Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 20. Rencana dan Harapan


__ADS_3

POV Tante Jelita


Aku kira setelah kejadian di mobil waktu itu hubungan ku dengan mas Haris jadi makin dekat tapi nyatanya malah semakin jauh. Seperti beberapa hari ini aku bahkan sama sekali tidak melihatnya.


Padahal aku selalu keluar pagi-pagi sekali untuk menyiram tanaman seperti biasa. Menggunakan koleksi pakaian sek-si ku juga agar mas Haris makin tidak bisa berpaling lagi. Tapi nihil, aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya sedikitpun.


Pernah beberapa kali aku melihat ada gadis yang datang ke rumah Bu Wanti. Pas kebetulan aku melihatnya dan karena penasaran aku pun mengintip dari celah korden rumahku.


Aku membelalak dan darahku mendidih seketika saat melihat mas Haris yang tidak menggunakan baju di depan seorang gadis. Rasanya tidak rela kalau tubuh mas Haris yang gagah diperlihatkan pada perempuan lain. Aku menggeram kesal. Mas Haris itu milik ku, ya dia adalah milikku dan tidak ada yang boleh melihat tubuhnya selain aku.


Sejak saat itu aku mencoba mencari tau, siapa gadis itu. Gadis yang mampu membuat mas Haris sedikit terpesona melihatnya. Ternyata dia adalah putri dari pak Slamet yang baru saja pulang dari pesantren. Keluarga Pak Slamet itu cukup terpandang di kompleks ini, keluarga nya terkenal agamis dan lulusan pondok semuanya. Aku jadi sedikit minder, gadis itu pasti mantu idaman para ibu-ibu di sekitar sini.


Kalau dibandingkan dengan ku yang hanya janda anak satu dengan penampilan yang selalu memperhatikan aurat. Tentu jauh berbeda, tapi aku memang seperti ini. Pakaian dan style ku adalah yang membuat ku nyaman, meski kadang mulut ibu-ibu sekitar seperti mi level dengan level pedas Jontor.


Aku mulai resah, aku tidak bisa tinggal diam. Bisa-bisa gadis itu merebut mas Haris dariku. Aku harus mencari cara.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan."


Bu Wanti, ya aku akan mulai dari Bu Wanti. Beliau wanita yang ramah dan tidak pernah meremehkan ku hanya karena aku janda. Beliau juga sering aku mintai bantuan untuk menjada Sasha putriku.


Hari-hari berikutnya aku memulai rencanaku. Aku sering berkunjung ke rumah Bu Wanti saat mas Haris tidak ada, sambil membawa bayiku untuk alasan. Kami jadi lebih dekat dan Bu Wanti juga sangat senang dengan kehadiran Sasha. Putriku memang sangat cantik dan gemoy seperti ku, aku bersyukur karena Sasha mewarisi kecantikan ku.


"Ya ampun dek Sasha pintar sekali, dia sudah mulai bisa merangkak sekarang. Sini-sini maju, ayo sama Mbah Wanti."


Aku melihat interaksi Bu Wanti dan anakku, mereka sudah seperti Mbah dan cucu sungguhan.

__ADS_1


Selain menggunakan putriku, aku juga sering mengirim makanan dan yang lainnya untuk Bu Wanti. Dia pun menerimanya dengan senang hati. Sampai aku memberanikan diri untuk bertanya bagaimana mantu idamannya.


"Ibu nggak muluk-muluk cah ayu. Ibu ini cuma pengen si Haris punya istri yang bisa ngurusin Haris, kalau bisa yang Sholehah dan masih gadis."


Duarr!!! Pupus sudah harapan ku. Tetap saja dimana-mana pasti orang tua penginnya mantu yang Sholehah dan masih gadis. Apa artinya aku sudah tidak punya kesempatan untuk menjadi istrinya mas Haris.


Apa salahnya dengan janda, aku juga bisa mengurus mas Haris dengan baik. Pengalamanku lebih banyak dan aku bisa ngurus ibunya sekaligus. Aku juga punya banyak uang. Huhh... Kepalaku sakit memikirkan hal itu.


Sejak saat itu aku pun agak menjauh dari tetangga ku itu. Nanti lah, aku pikir langkah selanjutnya. Sementara ini aku ingin menenangkan diri lebih dulu dengan menyibukkan diri di toko sembakoku yang semakin hari semakin ramai saja.


