Ketulusan Hati Jelita

Ketulusan Hati Jelita
Bab 15. Mencoba Menjauh


__ADS_3

Sudah hampir seminggu ini aku menghindar dari tante Jelita, sudah tidak pernah lagi menunggu di depan hanya untuk melihatnya, atau pura-pura mengotak-atik motor sambil mengintip. Aku ingin mencoba melupakannya kalau bisa, agar aku bisa membuka hati untuk perempuan lain. Tak peduli gadis ataupun janda.


Di tempatku berkerjapun aku berusaha menghibur diri mencoba dekat dengan gadis-gadis yang sering mengirimku makanan ataupun hadiah. Ya aku berjanji pada mereka untuk memberi kesempatan untuk mendekatiku tapi hanya sehari saja, jadi dalam sehari aku akan menghabiskan waktu dengan satu wanita. Nah kalau nyaman aku teruskan, tapi kalau aku merasa tidak sreg maka cukup sehari itu saja. Mereka pun tidak keberatan, asal diberi kesempatan katanya. Padahal selama ini aku takut dianggap playboy kalau menanggapi mereka dan mereka sendiri yang akan tersakiti.


Namun nyatanya, mereka mendekatiku juga tidak semata-mata ingin serius denganku tapi dengan berbagai alasan. Ada yang hanya ingin mengajakku pamer pada mantan pacarnya, ada juga yang memintaku menemaninya menonton dan ada juga yang hanya memanfaatkanku meminta dibelanjakan ini itu, minta makan di restoran mahal. Bisa di bilang kantongku hampir menipis karena mereka, tapi aku cukup terhibur dan dengan begitu juga artinya mereka tak mengharapkan hal yang lebih dan tidak akan kecewa padaku.


"Hebat kamu Har, tiap hari pacarmu ganti-ganti. Biasanya kamu nggak mau menanggapi mereka, kenapa sekarang berubah." Pak Irwan menatapku heran, karna biasanya dia bangga padaku walaupun banyak gadis yang mendekatiku, aku sama sekali tidak memanfaatkan kesempatan untuk menjadi seorang buaya.


Aku tersenyum kikuk, lalu lanjut menghisap rokokku dan mengeluarkan asapnya hingga mengepul di depan wajahku. "Aku nggak macarin mereka semua kok pak," kataku, sebenarnya aku tak ambil pusing dengan penialaian orang lain. Tapi pak Irwan sudah seperti bapakku, kami sangat dekat dan sering saling curhat. Kecuali tentang perasaanku pada tante Jelita, tidak ada yang tau akan hal itu.


"Nggak pacaran gimana? Kalian kan sudah pergi berdua, apa namanya kalau nggak pacaran," ketus Pak Irwan, dari nada bicaranya dia sangat kecewa dengan tingkahku.


"Bener pak, aku cuma ngajak mereka jalan-jalan bergantian biar mereka senang tapi sebelumnya aku sudah menjelaskan kalau itu cuma sehari. Kalau aku sreg ya lanjut kalau nggak ya sudah sampai disitu saja. Mereka juga mau, yang penting bisa jalan berdua dengan ku katanya, setelah aku bilang kalau mereka harus mau hidup pas-pasan dan merawat ibu, mereka langsung mundur sendiri."


Seperti tebakanku memang, kalau gadis jaman sekarang ya maunya yang mengajak hidup enak dan mau apa-apa tinggal beli. Mana ada yang mau tinggal serumah dengan mertua, apalagi kalau diminta ngurusin mertua.

__ADS_1


"Ohh gitu toh, kirain kamu itu sama saja kayak si Roni. Gonta ganti terus sampai pacarnya ngamuk-ngamuk disini. Jadi kamu mau bikin mereka mundur alon-alon."


"Ya begitulah pak, aku nggak enak juga kalau mereka tiap hari mengirim makanan. Mau ditolak katanya nanti nolak rejeki, dibuang sayang, memang si bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan. Tapi mereka kan taunya aku yang makan."


"Ya sudah kalau emang rencanamu begitu, bapak dukung. Laah terus apa dari mereka semua nggak ada yang sama sekali sreg sama kamu?" tanya pak Irwan, nadanya sudah tidak seperti tadi. Dia sudah tidak marah lagi sepertinya.


