Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 9. Diperhatikan


__ADS_3

Pagi ini aku bangun kesiangan, semalam dari rumah tante Jelita aku pulang hampir jam satu malam. Setelah pulang pun aku tidak langsung bisa tidur karena terpaksa harus mandi tengah malam agar barang berharga ku tertidur lagi. Bayangkan saja bagaimana tidak bangun kalau selama aku di rumah tante Jelita aku disajikan pemandangan yang membuat hormon testosteron ku langsung meningkat hebat yang menyebabkan kebanggaanku terus meronta.


Bahkan sampai sekarang aku masih bisa mengingatnya bayangan itu terus terngiang di kepalaku, dengan gaun yang potongan rendah aku bisa melihat mereka yang bergoyang saat tubuh tante Jelita bergerak karena seperti dugaanku wanita itu tidak menggunakan kaca mata cup nya, bisa ku tebak karena gaun itu sangat tipis. Aku bisa melihat nya samar-samar.


Aku tidak tau tante Jelita sadar atau tidak saat aku melihat semua itu. Atau dia sudah biasa memperlihatkan semua itu pada laki-laki lain juga tapi aku juga tidak mungkin menanyakan hal itu, kenapa aku jadi kesal saat memikirkan hal itu. Seandainya saja dia istriku pasti sudah aku kurung di kamar saja.


Dari pada memikirkan hal yang tidak-tidak lebih baik aku mandi saja, untunglah hari ini jadwalku libur.


Tok tok tok


"Ris... apa kamu sudah bangun?"


Aku sedang bercermin sambil menyisir rambut, ibu memanggilku.


"Sudah bu..."


"Di depan ada Mbak Lita, mau ketemu kamu katanya," kata ibu sedikit berteriak.


Apa tadi katanya, mbak Lita maksudnya tante Jelita. Astaga apa yang harus aku lakukan.


"Ris..." ibu memanggilku lagi.


"Iya bu, sebentar lagi aku keluar." Aku blingsatan membuka lemari untuk mencari baju yang bagus karna baju yang aku pakai ini sedikit sudah lusuh. Akhirnya aku menemukan kaos putih tipis yang kalau aku pakai bisa mencetak otot-otot perut . "Ini sempurna, memangnya cuma tante Jelita saja yang bisa pamer, aku juga bisa pamer yang pasti akan membuat mata para wanita lapar."


Sekali lagi aku bercermin, memastikan penampilanku sempurna. Untunglah aku sudah mandi dan wangi, ehh tunggu sepertinya aku masih butuh minyak wangi yang baunya laki banget.


"Itu dia... baunya pasti bikin tante Jelita klepek-klepek." Aku tersenyum sendiri.


Setelah memastikan penampilan ku sempurna, aku pun keluar dari kamar karna tak ingin membuat bidadariku menunggu lama. Rupanya tante Jelita dan ibuku sedang mengobrol di ruangan tamu, senyumku mengembang saat melihat interaksi mereka berdua. Kalau tante Jelita jadi istriku pasti ibu dan menantu akan akrab seperti itu. Kata orang, ucapan adalah doa yang mungkin bisa terkabul tanpa kita sadari. Jadi kalau aku sering berkata tante jelita jadi istriku maka ada kemungkinan hal itu juga akan menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Ris... loh kok malah berdiri di situ. Ini loh mbak Lita sudah nungguin dari tadi." Suara ibu membuyarkan lamunanku.


"Iya bu," jawabku malu, seperti gadis yang sedang diapeli pacarnya.


"Ya ampun Ris, kok anak ibu yang paling ganteng wajahnya jadi seperti ini."


Ibu bikin malu saja, ya jelas lah paling ganteng, anak ibu saja cuma aku.


"Nggak apa-apa bu, kalau sudah sembuh juga ganteng lagi nanti." Aku menjawabnya dengan sedikit candaan.


Deg. Pagi-pagi sudah dapat asupan vitamin dari senyumannya tante Jelita yang menawan, rupanya dia sedikit terhibur dengan candaanku yang garing.


"Ibu bangga padamu, Ris. Mbak Lita sudah cerita semuanya pada ibu, katanya kamu berhasil menyelamatkan keponakannya Mbak Lita ya trus kamu juga sudah berhasil mengalahkan begal itu yang biasanya bikin warga takut," kata itu sambil mengusap-usap lenganku.


