
Aku tidak bisa melupakan kejadian di mobil kemarin, bayangan itu selalu saja terbayang dalam ingatanku. Apalagi rasanya yang terasa legit hampir membuatku ketagihan. Baru tau kalau rasanya ternyata seperti itu, walaupun waktu masih bayi akupun pernah merasakannya tapi aku tidak pernah bisa mengingat rasanya. Perutku sampai kenyang dan kembung karena banyaknya aku minum dari benda itu, tidak tau bagaimana bayi Sasha bisa kuat minum sebanyak itu.
Pagi ini untuk pertama kalinya aku tidak melakukan kegiatan seperti biasa, tidak duduk di depan rumah hanya untuk melihat tante Jelita dari kejauhan. Aku malu mengingat kejadian kemarin, Yang tujuan awalku hanya membantu tante Jelita agar tidak kesakitan malah aku menikmatinya. Sampai saat sudah terasa kosong pun aku masih tetap tidak mau melepaskannya.
"Ternyata benar ukurannya di atas rata-rata, satu telapak tanganku saja nggak muat kalau untuk menangkupnya. Aku puas sekali, akhirnya aku bisa melihat langsung benda yang selama ini selalu aku bayangkan bahkan aku memegangnya dan merasakannya."
"Ohh tante Jelitaku, semoga saja kamu nggak marah padaku karena aku menikmatinya terlalu lama."
Mungkin hampir satu jam aku bermain dengan benda itu, sangat enak dan aku tak rela mengakhirinya. Aku hanya memanfaatkan kesempatan, karena aku tau tidak mungkin ada kesempatan seperti itu datang lagi. Kalau memang Tante Jelita marah padaku aku rela.
Aku masih bergumul di atas kasur, hari ini aku berangkat siang. Rasanya takut mau keluar, takut bertemu tante Jelita lebih tepatnya. Sejak kejadian itu kami belum bertemu lagi, tapi jika dipikir lagi waktu itu wajah tante Jelita juga seperti menikmatinya, Ya dia juga tidak mencoba menghentikanku, Kalau tidak salah dengar dia juga sempat mengeluarkan suara syahdu menyebutkan namaku.
Aku bangkit dan langsung menyingkap selimutku, langsung turun dan berlari ke kamar mandi yang ada di luar kamar. Aku harus membersihkan diri lebih dulu, setelah itu aku akan memastikan tante Jelita marah padaku atau tidak.
"Ris, ibu mau pergi ke rumah bu Slamet." Kata ibu, saat aku sedang dalam kamar mandi menggosok gigiku.
"Iya bu, hati-hati," pesanku pada ibu.
"Apa sih Ris, wong rumahnya juga cuma selisih dua rumah dari sini. Memang ibu bisa kenapa?"
__ADS_1
"Ya bisa saja nanti ibu kesandung atau kepeleset kalau nggak hati-hati bu, Ibu itu punya riwayat darah tinggi jadi jangan sampai jatuh. Bisa bahaya bu, aku belum nikah. Nanti nggak ada yang nemenin aku pas nikahan."
"Oalah Haris Haris... makanya cepet nikah." Ibu terkikik lalu suaranya semakin menghilang, pasti dia sudah pergi.
Ritual mandi kilatku sudah selesai, aku memang nggak suka mandi lama-lama kecuali kalau sambil olah raga lima jari. Meski begitu wajahku dan tubuhku termasuk bersih dan tidak berdaki. Aku keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah ku, dan membiarkan otot-otot atasku terekspos.
Tapi tiba-tiba saja, aku mendengar suara dari dapur. Suara piring bersenggolan dan air mengalir, aku tebak pasti ibu sedang mencuci piring. Kulanjutkan langkahku ke kamar, tapi aku teringat kalau tadi ibu pamit pergi. Apa dia tidak jadi pergi. Apa jangan-jangan yang di dapur itu maling.
Waahh sudah berani rupanya maling mencuri di rumahku, apa dia tidak tau kalau aku ini sudah bisa mengalahkan begal di jalanan. Siap-siap saja kalau itu benar maling. Aku siap menghajarnya sampai bapak belur karena sudah berani menginjakkan kaki di rumahku.