"Belum ada pak," jawabku singkat. Selama aku jalan bersama para gadis itu aku sama sekali tidak bisa melupakan tante Jelita, aku malah sibuk membandingkan mereka.


"Sabar Har, belum jodohnya mungkin. Tapi kalau sudah ada yang cocok lebih baik bergerak cepat sebelum ada yang mendahului."


"Sebenarnya ada pak, yang aku merasa cocok dengannya tapi sepertinya aku ini bukan tipenya."


"Satu kurangku pak, kere alias nggak banyak uang." Kami pun tertawa bersama sambil menikmati kopi, gorengan dan rokok yang terus mengepul.


Kami berdua kebetulan jaga malam hari ini, aku paling suka kalau pas giliran jaga sama pak Irwan. Dia bisa diajak curhat dan nggak ember seperti si Roni, lalu pak Irwan juga sering memberiku nasehat dan sering menceritakan perjalanan pernikahannya yang ternyata juga banyak lika-likunya. Lumayan bisa untuk pelajaran ku kedepannya kalau sudah menikah. Pak Irwan ini yang paling senior di antara kami berempat, selain senior dalam hal umur dia juga yang paling lama bekerja sebagai scurity di sana. Dia juga tidak pelit dan sering membelikan makanan atau cemilan, tapi karena aku orangnya juga tidak enakan jadilah aku lebih suka bergantian dengan pak Irwan, Kalau hari ini dia yang beli, besok kalau kami jaga bareng lagi giliran ku yang beli.

__ADS_1


Berbeda kalau aku sedang berjaga dengan Roni atau pak Heri. Si Roni jelas pelit dan maunya gratisan terus jadi aku kadang malas beli banyak makanan, padahal gaji kita sama tapi dia jarang sekali keluar uang. Kalau pak Heri biasanya beliau bawa makanan dari rumah, istrinya rajin sekali membawakan bekal. Aku paham karena pak Heri itu anaknya banyak dan sudah pada sekolah, mungkin dia memang harus irit untuk kebutuhan lainya. Kadang kalau aku ada rejeki lebih, aku tidak akan sungkan membelikannya makanan enak seperti ayam goreng pinggir jalan misalnya karena aku perhatikan makanan yang di bawa pak Heri itu kadang itu-itu saja.


Kadang nasi goreng polosan, kalau enggak nasi dan oseng sayur yang katanya istrinya petik dari kebun sendiri.


Tepat jam dua malam, waktunya aku dan pak Irwan berkeliling. Meski sudah ada cctv di berbagai sudut tapi bos kami tetap mengharuskan kami untuk berkeliling. Maklum lah, banyak barang berharga di sana. Kalau sampai ada pencuri atau perampok bisa rugi banyak.


"Pak, denger nggak kayak ada suara di sebelah sana." Aku memasang telinga baik-baik, tanganku juga sigap mengambil pentungan yang ada di pinggangku.


"Iya Har, bapak juga denger. Gimana nih, apa kita kesana atau langsung lapor."


"Kita mesti lihat dulu pak, kalau bukan maling bagaimana?" kataku.


"Tapi karyawan sudah pulang semua Har, nggak ada yang lembur malam ini. Tapi mereka masuk lewat mana, temboknya kan tinggi juga ada ranjaunya dia atas."


Pertanyaanku sama, pasalnya setelah tembok keliling sudah di perbaiki dan diberi kawat berduri diatasnya, sudah tidak ada lagi maling masuk. Baru ini kalau memang itu maling. "Kita lihat dulu saja pak, tapi sebaiknya kirim pesan ke atasan kalau ada yang mencurigakan disini dan kita belum tau apa itu."

__ADS_1


"Iya betul, sebentar bapak kirim pesan dulu."


Setelah memberi tau bos kami, aku dan pak Irwan pun mencoba memeriksa apa yang sedang terjadi di sana.Kalau menuggu bantuan akan lama dan kalau itu memang penjahat pasti sudah lebih dulu kabur.


__ADS_2