
Hari ini dari kepolisian meminta aku dan Fitri untuk datang memberi keterangan sebagai saksi. Karena Fitri masih di bawar umur, masih anak sekolahan ternyata jadilah tante Jelita ikut pergi mendampinginya, mereka sepakat tidak memberitahu kejadian pembegalan itu pada ayahnya Fitri. Kasihan katanya, ayahnya Fitri bekerja banting tulang lalu mikirin urusan rumah, kalau sampai tau apa yang anak gadisnya alami takutnya jadi pikiran.
"Mas Haris mau ke kantor polisi?" tanya tante Jelita yang baru saja keluar dari rumah bersama Fitri.
Dan aku baru saja memanasi motorku, sebelum dipakai memang aku punya kebiasaan seperti itu.
"Eh iya tan, ini lagi manasin motor dulu baru berangkat,'" jawabku sambil memasang senyum yang paling rupawan untuk bidadariku yang terlihat sangat cantik pagi ini.
"Kalau begitu kita berangkat bareng saja mas, pakai mobil tante. Mas Haris bisa bawa mobil kan?"
"Bisa bisa tan, tapi --" Aku agak ragu, meski sudah biasa menyetir mobil sebelumnya tapi kalau ada tante Jelita didekatku bisa membuatku gugup.
"Kalau begitu ayo, mas." Tante Jelita memberikan kunci mobilnya padaku.
Di dalam mobil, kami berbincang cukup santai karena hubunganku dan tante Jelita sudah cukup akrab dan Fitri juga orangnya mudah membaur jadilah kami sudah tidak begitu canggung sekarang. Tidak kusangka kalau keputusanku menolong Fitri mengantarkanku dekat dengan tante Jelita. Tidak sia-sia mengorbankan wajahku sedikit.
Tante Jelita duduk disebelahku sedangkan Fitri ada dibangku belakang, bayi Sasha tidak ikut dia bersama pengasuhnya di rumah. Tidak baik juga membawa bayi ke kantor polisi, banyak aura negatif dari para penjahat disana.
"Fitri boleh tanya sesuatu sama mas Haris?"
Aku melirik spion yang ada di atasku, "Boleh, silahkan mau tanya apa. Selama aku bisa jawab."
"Apa mas Haris masih single?"
__ADS_1
Aku cukup kaget mendengarnya, gadis itu berani juga bertanya seperti itu pada laki-laki lebih dulu.
"Kenapa kamu nanyanya gitu, Fit? Kamu itu masih kecil, belajar aja yang bener biar bisa banggain bapakmu itu loh. Bukannya mikirin pacaran sama klayaban aja kerjanya." Tante Jelita sehati denganku rupanya, baru saja aku mau berbicara pada Fitri seperti itu.
"Apa salahnya tanya Tan, mas Haris aja nggak marah kok. Kenapa jadi tante Lita yang marah," cicit gadis itu sambil memanyunkan bibirnya.
Aku melirik tante Jelita, dia agak salah tingkah sepertinya karena sudah marah-marah. Aku jadi kepedean lagi kan.
"Mas Haris kok diam aja sih," protes Fitri, gadis itu masih menunggu jawabanku ternyata.
"Ihhh Fitri, jadi cewek itu nggak boleh terlalu agresif kayak gitu." Tante Jelita masih saja memojokan keponakannya, apa aku boleh berharap sekarang, berharap tante Jelita cemburu pada Fitri.
"Yang tantemu bilang bener Fitri. Lebih baik kamu itu fokus sama sekolah mu biar bisa masuk kampus impianmu. Jadi orang suksek mumpung masih muda dan banyak kesempatan," ujarku yang terdengar sedikit bijaksana. Harus dong, kalau ada tante Jelita aku harus terlihat dewasa.
"Nggak apa-apa mas, belajar, sekolah dan pacaran aku bisa bagi waktunya kok. Nilaiku saja bagus terus di sekolahan. Mas Haris ini tipe cowokku banget, sudah baik, berani, bisa melindungiku dan dewasa."