Aku berjalan pelan ke arah dapur, jaraknya tidak jauh karena memang rumahku tidak terlalu besar. Aku mengintip dari balik korden yang menutupi dapur, rambut panjang, memakai gaun. Ternyata dia seorang wanita, siapa dia dan sedang apa di rumahku. Aku pun berjalan lebih dekat, semakin dekat aku perhatikan sepertinya aku kenal dengannya, sosoknya seperti tak asing untukku.
"Maaf, permisi..." tegurku.
"Tante?" Pantas saja seperti aku kenal.
"Mas Haris, maaf tadi tante mau mengantar semur ayam tapi kata ibu kamu suruh masuk saja dan letakan di meja."
"Iya nggak apa-apa tan, aku kira tadi maling. Tapi kenapa tante mencuci piring kotor?" tanyaku saat meihat tangannya penuh busa sabun.
__ADS_1
"Ehh itu, tadi tante lihat piring kotornya numpuk-numpuk jadi tante cuci. Maaf tante lancang," ujar tante Jelita, pipinya memerah menatapku yang baru selesai mandi. Sisa-sisa air di tubuhku pasti terlihat sangat menarik.
"Nggak apa-apa tan, tapi aku malah ngerasa nggak enak sama tante. Itu biasanya aku yang cuci kalau habis sarapan."
Tante Jelita menelan ludah dan menggigit bibirnya, itu terlihat sangat cantik untukku. Apa mungkin dia tertarik padaku, tapi aku tidak boleh kepedean dulu. Lebih baik aku pergi dari sana dan melihat reaksinya.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu Tan, itu piring kotornya taruh saja tan. Aku takut tangan tante nanti jadi kasar kalau mencuci piring." Benar kan tebakanku, tangan sehalus itu pasti tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah kan.
"Mana mungkin cuma karena cuci piring bisa jadi kasar mas. Tante sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah," katanya membuat ku kagum, itu berarti memang tante Jelita yang bisa merawat diri.
Aku pun memutuskan masuk ke kamar, aku yang hanya memakai handuk bisa gawat kalau terlalu lama berdekatan dengan Tante Jelita.
Aku sudah memakai celana pendek tapi tak memakai atasan. Akan ku biarkan tante Jelita menikmati lebih lama perut kotak-kotakku, mungkin saja tiba-tiba ia ingin menyentuhnya. Maka dengan senang hati aku menyerahkan tubuhku padanya, tidak masalah bagiku kalau menjadi ayah tiri dari anaknya. Bukannya malah bagus, kalau menikah dengannya langsung dapat bonus anak, jadi nggak usah buru-buru punya anak lagi.
Dengan percaya diri dan langkah tegap aku berjalan ke arah meja makan, tante Jelita sedang menata piring di sana. Sungguh istri idaman ku. Dia melirik ke arahku, sepertinya dia masih malu-malu melihatku yang seperti ini. Aku harus membuatnya nyaman lebih dulu agar dia terbiasa.
"Terimakasih tan, maaf merepotkan tante," ujarku sambil mendekat dan mengikis jarak. Sepertinya memang aku harus lebih berani.
"Sama-sama mas, tante hanya melakukan hal kecil saja. Tidak ada apa-apanya dibandingkan Mas haris sudah banyak menolong tante. Kemarin tante belum sempat berterimakasih, terimakasih ya mas. Kalau mas Haris nggak nolongin tante pasti sampai sekarang tante masih kesakitan karena itunya bengkak dan bisa-bisa anak tante rewel nanti karena ASInya mampet."
__ADS_1
Aku tidak menyangka kalau perkara tidak segera dikeluarkan saja bisa sampai bahaya seperti itu, berarti aku sudah jadi penyelamatnya kan kemarin, itu artinya tante Jelita tidak marah padaku kan.
"Yess..." Aku bersorak dalam hati, sudah dapat enak dianggap pahlawan lagi. Beruntungnya diriku.