Ngomong-ngomong soal begal, aku juga memikirkannya semalam. Aku bukannya senang karena sudah meringkus dua sampah masyarakat itu tapi aku malah jadi takut kalau seandainya mereka itu ternyata berkawanan. Bisa saja teman-teman mereka mendatangiku dan membalas dendam. Kalau begini hidupku tidak akan tenang sekarang.


"Ya sudah, ibu ke tukang sayur dulu. Kalian ngobrol saja," kata ibu sangat pengertian. Ibuku memang yang terbaik pokoknya.


"Bagaimana luka mas Haris? apa masih sakit?" tanya tante Jelita membuka percakapan diantara kami.


"Sudah nggak terlalu sakit tan, terimakasih karena tante sudah mengobatiku semalam."


"Sama-sama Mas, tante hanya melakukan apa yang seharusnya tante lakukan. Oh iya apa kamu sudah sarapan, tante bawakan bubur. Tante pikir kamu pasti kesusahan kalau makan-makanan yang biasa."


Waaah kebetulan sekali aku sedang lapar, "Terimakasih tan, malah jadi ngrepotin." Aku tersenyum senang. Sungguh wanita idaman, kurang apalagi coba. Cantik sudah, mandiri, keibuan dan pengertian.


"Biar tante suapi ya," ujarnya.


"Nggak usah tan, aku masih bisa sendiri." Sebenarnya mau saja tapi takut ibu tiba-tiba pulang.

__ADS_1


Aku pun memakan bubur yang tante Jelita bawakan, rasanya enak sangat pas di lidahku. Meski butuh perjuangan untuk memakannya karena bibir dan area sekitar mulutku terasa kebas.


"Gimana rasanya mas, enak nggak?"


"Enak tan," jawabku sambil mengunyah.


"Syukurlah kalau mas Haris suka, nanti aku bawakan lagi kalau waktunya makan siang dan malam juga sampai luka mas sembuh."


Aku terkejut mendengarnya, sepertinya itu terlalu berlebihan untukku. Pasti merepotkan dan makanan seenak ini juga harganya tidak murah. "Nggak perlu tan, nanti aku minta ibu buatin makanan yang berkuah saja."


"Nggak perlu mas, aku juga sudah masak bubur itu banyak tadi . Kalau mas Haris nggak mau, sayang kalau kebuang-buang makanannya."


Aku lebih terkejut lagi mendengar hal itu, tante Jelita masak sendiri bubur untukku dan rasanya seperti makan di restoran mahal. "Ini masakan tante?" tanyaku.


"Iya mas, apa mungkin karena rasanya nggak enak jadi mas Haris nggak mau lagi." Wajah tante Jelita berubah sendu, sepertinya dia mengira aku tidak menyukai masakannya.


"Bukan begitu tan, tadi itu aku kira tante beli bubur ini di restoran karena rasanya sangat enak dan aku tebak pasti harganya juga mahal makanya aku tidak mau merepotkan tante."


"Jadi mas Haris suka bubur buatan ku, nanti aku bawakan lagi kesini." Akhirnya aku bisa melihat lagi senyumnya yang manis.


Kami pun lanjut mengobrol, tante Jelita menceritakan tentang Fitri yang ternyata anak korban perceraian dan gadis itu tinggal bersama ayahnya yang merupakan kakak dari tante Jelita. Ayahnya sibuk bekerja sampai sangat jarang mempunyai waktu untuk anak gadisnya. Pantas saja penampilan Fitri seperti itu, pasti krena kurangnya perhatian dari orang tua jadilah dia salah pergaulan.


Aku sempat bertanya dimana gadis kecil yang kemarin sempat mengompoliku, ternyata dia sedang bersama Fitri.


"Tante minta maaf ya mas, kata ibu Wanti kemarin Sasha pipis di celana mas Haris. Maafin Sasha ya mas." Bu Wanti adalah nama ibuku.


Aku malu mendengarnya, kenapa juga ibu harus menceritakan hal seperti itu.


"Nggak apa-apa tan, namanya juga masih bayi. Itu si ibu yang lupa pakaiin popok."

__ADS_1


Kami pun tertawa, bercanda dan bercerita bersama. Tante Jelita sudah tidak terlalu sungkan dan lebih terbuka sekarang. Akupun jadi tambah nyaman, apalagi ditambah bonus pemandangan sepasang pepaya mateng saat bersamanya.


__ADS_2