"Mas Haris mau kan jadi pacarku?" tanyanya sambil memasang wajah malu-malu.
Aku tersenyum miring, Fitri memang cantik dan menarik, wajahnya juga mirip tante Jelita. Namun sayangnya, hatiku sudah terlanjur aku berikan untuk tantenya seorang. Wanita yang saat ini duduk di sebelahku. Sekarang aku harus mencari alasan yang tepat untuk menolak gadis itu, agar tak membuatnya sakit hati juga.
"Maaf Fit, kita saja baru kenal beberapa hari yang lalu. Aku rasa kamu belum benar-benar mengenalku."
"Tapi kata tante Jelita yang sudah lama tetanggaan sama mas Haris juga katanya mas Haris itu orangnya baik dan sayang sama ibunya. Itu sudah cukup kan, aku nggak perlu kenal lama dulu."
__ADS_1
"Uhhukk!!" Tante Jelita tiba-tiba saja tersedak air liurnya sendiri. Sepertinya dia malu padaku.
Waah benarkah tante Jelita memujiku dibelakang, berarti selama ini diam-diam dia memperhatikanku kan. Selama ini bukan cuma aku yang diam-diam memperhatikannya, ternyata dia juga sama.
"Benarkah tante berkata seperti itu, padahal kita jarang sekali bertegur sapa?" tanyaku pada Fitri sambil melirik tante Jelita.
"Mmm,,, itu tante sering dengar cerita dari bu Wanti. Beliau sering membicarakanmu," jawab tante Jelita.
Tapi sepertinya dia sedikit gugup menjawabnya, aku rasa dia sedang berbohong. Aku sangat tau siapa ibuku, kalau tidak ditanya lebih dulu dia jarang sekali membicarakanku pada tetangga-tetangga sekitar.
"Jadi bagaimana mas Haris maukan jadi pacarku?"
"Maaf Fit, aku balum ingin pacaran sekarang ini dan lagi tipeku itu wanita yang sudah dewasa, mandiri dan mau merawat ibuku juga."
Fitri langsung diam mendengar ucapanku, aku tau kalau ciri-ciri yang aku sebutkan itu sangat jauh dari dirinya yang masih kekanakan, egois dan tidak kasihan sama bapaknya. Terbukti dengan dia yang menyalahgunakan kebebasan yang dberikan orang tuanya.
"Apa maksud mas Haris tipe cewek mas Haris itu yang seperti tante Lita?"
"Uhuukk!!" Kini aku dan tante Jelita sama-sama tersedak mendengar pertanyaan Fitri yang sangat berterus terang, bagaimana ini. Memang iya tapi aku malu kalau harus mengakuinya sekarang. Aku penasaran dengan ekspresi tante Jelita saat mendengar hal itu tapi sayangnya dia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Apa jangan-jangan dia tidak suka padaku.
"Emm iya mirip seperti tante kamu," jawabku asal.
"Berarti bukan tante Lita kan tipe mas Haris, tanteku juga seleranya tinggi. Dia maunya sama yang berduwit, padahal yang kaya itu bikin sakit hati kayak mantan suami tante yang selingkuh itu."
__ADS_1
"Fitri!! Sudah kamu itu jangan ganggu mas Haris lagi nyetir, bisa celaka. Kalau mas Haris nggak mau sama kamu ya nggak usah maksa, belajar aja yang bener. Kalau nggak tante bakal laporin sama bapak kamu." Tante Jelita tidak suka Fitri membicarakannya, mungkin dia tidak ingin mengingat masa lalunya yang buruk itu.
Tapi aku tertarik pada ucapan Fitri yang katanya aku ini bukan tipenya tante Jelita, ternyata dia sukanya yang kaya. Wajar saja sih, dia cantik dan bodynya bak gitar spanyol, sama sekali tidak pantas kalau diajak hidup susah olehku. Mungkin memang impianku yang terlalu tinggi, berharap menggapai bulan yang sangat jauh dari jangkauanku.