
Aku masih setengah syok karena menemukan uang kertas pecahan seratus ribu begitu banyak di saku celanaku. Entah berapa jumlahnya, aku belum menghitung nya. Tadi aku memberi Roni selembar, lalu aku segera memasukkan nya lagi. Tidak ingin membuat Roni curiga, dia pasti akan bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan uang yang sangat banyak.
Roni pun langsung pergi membeli rokok ke warung. Setelah dia pergi aku pun menghitung jumlah uang yang ada di saku celana ku.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, .... -- dua puluh? Ada dua puluh lembar, dua juta?"
Ohh ya ampun, apa ini bayaran atas apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku merasa jadi pria bayaran. Aku merasa tidak bisa menerima uang itu dan akan mengembalikan uang itu pada wanita itu. Aku tidak serendah itu sampai menerima bayaran setelah melakukan hal seperti itu. Tapi apa dia tidak akan marah kalau aku kembalikan uang pemberian nya.
Setelah lama berpikir, tekad ku pun sudah bulat ingin mengembalikan itu. Tapi baru setengah perjalanan menuju kantor aku terhenti lagi. Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku mengembalikan uang itu. Wanita itu pasti akan mengancamku lagi dan bisa meminta hal aneh lagi. Lebih baik kuurungkan niatku. Baiklah anggap saja ini uang lelah.
Malam semakin larut, orang-orang kantor pun pulang. Kecuali bos dan istrinya yang masih belum keluar. Mungkinkah mereka melakukan hal itu di kantor? Bukankah mereka masih punya rumah dan bisa bebas melakukan hal itu di rumah. Tidak habis pikir dengan pemikiran mereka. Bukan urusan ku juga mereka mau apa.
"Kenapa bos dan istrinya belum keluar juga?" tanya Roni mulai ingin tau.
"Biarkan saja, bos kan yang punya pabrik ini. Mau keluar atau tidak juga urusan mereka," jawabku.
__ADS_1
Aku kembali menikmati makan malam ku yang cukup lezat malam ini. Nasi Padang dengan lauk yang lengkap. Aku belikan untuk Roni, pak Irwan dan juga untuk pak .... Sesekali aku traktir semuanya, mumpung baru saja dapat uang banyak.
Tak lama, pak Irwan dan pak ... datang untuk menggantikan sift kami.
"Pak, tadi aku belikan nasi Padang," kataku.
"Waahh, baru dapat rejeki nomplok nih kayaknya," sahut pak Irwan. Ehh kok dia sepertinya tau kalau aku baru dapat uang banyak.
"Iya tuh, Haris. Dia baru saja dapat tips dari bos." Bener kan, Roni paling tidak bisa menyimpan rahasia. Pak Irwan dan pak ... menatap ku curiga.
Aku pun tersenyum kikuk, apalagi pada pak Irwan yang langsung menatapku penuh tanda tanya. Kebetulan aku juga mau menayangkan beberapa hal pada pak Irwan.
"Apa ada yang mau kau tanyakan?" tanya pak Irwan tiba-tiba. Membuat ku berpikir apa mungkin pak Irwan mempunyai semacam indra ke enam dan bisa membaca pikiran ku.
"Itu pak mengenai istri mudanya bos yang tadi ikut kemari, benar kata pak Irwan kalau dia itu sangat susah dilayani dan banyak maunya. Aku sudah berusaha cepat membelikannya makanan tapi tetap saja dibilang lama, lalu mengancamku akan melapor pada bos." Hanya itu yang berani aku ceritakan, sisanya akan aku simpan aibku sendiri.
__ADS_1
"Apa kau mengingat semua yang aku katakan?" tanya pak Irwan.
Aku mengangguk, "Iya pak,saya ingat dan mengikuti saran bapak. Terimakasih, karena saran pak Irwan aku jadi tau apa yang harus aku lakukan.
Pak Irwan lalu tersenyum sendiri. "Dia mengincar mu rupanya," katanya ambigu, aku sama sekali tidak mengerti.
"Kau berhasil memuaskan nya dan tidak di pecat, kau mengikuti saranku dengan baik. Kebanyakan sebelum kamu, pasti akan di pecat dengan tuduhan yang memalukan."
"Pak ir--Irwan tau kalau tadi aku..."
Aku gugup, bagaimana kalau pak Irwan melapor ke bos. Sia-sia yang aku lakukan tadi.
"Aku tau, aku sudah bekerja di sini saat gedung ini baru di bangun dan sebelum bos menikah lagi dengan wanita itu." "Kau pasti ketakutan tadi, maaf bukannya aku tidak mau memberitahu sejak awal tapi sekali lagi aku tidak ingin menyebarkan aib orang lain. Tapi aku bisa memberimu peringatan."
Aku kembali tercengang, pak Irwan tau semuanya. Apa artinya sebelum aku ada juga orang lain? Atau bahkan pak Irwan pernah merasakannya juga.
__ADS_1
Aku teringat perkataan istri bos, meski lirih tapi aku masih mendengar nya.
'Ohh... kau laki-laki ke dua yang bisa memuaskan ku. Andai saja Irwan masih muda dan kuat seperti dulu, aku pasti tidak akan mencari orang lain setiap kali ingin. Ohhh aku merindukan sentuhan mu... Irwan... '