Tapi ternyata, ketenangan yang aku harapkan tidak bertahan lama. Mantan suami ku mendatangiku dan merusuh di toko dengan membawa beberapa preman. Dia minta rujuk denganku.


"Bu, maafin bapak. Bapak khilaf, bapak ingin memperbaiki semuanya sama ibu. Kasihan juga Sasha harus jauh dengan ayahnya." Dengan percaya diri dan membawa nama anak, dia meminta rujuk.


Laki-laki itu pun mengamuk, merupakan barang-barang dagangan ku dan membuat para pembeli ku takut. Satu yang juga aku baru tau kalau mantan suami ku itu tak berperasaan dan tidak segan menggunakan kekerasan. Untung saja aku sudah melepaskan diri darinya.


Setelah insiden itu, aku terpaksa menutup toko. Untuk memperbaiki yang rusak dan membeli stok jualan lagi karena sebagian rusak. Aku tidak melawan dan tidak melaporkan nya ke polisi karena mengingat anakku. Aku tidak ingin anakku punya bapak narapidana. Karena terlalu banyak pikiran aku pun sedikit sakit, Mbak Irma yang biasa mengasuh putriku yang menyadari nya.


"Bu Lita kenapa? Sepertinya ibu sakit," katanya.


"Cuma sedikit pusing saja mbak. mungkin kecapaian. Bisa minta tolong panggilkan Bu Wanti, mbak. Bilang padanya kalau aku mau dipijat." Sepertinya tubuhku memang perlu relaksasi agar tidak tegang terus.


Hari itu, Bu Wanti memijat ku. Pijak seluruh badan. Beliau beberapa kali tertegun mengagumi tubuhku.


"Mbak Lita badannya bagus banget, sama kayak yang masih gadis."

__ADS_1


Aku pun tersipu dan bangga, tidak sia-sia aku melakukan beberapa treatment saat hamil dan setelah melahirkan. Terbukti dengan perutku yang masih rata dan mulus tanpa bekas hamil. Dan pay-pay udara ku yang masih kencang meski menyusui.


Setelah selesai pijat, aku pun memberi Bu Wanti amplop berisi uang terimakasih. Dia sangat senang menerimanya, meski awalnya menolak tapi aku terus memaksa agar dia menerimanya.


Malamnya, tiba-tiba saja Sasha panas. Dia rewel dan menangis, aku pun menempelkan punggung tanganku di keningnya.


"Ya ampun panas sekali nak," aku panik. Aku mengambil termometer untuk memastikan suhu tubuhnya dan ternyata panasnya 39°.


Aku bingung harus bagaimana, di rumah juga tidak ada stok parasetamol untuk bayi. Mbak Irma juga sudah pulang, dia memang hanya sampai sore saja di rumah ku.


"Oek... oekk... oekk...."


Tangis Sasha semakin menjadi, aku sudah coba memberinya nen tapi dia menolak. Aneh sekali, padahal biasanya dia langsung diam kalau nen.


"Ya ampun kamu kenapa nak."


Hari semakin malam, aku takut menangani Sasha sendirian. Akupun akan meminta bantuan pada Bu Wanti, siapa tau dia punya pengalaman menenangkan anak yang rewel.


Dengan tergesa-gesa, aku mengetuk pintu rumah Bu Wanti. Saat itulah aku bertemu dengan mas Haris lagi. Aku cukup terkejut dan senang karena bisa melihat mas Haris tapi kedatangan ku ke sana adalah untuk sesuatu yang lain.


"Mas Haris cepat tolong panggilkan Bu Wanti," pintaku.


Seperti biasa aku melihat mas Haris yang tidak memakai atasan. Membuat ku ingin menyentuhnya. Tapi sayangnya itu bukan waktu yang tepat.


Setelah Bu Wanti ke depan aku segera memintanya untuk datang ke rumah, membantu ku menenangkan Sasha. Karena mungkin saja anakku itu tidak enak badan karena tercetit karna dia memang sudah sangat aktif dan banyak tetangga juga yang suka gonta-ganti menggendongnya kalau dia di bawa keluar.

__ADS_1


__ADS_2