Kembar Tak Serupa

Kembar Tak Serupa
51. Sera Kabur


__ADS_3

Hari berlalu, hubungan Julian dan Sera semakin menjauh dan retak, walau di Kampus terutama di Kelas terlihat baik-baik saja, teman-teman Julian dan Sera mengetahui jika Kakak-Adik Kembar itu sedang bertengkar.


Namun suatu hari, saat Julian ada di kampus keduanya, Julian sedang mengerjakan tugas bersama teman-temannya,


"Oi, kalian tau ngak, ada kabar yang masih panas banget tau, kalian tau Yohan dari Kampus *****, dia ternyata pdkt dengan seorang cewek gendut untuk dijadikan taruhan tau," Ujar biang gibah Mika


"Ehhh?? Sungguh?? Lalu bagaimana jadinya??" Arta


"Iya, siapa nama ceweknya??" Caca


"Namanya ceweknya kalau gak salah itu Sera," Mika


Julian tersentak,


"APA??" Julian


"Iya, tapi ini agak aneh dari cerita taruhan Yohan yang biasanya, biasanya kan Yohan langsung membully habis-habisan, tapi cewek ini malah melemparkan banyak gepok uang, uh kayaknya bisa 50 sampai 100 jutaan itu," Mika


"Wahhh rich people banget dong Si Sera, Yohan kan udah kaya banget sampai gak ada yang berani memarahi Yohan, tapi ternyata emang bener, diatas langit masih ada langit," Udin


"Guys, sepertinya aku harus pulang sekarang, ada urusan penting, nanti tugasnya aku aja yang ngeprint dan ngejilid," Julian


"Ah baiklah, hati-hati di jalan Jul," Arta


Julian bergegas pergi tanpa menunggu apapun lagi.


Sampai di rumah, Julian melihat Sera sedang memasak,


"Sera," Julian


Julian yang terengah-engah mendekat ke Sera setelah menaruh tasnya di sofa, dan membawa Sera ke pelukannya, Julian memeluk Sera dengan sangat erat,


"Sera, aku senang kamu baik-baik saja, aku baru mendengar kabar tentangmu, aku kira kamu sedang sedih atau menangis," Julian


Sera melepaskan pelukan Julian,


"Ya ampun, kau seperti anak kecil deh. Aku gak akan membuang air mataku hanya untuk cowok brengsek seperti Yohan. Aku sengaja mengikuti permainan Yohan, tapi ya aku mau minta maaf, aku mengambil 70 juta dari atm punyamu, dan membuangnya seperti sampah," Sera


Julian kembali memeluk Sera,


"Siapa yang peduli dengan uang itu, kamu baik-baik saja itu sudah cukup untukku," Julian


Sera melepaskan pelukan Julian lagi,


"Aih demen banget kau memelukku. Aku hanya sempat memasak ayam kecap, ayo makan dulu," Sera


"Baiklah," Julian semangat


Julian mencuci tangannya dan pergi ke meja makan, mereka pun makan bersama,


"Sera, aku kira kamu beneran marah denganku," JJulia


"Yah 50:50 sih, tapi aku lebih pengen mengajarkan sesuatu pada Yohan," Sera


"Ahhhh jika kamu memberitau lebih awal, aku sendiri yang akan mengajar Si Yohan," Julian


"Ngak perlu, aku bisa sendiri, kalau kau tau, kau pasti akan menghajar Yohan daripada memberi pelajaran," Sera


Julian menyengir, "Kamu tau sekali sifatku Sera," Julian merasa sangat senang


Mereka makan bersama, Julian merasa sangat senang karena Sera kembali kepadanya.


.


.


.


Hari berlalu dengan sangat cepat....

__ADS_1


Sera dan Julian pun sudah melewati semester 2 dan liburan panjang pun tiba, hubungan mereka semakin membaik, walau Sera masih enggan dekat lagi dengan Julian, bahkan di rumah Sera dan Julian masih jarang mengobrol.


Suatu hari, Sera melihat saputangan yang sempat menjadi hubungan Sera dan Julian retak, Sera pun menanyakan tentang saputangan itu ke Julian,


"Oi adik, saputangan yang waktu itu memang punya rahasia apa sih?? Itu katanya barang berhargamu," Sera


"Ah itu hanya hadia dari teman baikku aja," Juliah gugup


"Oh ya?? Sungguh?? Tapi kayaknya ada tulisan lope-lope di ujung saputangan itu, hm hm, kau ingin berbohong untuk menyembunyikan rahasiamu itu??" Sera


"Ahhh baiklah, aku akan jujur. Saputangan itu sebenarnya adalah pemberian mantan pacarku, ya kamu bisa menganggap cewek itu sebagai cinta pertamaku, tapi hubungan kami kandas setelah hanya 3 tahun pacaran, hanya saputangan ini yang kupunya, kenang-kenangan dari gadis yang aku suka," Julian


"Ck ck ck, kau masih terikat dengan masa lalu rupanya. Kukira kau itu jenis manusia yang cepat move on, jika kau beneran suka sama cewek itu ya uber aja, lagian mencintai juga kagak dosa," Sera


Sera mendekat ke Julian,


"Memang siapa sih cewek itu??? Cantik sekali kah??" Sera


Julian menunjukkan foto Julian saat TK,


"Lihat, anak perempuan yang duduk dibawah itu adalah mantan pacarku, namanya Gladis, walau kita beda TK, tapi kamu seharusnya kenal juga dengan Gladis, Keluarganya juga dekat dengan Keluarga kita," Julian


