
Aku dan pak Irwan begitu terkejut mendengar suara yang tidak biasa dari salah satu ruangan. Itu jelas bukan suara pencuri ataupun rampok yang sedang menjarah barang tapi suara yang lain. Aku menatap pak Irwan, apa mungkin hanya aku yang mendengarnya atau pak Irwan juga dengar.
"Sepertinya ada yang sedang berbuat nggak bener di sini, Har."
"Iya pak, bagaimana sekarang? apa kita langsung tangkap saja?" Jujur aku tidak tau mau berbuat apa, kalau saja yang di dalam sana adalah pencuri atau perampok aku pasti sudah masuk dan menghajar mereka. Tapi ini beda, jadi biar pak Irwan yang lebih tua saja yang menentukan.
Rupanya pak Irwan juga bingung, manusia tidak tau tempat seperti mereka itu akan mempermalukan diri sendiri karena sudah berani bertindak senonoh di lingkungan kerja.
"Ayo kita masuk sebelum orang-orang suruhan bos datang. Setidaknya kita suruh mereka berpakaian lebih dulu. Kalau sampai ada warga yang tau, mereka bisa jadi korban arak-arakan."
"Ayo pak, aku setuju."
Rupanya pak Irwan sangat baik dan juga bijaksana. Pada dua manusia yang sudah berbuat kotor di tempat kerja saja masih ia pikirkan kehormatan mereka.
Suara-suara itu terdengar semakin keras saat kami mendekat, mereka tidak akan tau kalau kami datang. Selain karena memang disana gelap gulita tapi kami juga tidak menyalakan senter. Takutnya mereka keburu kabur dan tidak punya efek jera kalau tidak diberi pelajaran.
"Lebih Cepat....."
"Husstt jangan keras-keras, kamu mau ketahuan. Pokoknya kita akan seperti ini sampai pagi. Engg..."
Suara khas dan decitan kursi bersahutan, aku merinding mendengarnya. Kok mau-maunya si cewek diajak begituan ditempat seperti ini. Apa mereka tidak takut kalau tiba-tiba ada setan yang melihat perbuatan mereka, ehh aku lupa kalau mereka juga sudah kesetanan jadi sampai melakukan hal itu di sembarang tempat.
__ADS_1
Aku lirik pak Irwan yang wajahnya tak setegang wajahku, mungkin karena pak Irwan sudah biasa melakukan hal itu dengan istrinya.
"Berhenti kalian!"
Kami berdua langsung menyalakan senter dan kami arahkan ke arah mereka yang keduanya nyaris tanpa busana. Tentu saja aku mendelik, biar bagaimana pun ini pertama kalinya melihat seorang wanita yang tidak memakai pakaian secara langsung, biasanya hanya dalam mimpi atau di situs xx. Untunglah pak Irwan sepertinyaa paham situasiku, dia yang lebih menangani mereka kali ini, jika biasanya kalau ada penjahat pasti aku yang akan berdiri paling depan kini aku lebih memilih menghindar.
Saat ini pasangan yang baru saja bertindak senonoh di tempat kerja sudah di amankan, mereka sudah berpakaian lengkap tanpa kurang satupun saat bos dan para ajudannya datang beserta dua polisi. Seperti kata pak Irwan tadi, saat mereka datang dua orang itu sudah berpakaian lengkap sehingga tidak ada kejadian mempermalukan atau arak-arakan yang menghebohkan.
"Jadi pak Irwan, apa anda melihat apa yang sedang mereka lakukan tadi?" tanya bos pada pak Irwan.
Aku lihat pak Irwan melirik sepasang kekasih itu, yang wanita sudah menangis sesenggukan sejak tertangkap tadi sementara si lelaki hanya menunduk malu.
"Mereka sedang berciuman," jawab pak Irwan yang membuatku cukup terkejut. Aku menatapnya penuh pertanyaan, kalau dia berbohong apa aku juga harus melakukan hal yang sama, tapi aku belum tau apa alasan pak Irwan berbohong.
"I--itu, seperti yang pak Irwan katakan bos. Aku juga melihat mereka sedang berciuman."
Si bos tersenyum miring, sepertinya tidak percaya pda apa yang kami katakan, ya siapapun pasti akan berpikir demikian. Apa lagi yang sepasang kekasih lakukan kalau hanya berdua di tempat yang gelap dan sepi, kadang di tempat yang terang dan banyak orang saja para anak muda sudah berani bermesraan sampai meraba-raba.
Sesi interogasi pun selesai, setelah menimbang dan memikirkan akhirnya si bos pun memutuskan untuk memecat mereka berdua dari pabrik ini. Aku setuju dengan keputusan bos kami, pak Irwan juga tampak setuju. Meski setelah di periksa tidak ada satupun barang yang hilang tapi tinggal di pabrik selain di jam kerja itu tidak dibenarkan dan sepertinya si bos juga sudah menebak apa yang mereka lakukan.
