Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 82. Pengakuan


__ADS_3

"Siapa yang ke empat?" tanyaku pada Jelita. Apa maksudnya ibu?


"Sini tangannya mas," ujar Jelita. Aku pun memberikan tangan kananku padanya, lalu dia memegangnya dan ia tempelkan pada perutnya yang rata. Sedetik kemudian aku menganga tak percaya.


"Apa ini dek? apa maksudnya?"


Jelita tersenyum padaku, tampaknya dia tau kalau aku sedang kebingungan.


"Didalam sini ada anak kita mas," katanya. Tangannya menggenggam tanganku yang ada diatas perutnya.


"Benarkah, ini bukan mimpi kan?" Aku sungguh senangnya bukan main mendengar kabar itu, jadi aku akan punya anak dari darah dagingku sendiri. Bukan berarti aku tidak senang akan kehadiran Sasha tapi rasanya berbeda saat mengetahui aku punya anak sendiri tapi hal itu tidak akan merubah rasa sayangku dengan Sasha, dia tetap anak pertamaku. Aku sampai meneteskan air mata bahagia dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Mas, mas kenapa kok nangis. Apa mas Haris nggak bahagia mendengarnya?" tanya Jelita dengan berwajah sedih, mungkin ia mengira kalau aku sedang berpikir macam-macam. Aku genggam tangannya lalu aku tangkupkan ke wajahku.


"Mas, terlalu bahagia sayang. Mas menangis karena bahagia, nggak tau mau ngomong apa lagi selain terimakasih karena adek sudah mau menganduk anak mas." Isshh kenapa di saat suasana seperti ini aku jadi bisa berbicara manis seperti itu. Tapi memang iya kalau tidak ada yang bisa melukiskan betapa bahagianya aku saat ini.


"Sama-sama mas, kalau mas sedih seperti itu aku juga ikut menangis. Hiks hiks..."

__ADS_1


Aku segera merengkuh tubuh Jelita dengan hati-hati karena tidak ingin anak kami terhimpit olehku. "Dijaga kandungannya ya dek, setelah mas keluar dari rumah sakit kita akan segera menikah." Jelita mengangguk, tangisnya malah makin menjadi dan lebih keras dariku.


"Ada apa dek, kok kamu sepertinya ada sesuatu yang disembunyinkan dariku?" tanyaku setelah pelukan kami terlepas.


"Enggak mas, aku terharu saja karena mas langsung percaya kalau aku hamil anak mas. Aku takut mas nggak percaya kalau ini anak mas," adunya sambil menangis.


"Tentu saja aku percaya. Aku sangat percaya padamu dek," kataku menenangkan, aku bahkan sama sekali tidak memikirkan hal itu tadi. Entah  Jelita dapat pemikiran seperti itu dari mana. "Apa semua orang sudah tau mengenai kehamilan kamu?" tanya ku.


"Iya mas, saat aku pingsang di rumah sakit ini setelas menemui mas diruang operasi. Mas Doni langsung membawaku periksa dan dokter mengatakan kalau aku hamil di hadapan semua orang."


"Apa artinya ibu juga sudah tau?" tanyaku.


"Dia pasti sangat bahagia mendengar kabar ini, sudah lama sekali dia mengidamkan cucu dariku." Aku lihat wajah Jelita tampak tidak bahagia. "Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu." Dia masih menggeleng dan tidak mau bercerita. Ahh aku ingat tadi saat Jelita mengatakan kalau dia takut aku tidak akan percaya. Apa karena hal itu.


"Sayang, ceritakan apapun padaku. Jangan membuatku bingung, kau juga sedang hamil dan tidak boleh banyak pikiran."


"Ini karena ibu dan para tetangga yang awalnya curiga pada nak Lita." Ibu tiba-tiba masuk dan mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Maksud ibu?"


"Begini jadi awalnya ibu sempat meragukan nak Lita, takutnya kejadian seperti si Ratna terulang kembali. Tapi sekarang ibu sadar kalau nak Lita tidak mungkin seperti itu, dia juga selalu menjagamu saat kamu belum sadar, merawatmu dengan sangat baik dan juga sabar." Ibu segera meluruskan apa yang terjadi.


"Hiks hiks ... ibu, terimakasih sudah mau menerimaku."


"Sama-sama nak. Kau perempuan baik dan sangat cocok dengan Haris. Ibu titip Haris ya."


Mereka mengharu biru dan bersuka cita sekaligus.


Tibalah  saat ini aku tinggal berdua hanya dengan Jelita, memang benar dia sangat telaten mengurusku, mulai dari makan menyuapiku, dan tubuhku juga dibersikan setiap jengkalnya karena aku masih belum bolem mandi sebelum beanar-benar sehat.Tanpa rasa jijik dia membersihkan tubuhku. Aku sempat menolak tapi dia tetap memaksa, tapi benar juga lebih Jelita yang membersihkannya dari pada ibu. Bisa gawat kalau ibu lihat pentunganku.


"Ya ampun mas, lagi saki saja masih bisa berdiri gagah seperti ini. Tau nggak kalau saat mas masih tidur lama aku suka mainin ini kalau kangen, hihihi." Astaga apa aku sudah salah karena memuji Jelita tadi, dia rupanya hanya karena ingin melihat pentunganku setiap hari. Aku harap tidak dia apa-apa kan saat aku tidak sadar.


"Tenang saja mas, nggak aku masukin ke kue apemku kok. Cuma aku jil*t sedikit," ujarnya lagi membuatku menyegir kuda. Ternyata Jelita masih belum berubah, dia masih saja suka tidak tahan sendiri.


"Lalu apa kamu juga melakukan itu sendiri di sini?" tanyaku iseng, tidak mungkin kan Jelita melakukan itu.

__ADS_1


Ehh apa aku tidak salah lihat, pipinya memerah saat ini. Apa tebakanku benar. Aku melongo saat Jelita mempraktekan bagaimana dia melakukan hal itu sendiri, katanya dia menggunakan tanganku, lalu dia tuntun untuk menyentuh titik sensit*fnya sambil membayangkan kalau aku yang sedang melakukan hal itu. Sontak aku melihat tanganku sendiri sambil tersenyum miring.


__ADS_2