Sera nampak tercengang,


"Ini, kau berpacaran dengan cewek ini??" Sera


"Iya, kenapa?? Di sekolahku, Gladis adalah salah satu cewek tercantik," Julian


"Kau tau siapa dia, dia yang memfitnahku saat Mama meninggal dulu, aku sampai diikat oleh Rini karena dia menuduhku membuat masalah padahal dia yang membuat," Sera


"Itu gak mungkin Sera, Gladis adalah perempuan baik, aku yakin dan percaya pada Gladis, sebaiknya kamu jangan menuduh Gladis sembarangan," Julian


"Jadi kau menganggap aku juga berbohong??" Sera


Julian sadar jika dirinya sudah membuat Sera kesal,


"Tidak, bukan begitu Sera, itu- itu mungkin sebuah salah paham," Julian


Sera pergi kekamarnya dan mengunci pintu, Julian mencoba mengejar Sera namun sia-sia, Sera menutup semua akses ke kamarnya, Julian menghela nafas berat dan kembali ke kamarnya,


"Aku saat itu sedang terkena campak, aku gak tau apa yang terjadi saat itu," Lirih Julian sambil menatap fotonya saat TK.


.


.


.


Kebesokannya...


Julian kembali ke kamar Sera namun tak menemukan Sera,


"Dimana Sera?? Ini masih sangat pagi, tapi Sera sudah menghilang," Julian


Julian baru sadar jika koper Sera tidak ada namun ponsel iphonenya ada di meja, Julian dengan cepat melihat lemari Sera dan tak menemukan pakaian Sera,


"Sera- pergi??" Julian


Julian melihat jam,


"Aku bangun jam 6 pas, lalu aku hanya sempat ke halaman belakang untuk memberi makan Reika, mungkinkah Sera berangkat tengah malam??" deduksi Julian


Julian segera menelepon Ayahnya,


"Hallo Ayah," Julian


"Julian?? Ada apa??" Suta


"Ayah, apa Sera ada disana??" Julian

__ADS_1


"Sera gak bisa naik motor sendiri, bagaimana bisa Sera ada disini, kamu ini bagaimana sih," Suta


"Apa?? Sera beneran gak ada disana??" Julian panik


"Iya, kenapa kamu tanyakan itu??" Suta


"Ah tidak ada Ayah, sudah ya, aku tutup teleponnya," Julian


Julian menutup teleponnya, Julian menghubungi semua telepon Sera namun tak tersambung,


"Sera, kemana kamu sebenarnya??" Julian


Julian pergi dari kamar Sera.


Di jalan, Julian keliling mencari Sera bahkan menghubungi teman SD Sera yang satu kampus dengannya namun juga tak ada titik terang,


"SIAL!!! Dimana Sera sebenarnya???" Julian


Julian masih berkeliling untuk menemukan Sera, namun hasilnya NIHIL.


Siangnya, Julian sedang berdiam dirumah dan tiba-tiba dikejutkan dengan Reina yang mengirimkan foto Sera sedang ada di Jakarta,


"Sera- ada di Jakarta?? Bagaimana bisa??" Julian


Reina menelepon, Julian mengangkat telepon dari Reina itu,


"Lian lo liat foto yang gue kirim??" Reina


"Ya, dimana lo dapat foto itu??" Julian


"Teman kita yang magang di Bandara, saat itu masih malam, dan karena ada penerbangan lagi, dia baru kirim tadi, gue langsung ngirim foto itu ke elo," Jelas Reina


"Kalau gitu kenapa lo nelpon gue dan bukannya nyari Sera???" Julian


"Lahhh gue udah di Bali mau digimain lagi, liat kebelakang lo dong," Reina


Julian melihat Reina yang melambaikan tangan datang bersama Dion dan Vino, Julian memutuskan hubungan telepon dan mendekat ke teman-temannya,


"Kalian ngapain ke Bali??" Julian


Reina menunjukkan suatu map,


"Semua aset Keluarga Ginanjar, Papa angkat lo, Om Hans, telah tiada," Reina


"APA??!!!" Julian tercengang


Julian meraih kerah dress Reina,


"Lo jangan bercanda seperti itu Reina, itu gak lucu," Julian kesal


"Oi, ini sungguhan, Om Hans telah tiada, Bibi Dyana dan kedua anak nakal itu sedang bersama Alvaro," Vino


"Kenapa Papa angkat bisa tiada??" Julian serius


"Itu- Kemungkinan alasannya sama dengan kematian Kakek lo Lian. Sekelompok penjahat yang membenci Keluarga Ginanjar dan juga Sistem Pemerintahan Bersih. Om Hans di habisi dengan cara sadis," Dion


"Kejadian baru tengah malam tadi, Alvaro berusaha keras mengamankan semua aset ini karena 40% harta Keluarga Ginanjar jatuh pada lo Lian, Alvaro juga berusaha sangat keras untuk merebut bagian tubuh Om Hans," Reina


Julian gemetaran sambil memegang map itu,


"Sebentar, kejadiannya tengah malam tadi kan?? Berarti Sera bisa saja dalam bahaya," Julian sadar


"Ah ya, gue baru sadar juga," Dion


"Ta-Tapi gak mungkin kan Sera yang baru sampai di Jakarta dihadapkan dalam pembunuhan itu, itu terlalu kebetulan, lagipula Sera gak ada hubungan apapun dengan Keluarga Ginanjar," Vino tidak yakin walau ia berkata demikian


"Gue harus balik ke Jakarta sekarang juga, Bunda, Arina dan Billy dalam bahaya," Julian


"Lian, berhati-hatilah, musuh kita ini adalah musuh yang sama dengan yang membunuh ortu Alvaro dan juga Nenek, bahkan Kakek, salah dikit aja lo bisa kehilangan semua yang lo sayangi," Reina

__ADS_1


"Ya, gue mengerti," Julian


__ADS_2