
Sejak malam itu aku selalu memikirkan apa yang aku lihat. Sayangnya aku tidak bisa melihat dari dekat siapa gadis dan laki-laki itu dan tidak bisa mendengar apapun juga. Aku kira apa yang aku lihat itu bisa dijadikan petunjuk dan menguatkan bukti yang ada tapi aku sama sekali tidak berguna.
Hari yang ditentukan untuk tanggal pernikahan ku dengan Ratna sudah semakin dekat. Para tetangga juga sudah tau semuanya. Benar apa yang dikatakan Tante Jelita, ternyata dengan menikah dengan ku, keluarga Bu Yuli jadi banyak pujian. Katanya kagum pada Ratna mau menikahi ku yang bujang lapuk. Lalu juga katanya keluarga mereka sama saja seperti sedang menyantuni janda.
Kenapa semua pujian itu harus ditujukan pada keluarga Bu Yuli, seolah aku dan ibuku begitu beruntung karena akan mempunyai ikatan dengan keluarga yang terpandang itu. Anehnya, ibuku sama sekali tidak masalah dengan ucapan para tetangga yang memojokan kami. Ibu malah membenarkan apa yang mereka katakan.
Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Tante Jelita, dia mengerti dan memahami karena dia sudah menduganya. Tante Jelita benar-benar penuh perhitungan dalam bertindak, pantas saja dia berhasil dalam berwirausaha.
"Ris, Haris... ayo antar ibu." Ibu menggedor pintu kamar ku.
"Kemana Bu?" tanyaku.
"Ibu mau beli seserahan Ris, ibu ada simpenan mau buat beli emas."
__ADS_1
Aku langsung turun dari kasur dan membuka pintu. Ibu tidak bisa dibiarkan menggunakan uang tabungannya rencananya mau untuk berangkat umroh.
"Ibu... ibu mau pakai uang yang mana untuk beli seserahan?" tanyaku meninggi. "Uang ibu itu untuk umroh Bu... ibu nggak bisa memakai nya untuk yang lain."
"Nggak apa-apa Ris, uang bisa dikumpulkan lagi. Tapi ibu nggak bisa membiarkan kamu malu kalau nggak bawa apa-apa," kata ibuku, dia senyum-senyum sendiri.
"Tapi umroh itu impian ibu sejak lama, aku nggak bisa memberangkatkan ibu haji. Aku memberikan sebagian uangku untuk ibu menabung untuk biaya umroh," kataku tidak bisa terima keputusan ibu. "Uang itu aku sengaja sisihkan untuk ibu, aku rela nggak pernah main atau nongkrong yang bisa ngabisin uang. Semuanya demi ibu bisa umroh."
"Nggak Bu, Haris nggak setuju. Kalau dia mau jadi istrinya Haris ya terima apa adanya. Kita ini nggak mampu memberikan apa-apa jadi nggak usah ngarep apa-apa dari kita. Kalau nggak mau ya nggak usah nikah aja. Belum juga jadi mantu sudah mau nyusahin ibu." Semoga saja ibu terbuka hatinya.
Aku langsung masuk ke kamar lagi dan mengunci pintu dari dalam. Ibu tidak mungkin tetap pergi kalau aku tidak mengantarkan nya. Kenapa ibu belum sadar juga. Seharusnya cari mantu itu yang bisa memuliakan ibu juga, ini malah menyusahkan dan mau menggunakan uang umroh ibu untuk membeli seserahan.
"Maafin ibu, Ris. Ibu cuma nggak pengin kamu malu besok. Kita nggak nyiapin apa-apa untuk di bawa."
__ADS_1
"Haris nggak malu Bu. Ngapain malu, mereka harus nya sudah tau dari awal kalau kita nggak punya banyak uang. Bu Yuli pasti tau kan keadaan kita. Apa mungkin Bu Yuli yang nyuruh ibu untuk membeli ini itu dan menghabiskan uang."
"Nggak nak, ini inisiatif ibu sendiri. Untuk menyambut mantu ibu." Betapa bahagianya ibu mau punya mantu. Aku jadi khawatir kalau ternyata pernikahan kami batal dan Ratna bukan seperti yang ibu pikirkan. Pasti ibu akan sangat sedih kalau itu terjadi tapi kalau dibiarkan juga tidak benar.
"Ya sudah kamu istirahat saja. Ibu nggak jadi pergi." Ibu menyerah membujugku.
Aku semakin cemas memikirkan hari itu. Kalau kata Tante Jelita, aku tidak usah cemas dan katanya dia sudah memiliki rencana tapi aku tidak tau apa itu. Aku penasaran apa sebenarnya yang Tante Jelita rencanakan. Dan khawatir juga kalau ternyata dia tidak punya cukup bukti.
Kemarin bertemu dengan Ratna pun aku sama sekali tidak menemukan ada yang aneh salain dia makan jajanan begitu banyak. Aku sudah berusaha menanyakan dan membujuknya untuk membatalkan rencana pernikahan kami tapi dia kekeuh tidak mau juga. Aku sampai mengatakan kalau aku sudah punya pacar dan ingin menikahi pacar ku. Tapi dia malah menjawabnya dengan santai nya, katanya tidak masalah. Aku mau menikah lagi dengan kekasihku pun tidak masalah.
Aku tidak tau bagaimana sebenarnya Ratna itu. Aku sempat bertanya tentang masa lalunya saat ia di pondok tapi dia bilang tidak ingin membahas yang sudah terjadi. Dia tidak mudah dibohongi untuk bercerita, dan menyimpan rapat semuanya
Tapi justru membuat ku juriga karena penasaran dengan apa yang ditutupinya.
__ADS_1