimbah darah, Sera memangku kepala Julian dengan tangisan,


"Adik," Lirih Sera


"Syukurlah kamu masih baik-baik saja, Sera," Julian dengan senyuman di bibirnya


Julian terpingsan, teman-teman Julian pun membawa Julian ke rumah sakit terdekat.


.

__ADS_1


.


.


Malamnya, Julian akhirnya sadar dari pingsannya, Julian melihat Sera tertidur di sampingnya, Julian tersenyum, Julian juga melihat teman-teman yang menungguinya,


"Guys, thanks, lo semua udah datang tepat pada waktunya," Julian


"Ya ampun Lian, kita ini teman dari SD, kita bahkan tetap bersama saat latihan dengan Kakek," Reina


"Tapi gue cukup terkejut, lo biasanya gak bisa diserang sama sekali, tapi sekarang lo malah dapat hampir 20 jaitan di luka lo," Vino


"Yaa mau digimain, gue hanya bisa diserang oleh Keluarga gue aja, jika Kak Prayoga benar-benar menyesal karena udah ngelukai gue, dia pasti berubah," Julian


"Tapi kasihan Sera, dia menangis bahkan sampai muntah. Di beberapa manusia, hal ini sering terjadi, jika orang itu terlalu sedih, dia bisa terus menangis dan muntah-muntah," Reina


"Tapi tenang aja Lian, aku udah memastikan Sera makan kok, Sera makan banyak sekali," Dion


Julian tersenyum dan menatap Sera,


"Sera memang paling banyak makan saat sedang sedih," Julian


Julian mengelus rambut Sera dengan lembut,


"Sera memang tak bisa diandalkan, gue juga membenci orang yang gak bisa diandalkan sama sekali, tapi jika untuk Sera, gue gak masalah bisa diandalkan atau gak, gue hanya mau deket dengan Kakak Kembar gue," Julian


"Hmmm lo baik sekali Lian," DDio


"Tapi lo tau sesuatu Lian, Sera itu ciri khas orang yang membuat orang lain menunduk kepadanya, entah itu takdir atau memang seperti itu, tapi coba ingat deh, saat lo ngambek karena Sera membela Sean yang menculiknya, dan lo ngediemin Sera, lo malah menyesal sendiri dan merasa jika Sera jatuh ke kolam itu karena lo," Reina


Julian tertawa kecil, "Itulah kelebihan yang Sera miliki," Julian


"Lebih baik lo istirahat aja lagi, bentar lagi mau ngampus kan, harus ada stamina yang fit," Reina


"Ya," Julian

__ADS_1


Julian menatap Sera dengan lembut,


"Sera, aku sudah bilang akan selalu dipihakmu kan, semoga dengan ini kamu gak marah lagi denganku, kemarahanmu jauh lebih menyakitkan dari luka ini," Bathin Julian.


__ADS_2