
Masih menjadi misteri hubungan pak Irwan dengan istri siri bos. Aku juga tidak terlalu ingin tau lebih banyak. Kata orang, terlalu banyak tau kadang-kadang tidak bagus juga.
Hari-hari ku sekarang jadi tidak tenang saat bekerja. Karena sejak saat itu istri bos jadi sering datang ke pabrik bersama bos tentunya. Keadaan pun jadi membuatku tidak nyaman, padahal aku sudah suka pekerjaan itu dan aku juga sudah nyaman dengan rekan dan juga gaji yang menurut ku pas.
Aku menghela nafas panjang, saat lagi-lagi wanita itu mencuri kesempatan untuk mencari kepuasan. Meski tidak sampai seperti waktu itu karena tidak memungkinkan tapi membuat ku cukup muak dan ingin keluar dari pekerjaan itu. Tapi di jaman sekarang ini mencari pekerjaan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Masa iya pekerjaan yang sudah ada di tangan harus aku lepaskan.
Aku sudah coba bercerita pada pak Irwan, beliau pun tidak punya solusi. Sepertinya dia juga pernah mengalami hal serupa dulu. Antara pekerjaan atau harga dirinya, apalagi pak Irwan sudah beristri yang otomatis perbuatannya itu termasuk perselingkuhan meskipun terpaksa. Tapi aku paham, pak Irwan yang sudah punya anak dan berkeluarga pastilah berat untuk melepaskan pekerjaan. Dan akhirnya sampai sekarang dia masih bertahan. Cukup mengagumkan, atau mungkin pak Irwan juga ikut menikmatinya. Aku tidak tau, aku sudah cukup pusing memikirkannya.
Sementara hubungan ku dengan Tante Jelita belum ada kemajuan karena ibu yang selalu saja mendesak ku agar mendekati putri Bu Yuli.
Aku masih merahasiakan semuanya dari Tante Jelita, tentang rencana ibuku dan kejadian yang menimpaku di pabrik. Aku tidak tega memberitahu nya, biarkan saja lah aku selesaikan sendiri masalah ku satu-persatu.
"Ris, ibu sama Bu Yuli sudah sudah memesan tempat di restoran yang sedang viral di sosmed. Nanti kamu sama Ratna ketemu di sana," ujar ibuku begitu semangat menjodohkan kami berdua.
"Ibu emang tau apa itu sosmed?" tanyaku, entah belajar dari mana ibuku tentang istilah kekinian itu. Handphone saja ibuku masih ketinggalan jaman, bukan aku tidak mau membelikan tapi ibuku saja yang tidak mau menggunakan smartphone.
__ADS_1
"Ya itu kata Bu Yuli, tadi ibu lihat potonya. Bagus tempatnya. Kalian pasti nyaman ngobrol di sana."
"Bu, anaknya Bu Yuli kan lulusan pondok pesantren. Apa dia mau pergi berdua dengan ku?"
"Nggak apa-apa yang penting bukan di tempat sepi. Tempatnya kan rame dan banyak orang, jadi nggak masalah kalau kalian pergi berdua."
Ibuku sedang sibuk memilihkan kemeja untukku. Dia sudah heboh sejak tadi, menyiapkan ini itu.
"Oalah Bu, yang namanya setan kan ada dimana-mana. Mau tempatnya rame, kalau tiba-tiba ada yang bisikin ya bisa saja terjadi sesuatu," kataku, berharap ibu mengurungkan niatnya. Sebenarnya aku sedang malas keluar.
"Dasar ibu, ngebet banget pengen mantu." Aku menggerutu tanpa mendengarkan apa yang ibu katakan. Banyak sekali aturan yang harus aku ikuti hanya untuk bisa bertemu dengan gadis itu. Ibu kenapa nurut aja. Apa begini mantu idaman ibu, belum jadi mantu saja sudah menyusahkan.
Sore pun tiba, tepatnya pukul empat sore waktu yang sudah diatur ibuku dan Bu Yuli. Aku berangkat dari rumah langsung ke restoran yang di bicarakan ibu. Ternyata kami tidak perlu berangkat bersama dan rencananya langsung bertemu di restoran saja. Kebetulan sekali jadi aku tidak perlu membonceng wanita lain dengan motor kesayangan ku.
Tiba di restoran, aku langsung bertanya pada pelayan. Meja yang sudah di pesan ibuku. Aku melihat sekeliling, benar kata ibu. Tempatnya sangat ramai dan kalau tidak memesan dulu sebelumnya, tidak akan dapat tempat duduk.
__ADS_1
Ternyata meja yang ibu dan Bu Yuli pesan ada di luar ruangan. Di meja-meja kecil yang atasnya ditutupi payung besar. Aku pun langsung menuju kesana. Masih kosong, itu berarti gadis itu belum datang. Aku bisa merokok sambil menunggunya datang. Kalau dia sudah datang pasti tidak akan suka melihat ku merokok.
Sekitar sepuluh menit kemudian. Dari kejauhan aku melihat putrinya Bu Yuli baru saja datang. Seperti saat pertama kali aku melihatnya, dia menggunakan gamis dan jilbab. Meski begitu, aku akui kalau dia tetap terlihat cantik walaupun menutupi seluruh tubuhnya. Auranya justru makin terpancar.
Kulihat dia kebingungan, mungkin karena tempat itu yang semakin ramai. Aku pun mengangkat tangan dan melambai padanya. Gadis itu melihatnya dan berjalan ke arah ku.
"Maaf membuat mas Haris menunggu lama," ujarnya.
Aku tersenyum tipis, "Nggak apa-apa, santai aja."
Kami sudah duduk berhadapan, saling diam dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang memulai percakapan, keduanya masih canggung. Tentu saja, mereka saja baru pertama bertemu sekali waktu itu.
"Mmmm... begini dek Ratna, apa kamu tau rencana ibuku dan ibumu? Mereka ingin kita menikah, bagaimana menurutmu?" Aku langsung bertanya pada intinya saja. mau berbasa-basi apalagi, lebih baik bicarakan langsung.
"Saya setuju mas..."
__ADS_1
Hah!!