
Bu Wati menatap harum yang langsung masuk kamar nya,Bu Wati membiarkan harum sendiri didalam kamar nya.
biarkan harum menangis dan menumpahkan perasaannya,tanpa ada yang menggangu nya.
harum menatap kedepan cermin meja rias nya,dia melihat sepasang mata yang masih mencintai Bram.
sepasang mata yang merindukan kasih dan kehangatan Bram, walaupun saat ini harum telah berusaha untuk menjauh dan melupakan Bram.
tapi hatinya begitu sulit untuk melupakan Bram,seakan nama itu telah terukir didalam hatinya.
sementara itu Bram mengajak Laila untuk membeli sesuatu,masuk lah Bram kesebuah toko yang dimana dulu Bram dan harum suka membeli buku di toko itu.
tiba tiba tangan Bram menyentuh buku yang sering di baca oleh harum.
Laila menarik buku yang di pegang oleh Bram.
"buku apa ini mas?" Laila menatap buku yang di pegang oleh Bram.
"itu buku seribu satu malam"! tiba tiba Bram teringat dengan harum,dia dan harum begitu banyak kesamaan.
hal itu lah yang membuat dia dan harum selalu kompak dalam memilih barang.
"kamu kenapa mas?"Bram menatap Laila yang berada di sampingnya,Bram tersenyum dan mengecup kening Laila mesra.
"tidak ada apa apa sayang"! Laila menatap Bram penuh curiga.
"ya sudah kalau gitu kita langsung pulang aja ya mas"! aku malas untuk kerumah papah "biar papah saja esok yang ke rumah kita mas"lagi pula gak apa apa kan"! kalau seorang papah sesekali mendatangi rumah menantu nya"! Bram terdiam dengan ucapan Laila.
entah mengapa Bram teringat terus dengan harum, padahal saat ini dia dan harum bukan apa apa lagi,Bram membuang rasa itu dan menyakinkan hatinya,bahwa Laila adalah isteri saat ini.
__ADS_1
"mas"! kenapa kamu diam aja"! sepanjang perjalanan pulang aku perhatikan kamu diam saja"! apakah kamu kepikiran harum?" mata Laila menatap tajam kearah Bram.
Bram tersenyum dan berbohong kalau dia sedang kepikiran tuan Andika.
"mas aku jujur ya sama kamu"! aku gak mau kamu berhubungan lagi sama harum"aku gak mau kamu dua kan mas"! mata Bram menatap kearah Laila,lalu tersenyum.
"kamu jangan berpikir macam-macam sayang"karena kamu harus percaya ya" aku gak akan macam macam"!Laila tersenyum dan mengangguk pelan.
siang itu cukup panas, sehingga harum meringis karena kepala nya agak pusing, Nico yang memperhatikan harum merasa khawatir dengan keadaan harum, apalagi dia tahu pada saat ini harum sedang hamil muda.
"kamu kenapa Bu harum?" Bray mendekati harum yang memegang kepalanya.
"kepala saya agak pusing sedikit Bray" tapi gak apa apa kok"! nanti juga hilang"! Bray menatap wanita cantik didepan nya dengan tatapan agak resah.
semakin hari perasaan Bray semakin tak wajar dengan harum.
sesaat Bram menatap harum,lalu pergi menjauh dari ruangan harum.
" Bray map yang kemaren saya kasih ke kamu ada?" Bray mengganguk pelan,dia sangat khawatir melihat wajah pucat harum.
"saya rasa Bu harum ada baik nya istirahat saja"! harum menggeleng pelan.
"aku tidak apa-apa Bray"! bawa kesini berkas itu Bray"! aku mau cek"! Bray mengambil berkas yang di maksud oleh harum.
"tapi berkas ini mesti ada tanda tangan tuan Andika Bu harum"! harum mengganguk.
"saya mau berbicara dengan tuan Bram"! harum membawa berkas nya itu ke ruangan Bram.
Bram kaget saat yang masuk ke ruangan nya itu harum,Bram menatap harum tajam.
__ADS_1
"maaf Bram aku ganggu"! Bram tersenyum santai.
"ini ada berkas yang mesti kamu dan papah tanda tangani"! Bram menatap harum minta penjelasan isi dari berkas tersebut.
"ini berkas aku Bram"! aku minta di kirim ke kantor cabang"! aku mau tugas disana"Bram menatap harum tak percaya.
"kenapa kamu mau disana?" harum tersenyum pahit.
"ini bukan berarti kamu mau menghindari aku kan?" harum menatap tajam kearah Bram.
"antara kita sudah tak ada apa apa Bram"lalu apa yang mesti aku hindari dari kamu"Bram tersebut dan mendekati harum.
"dari dulu sampai sekarang kamu masih belum juga berubah ya"! kamu masih saja jaim"! harum diam.
"kau tau rum"! seorang anak itu butuh bapak nya"! harum kaget mendengar ucapan Bram.
"kau tau darimana?" mata harum memerah.
"tak penting'! aku mau kita rujuk lagi rum"demi anak kita"! harum menggeleng pelan.
"tidak Bram"! aku tidak mau"! tolong kamu bicara sama papah tentang aku ingin pindah"Bram menatap jari harum yang masih mengunakan cincin kawin dari nya.
"kamu masih mengunakan cincin kawin kita rum"! harum tersenyum dan memegang tangan nya.
"ya aku lupa"! harum melepaskan cincin itu dari jari manisnya,dan menaruh cincin itu di atas meja kerja Bram.
"saat ini kamu adalah suami dari Laila"! bukan aku"! soal anak"dari aku hamil hingga kini kami tak sepeser pun memberikan aku uang"jadi aku tak akan memberikan nama mu untuk anak ku"! dia tak punya ayah"! harum pergi meninggalkan ruangan Bram , dengan berlinang air mata.
bersambung kk
__ADS_1