"Kalian beruntung karena cuma dipecat tidak sampai diarak keliling kota," kata pak Irwan pada mereka berdua. Saat ini aku dan pak Irwan masih menjaga mereka sampai ada keluarga yang menjemput.
__ADS_1
Pak Irwanlah yang sudah memberi saran seperti itu, aku juga belum tau apa rencananya.
"Terimakasih pak, karena bapak tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada pak bos."
Laki-laki itu merasa berhutang budi pada pak Irwan. Padahal aku juga ikut menutupi perbuatan mereka tapi dapat ucapan terimakasih saja tidak. Aku lebih memilih agak menjauh dari mereka, lebih baik merokok saja dari pda ada di dekat mereka dan jadi teringat kejadian tadi. Tampaknya si wanita juga sangat risih padaku, ya wajar saja karena aku sudah sempat melihat tubuh tanpa busananya. Salah sendiri melakukan hal seperti itu di sembarang tempat, bukannya hotel banyak di sekitar sini. Yang murah juga ada kata si Roni, meski banyak kecoa dan kamar mandinya di luar katanya. Tapi itu lebih baik dari pada di sini kan.
Entahlah, aku tidak habis pikir dengan mereka. Sayang sekali karena kenikmataan sesaat mereka jadi harus kehilangan pekerjaan, padahal si wanita adalah manajer produksi yang gajinya pasti lebih besar dariku dan si lelaki bawahannya. Mungkin itu yang dinamakan cinta lokasi. Semoga saja setelah ini mereka jadi suami istri kalau tidak,rugi banyak kan si wanitanya.
Sudah hampir jam empat pagi, beberapa kali aku sudah menguap karena kantuk. Jika biasanya kami yang jaga akan bergantian tidur sebentar setelah keliling tapi karena kejadian itu aku dan pak Irwan sama sekali tidak tidur. Sampai sekarang keluarga mereka belum juga datang, asal mereka cukup jauh ternyata. Aku masih setia duduk di dekat pintu dari tadi, sudah habis setengah bungkus rokok aku karena tidak ada kerjaan. Sedangkan pak Irwan masih menceramahi mereka berdua.
"Itu sepertinya keluarga kalian," seruku pada mereka bertiga. Akhirnya mereka datang juga, aku jadi bisa istirahat sebentar setelah ini dan aku juga sudah penasaran dengan rencana pak Irwan.
Ternyata, semuanya tidak seperti yang aku bayangkan. Setelah keluarga mereka datang, mereka tak langsung pergi tapi malah meluapkan kemarahan dan kekecewaan mereka pada putra dan putri mereka. Pak Irwan menceritakan semua menggunakan bahasa yang sopan pada para orang tua. Tamparan 'Plaak' dan teriakan bercampur tangis pun memenuhi ruangan itu.
Aku sama sekali tak berani ikut campur, aku serahkan semuanya pada pak Irwan. Sampai saat pak Irwan mengucapkan kalimat yang membuatku membuka mata lebar-lebar.
"Nikahkan mereka sekarang juga pak, bu. Setelah apa yang mereka lakukan bukankah sebaiknya mereka menikah secepatnya."
Belum sempat orang tua mereka menjawab, tiba-tiba di luar terdengar keributan. Aku pun segera melihat, ternyata mereka menanyakan pasangan yang tadi ketahuan me*** di pabrik. Aku heran mereka bisa tau dari mana, atau sepertinya anak buah bos ada yang menceritakan hal itu pada warga. Aku pun mencoba menenangkan warga agar tidak terbawa emosi. Sungguh pengalaman yang tidak akan aku lupakan. Menghadapi warga seperti orang yang sedang berdemo sungguh membuatku kewalahan.
"Tenang bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, mereka sudah mendapatkan pelajaran dan juga sudah di pecat dari pabrik ini. Baru saja saya juga menjadi saksi pernikahan mereka." Tiba-tiba pak Irwan datang bersama para orang tua pasangan yang tadi digerebeg.
__ADS_1
Para warga pun akhirnya membubarkan diri setelah mendengarkan permintaan maaf orang tua kedua anak itu. Dua anak itu juga selamat dari kemarahan warga.
Pak Irwan sangat mengagumkan malam ini, beliau bertindak sangat perhitungan dan bijaksana. Coba saja kalau tadi pasangan itu diarak pasti bukan hanya mereka yang malu tapi ada orang tua mereka juga yang menanggungnya, nama pabrik juga pasti tersebar luas karena hal yang buruk.